Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Di Perbatasan Turki, Warga Afghanistan yang Melarikan Diri Disambut dengan Dingin

JUMAT, 27 AGUSTUS 2021 | 10:28 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Situasi yang terjadi di Afghanistan telah menarik simpati dunia. Beberapa negara di Eropa bahkan bersiap membuka diri untuk membantu Afghanistan dan membuka pintu bagi warganya yang ingin meninggalkan negara itu.

Namun, tidak demikian dengan Turki yang sejak awal telah menekankan tidak bisa lagi menerima migran.

Presiden Recep Tayyip Erdogan pada pekan lalu telah memastikan hal itu. Sejauh ini, Turki telah menampung 3,7 juta warga Suriah, populasi pengungsi terbesar di dunia, juga menampung ribuan pengungsi Afghanistan sejak satu dekade belakangan.


Namun, Turki juga tidak bisa mengabaikan adanya kemungkinan para migran itu lolos masuk.

Banyak warga Turki yang mengeluh ketika video di media sosial memperlihatkan setelah kejatuhan Afghanistan oleh Taliban, orang-orang Afghanistan berupaya masuk Turki tanpa hambatan, membuat gundah suasana hati di tengah kesulitan ekonomi yang kian mencekik.  
"Ketika Turki bersiap untuk kemungkinan masuknya pengungsi yang melarikan diri dari Afghanistan setelah pengambilalihan Taliban, kekhawatiran atas dampak potensial semakin meningkat - didorong oleh kebencian yang bernanah atas pengungsi yang sudah berlindung di negara itu," tulis Reuters, Kamis (26/8).

Pemuda bernama Ramazan Baran duduk di luar kedai teh di Provinsi Van di timur Turki sejak pagi. Ia menunggu kalau-kalau ada pekerjaan konstruksi yang bisa ia dapatkan. Namun, katanya, migran Afghanistan yang telah bercokol di wilayah itu sejak lama, telah merampas lahan pencahariannya, karena mereka bersedia dibayar murah.  

"Kami duduk di kedai teh ini sepanjang hari. Kami datang ke sini dari jam 6 sampai jam 8 dan tidak ada yang mendapatkan pekerjaan," kata Baran.

Baran tidak sendiri. Ada belasan pria lain dengan keluhan yang sama.

Para pejabat mengatakan sekitar 300.000 warga Afghanistan telah berada di Turki, sebagian telah berada di sana selama beberapa tahun. Dari jumlah itu, sebanyhak 120.000 orang tinggal secara tidak resmi. Oposisi mengatakan jumlahnya jauh lebih tinggi.

"Turki tidak dapat lagi menerima beban migrasi, baik dari Suriah maupun Afghanistan," kata Erdogan.

Dia juga memperingatkan para pemimpin Uni Eropa bahwa Turki tidak akan menjadi "unit penyimpanan migran" bagi warga Afghanistan yang mencoba mencapai Eropa.

Baran adalah salah satu dari sekitar 20 orang di Van yang mengatakan bahwa Turki harus berhenti menerima migran dan mengirim kembali orang-orang yang sudah berada di negara itu, tulis Reuters.

Gelombang migran juga menimbulkan ancaman keamanan dan kecemburuan sosial. Di ibu kota Ankara bulan ini, kerumunan orang Turki menyerang toko-toko dan rumah-rumah milik warga Suriah setelah perkelahian yang menyebabkan seorang pemuda Turki ditikam hingga tewas.

Turki telah memperkuat perbatasan dengan Iran untuk mencegah migran Afghanistan. Namun, beberapa masih lolos. Polisi juga menahan ribuan migran Afghanistan yang sudah berada di negara itu dalam beberapa pekan terakhir.

Mereka dibawa ke pusat repatriasi tetapi mereka saat ini tidak dikirim kembali karena kekacauan di Afghanistan.

Pekan lalu, oposisi utama Partai Rakyat Republik (CHP) memasang spanduk raksasa di gedung-gedungnya, bertuliskan "Perbatasan adalah kehormatan".

"Bagaimana ribuan orang Afghanistan melintasi perbatasan dan datang ke Turki, dan siapa yang mengizinkannya?" kata Pemimpin CHP Kemal Kilicdaroglu, yang menduga ada kesepakatan baru yang dilakukan pihak-pihak dengan imbalan uang, mirip dengan perjanjian Turki 2016 dengan Uni Eropa untuk membendung aliran migran ke Eropa dengan imbalan miliaran euro untuk proyek-proyek pengungsi.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya