Berita

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira/Net

Politik

Sri Mulyani Melihat Persoalan Secara Parsial, Lalu Dibandingkan Dengan Overclaim Semu

KAMIS, 02 SEPTEMBER 2021 | 11:27 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Klaim Menkeu Sri Mulyani Indrawati yang menyebut ekonomi Indonesia sudah pulih karena mengalami pertumbuhan 7,07 persen, dibanding negara tetangga Malaysia dan Singapore yang belum pulih dinilai bukan perbandingan yang sepadan.

"Klaim pemerintah cenderung melihat persoalan secara parsial kemudian dibandingkan overclaim keberhasilan yang semu," kata Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu, Kamis siang (2/9).

Dia mengurai bahwa Malaysia masih mengalami kontraksi karena mereka memberlakukan lockdown ketat sejak 1 Juni 2021 lalu, sehingga prioritas adalah kesehatan dan keselamatan warganya.


Begitu juga Singapura yang merespons cepat varian delta Covid-19 dengan melakukan pembatasan ketat.

Sementara Indonesia justru terbilang telat dalam menetapkan PPKM Darurat tertanggal 3 Juli 2021 ketimbang Malaysia dan Singapura. Itupun, ketika lonjakan kasus Covid-19 sudah naik sejak minggu kedua Juni.

"Ada kesan pemerintah ingin menjaga pertumbuhan tinggi di kuartal ke-II 2021. Misalnya dengan pembukaan tempat wisata secara prematur, sehingga kesulitan lakukan tracing. Padahal negara lain sedang bersiap hadapi lonjakan kasus gelombang kedua dan ketiga," katanya.

Menurut Bhima, selain pemerintah lebih mementingkan ekonomi jangka pendek, kualitas pertumbuhan ekonomi di kuartal ke-II 2021 sebenarnya rendah. Hal itu setidaknya terlihat dari sektor pertanian yang menyerap 29,5 persen tenaga kerja hanya tumbuh 0,38 persen di periode tersebut.

Kemudian pertumbuhan sektor industri manufaktur juga lebih rendah dari pertumbuhan sektor jasa. Sementara yang naiknya tinggi adalah jasa transportasi, jasa terkait pariwisata, seperti perhotelan dan restoran.

"Itu pun temporer sifatnya," tegas Bhima.

Atas dasar itu, Bhima menyarankan sebaiknya pemerintah saat ini fokus saja soal serapan anggaran kesehatan dan meningkatkan belanja perlindungan sosial. Sebab, ketika PPKM diberlakukan itu sebetulnya tidak ada klaim lagi ekonomi bisa tumbuh 7 persen.

"Repot kalau hanya patokan di kuartal ke II tanpa persiapkan tantangan lebih berat yang datang dari tapering off bank sentral AS, risiko imported inflation (inflasi karena harga barang impor naik), dan pemulihan ekonomi yang uneven atau tidak merata di semua sektor," pungkasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengklaim ekonomi Indonesia sudah membaik (rebound) dibandingkan tahun lalu yang kontraksi parah. Dia membandingkan Malaysia hingga Singapura yang belum bernasib sama.

Ditambahkan Sri Mulyani, ekonomi kuartal II 2021 melesat 7,07 persen secara tahunan (year on year). Namun, tidak semua negara yang sempat terkontraksi ekonominya, mengalami perbaikan (rebound) seperti Indonesia.

"Apakah dengan adanya kontraksi ekonomi menjamin rebound? Ternyata tidak. Lihat Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. GDP (produk domestik bruto) mereka di kuartal II 2021 belum bisa melewati kondisi sebelum Covid-19," katanya dalam Pembukaan dan Seminar Nasional Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) 2021 secara daring, Selasa (31/8) lalu. 

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya