Berita

Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun/Net

Politik

Tidak Berpedoman Pada Survei Untuk Tentukan Capres, Megawati Tinggalkan Ganjar?

SABTU, 18 SEPTEMBER 2021 | 18:56 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Sikap Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang tidak akan berpedoman pada hasil survei dalam menentukan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden pada Pilpres 2024, membuktikan bahwa partai politik memainkan peran vital bagi tokoh yang ingin menjadi pemimpin bangsa.

Apalagi, kata Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, saat ini masih berlaku ambang batas pencalonan atau presidential threshold sebesar 20 persen. Bagi dia, syarat inilah akar masalah demokrasi saat ini.

"Dengan presidential threshold 20 persen, kekuatan utama untuk masuk dalam babak pertarungan awal pilpres akhirnya bukan lah elektabilitas, tapi ditentukan partai politik," kata Rico Marbun kepada Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (18/9).


Di internal PDIP contohnya, Rico melihat sosok Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang unggul dalam berbagai lembaga survei elektabilitasnya stabil di tiga besar tokoh potensial diusung pada Pilpres 2024.

Lanjutnya, jika benar Megawati nantinya mengesampingkan hasil survei, maka benar dugaan publik bahwa PDIP menyiapkan Puan Maharani sebagai calon presiden yang elektabilitasnya jauh di bawah Ganjar.

"Kan biarpun elektabilitas Ganjar tinggi tapi kalau dia tidak punya tiket ya, dia tidak akan maju," katanya.

Jika cara cara Megawati mengesampingkan hasil survei ditiru partai politik lain, kata Rico lagi, maka kerugian seperti dialami Ganjar juga akan dialami tokoh potensial lain untuk maju di Pilpres 2024.

"Begitu juga akan merugikan rakyat, karena terhalang untuk memilih kandidat yang mereka anggap berkualitas," pungkasnya.

Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan, untuk menjadi presiden, wakil presiden, atau menteri pasti ada campur tangan Tuhan. Termasuk juga masukan suara rakyat.

Hasto menyadari sejumlah lembaga survei sudah merilis hasil riset mengenai elektabilitas beberapa kader PDIP. Namun ia memastikan partainya tidak akan menjadikan elektabilitas seseorang sebagai alat ukur.

Dia mengingat pesan Megawati bahwa menjadi presiden itu mudah, tetapi menjadi pemimpin yang sangat sulit. Sebab, di tangannya bergantung hajat hidup 270 juta lebih rakyat Indonesia.

"Untuk menjadi presiden, banyak faktornya. Dan bagi Bu Mega hal tersebut juga dilakukan dengan kontemplasi, memohon petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Karena itulah tradisi itu dijalani Bu Mega," tandasnya.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kapal-kapal yang Tertinggal

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:55

Teriakan ‘Bapak Aing’ Sambut Kirab Milangkala Tatar Sunda

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:36

Kebahagiaan Mahasiswa Baru

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:20

Pemerintah Mestinya Terbuka soal Harga Keekonomian BBM Bersubsidi

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:59

Nelayan Tradisional Soroti Tiga Isu Mendesak Masyarakat Pesisir

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:45

ASEAN dan Tantangan Ketahanan Energi Kawasan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:25

Eks Wakapolda Sulsel Jabat Kapolda Sulteng

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:59

KIOTEC Kunjungi Korsel Perkuat Kapasitas SDM Kelautan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:40

Meritokrasi dan Integritas dalam Promosi Perwira Tinggi TNI-Polri

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:28

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya