Berita

Penulis Moazzam Begg/Net

Dunia

Kisah Kelam Penulis Inggris-Pakistan, Disiksa Pasukan AS di Penjara Bagram dan Guantanamo karena Dituding Antek Al-Qaeda

JUMAT, 03 SEPTEMBER 2021 | 10:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sebuah kisah kelam dan horor di balik 'Perang Melawan Teror' AS di Afghanistan diceritakan kembali oleh Moazzam Begg. Penulis berdarah Inggris-Pakistan ini telah disiksa oleh pasukan AS di penjara Bagram Afghanistan dan Teluk Guantanamo.

Lewat program 'Ghost of War' yang dirilis media Rusia, RT, ia mengungkap kembali cerita yang ia alami sendiri yang hingga sampai saat ini membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.

Begg lahir di Inggris dari orang tua Pakistan, ia kemudian pindah ke Afghanistan yang dikelola Taliban bersama keluarganya pada Juli 2001. Setelah invasi AS, mereka mencari perlindungan di Pakistan.  


Pada Februari 2002, pihak berwenang Pakistan menangkapnya dan menyerahkannya kepada pasukan AS, tanpa proses hukum sama sekali.

Tahun berikutnya, dia kemudian ditahan di Bagram, sebuah kamp penjara terkenal di sebelah pangkalan udara yang sekarang ditinggalkan AS.

Ditahan selama setahun di Bagram dia mengaku menyaksikan sendiri bagaimana dua orang dipukuli sampai mati oleh tentara AS.  

Penyelidikan militer AS berikutnya menemukan bahwa penyebab kematian kedua pria tersebut, yang diidentifikasi sebagai Dilawar dan Habibullah, memang pembunuhan.

“Bagi saya tempat ini melambangkan apa yang dilakukan AS di Afghanistan,” katanya kepada RT.  

“Mereka membawa orang ke tempat penyiksaan ini – orang Afghanistan, orang Afghanistan biasa – dan menyalahgunakan mereka di luar aturan hukum, dan kemudian mengizinkan beberapa dari mereka untuk pulang. Dan mereka akan pulang dan memberi tahu orang-orang 'ini yang dilakukan orang Amerika'," katanya.

Pada Februari 2003, Begg lalu dikirim ke Teluk Guantanamo, daerah kantong yang dikuasai AS di Kuba di mana sebuah kamp telah dibangun untuk 'pejuang musuh' yang ditangkap dalam apa yang disebut Perang Global Melawan Teror.

“Kami ditelanjangi, kami dipukuli, kami diludahi, kami dihina, foto-foto kami diambil,” ungkapnya.

Para penculiknya juga memainkan suara dari kamar sebelah yang menunjukkan bahwa istrinya sedang disiksa di sana, dan menunjukkan kepadanya foto-foto anak-anaknya.

 "Apa yang mereka ingin saya lakukan adalah menandatangani pengakuan bahwa saya adalah anggota Al-Qaeda, padahal saya bukan," ujar Begg.

Di antara sesama narapidana ada beberapa anggota Taliban, yang katanya sekarang adalah tokoh senior di Imarah Islam Afghanistan yang baru, diproklamirkan setelah pemerintah yang didukung AS runtuh pada pertengahan Agustus.  

Pada satu titik di penangkaran Guantanamo, Begg mengatakan dia berhenti menganggap dirinya sebagai manusia dan mulai menyebut dirinya 588, nomor yang diberikan kepadanya.  

Begg dibebaskan pada Januari 2005 dan dikirim ke Inggris. AS tidak pernah menuduhnya melakukan kejahatan apa pun.

Dibalik kerasnya tindakan tentara selama ia dipenjara di Guantanamo, beberapa penjaga Amerika memperlakukannya dengan kasih sayang, berbicara dengannya, memberinya cokelat, dan terkadang membiarkannya menonton film di pemutar DVD selundupan.

Begg menyebut itu "tindakan kecil kemanusiaan yang tidak pernah saya lupakan sampai hari ini."

 â€œSaya meninggalkan Guantanamo tidak membenci Amerika karena tentara itu,” katanya kepada RT.

Begg menambahkan bahwa beberapa tentara AS telah menulis kepadanya setelah itu, mengatakan bahwa perang menghancurkan mereka dan bahwa mereka tidak bisa tidur di malam hari.

Perang selama 20 tahun di Afghanistan memang telah menelan banyak nyawa, termasuk sekitar 15.000 tentara dan kontraktor AS, dan menurut proyek Costs of War, dua kali jumlah tersebut telah melakukan bunuh diri.

“Ini kekalahan, ini kekalahan militer, bagaimanapun Anda ingin melihatnya,” kata Begg tentang penarikan AS dan NATO dari Afghanistan.

"Keangkuhan kekaisaran tidak akan membiarkan Barat menerima hasil ini dan bergerak maju," demikian Begg.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya