Berita

Uighur/Net

Dunia

Terpinggirkan, Uighur di Afghanistan Takut Dideportasi Taliban ke China

KAMIS, 26 AGUSTUS 2021 | 08:22 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kedekatan yang dijalin antara China dan Taliban dalam beberapa waktu terakhir menjadi momok menakutkan bagi sekitar 2.000 warga Uighur di Afghanistan, yang hampir tidak mendapat perhatian selama perkembangan situasi di sana.

Setelah Taliban mengambil alih negara, orang-orang Uighur yang tinggal di Afghanistan mengaku takut jika mereka akan dideportasi ke China, dan akhirnya mengalami persekusi oleh Beijing.

Ada sekitar 80 keluarga Uighur yang saat ini tinggal di Kabul. Salah satunya suami-istri yang telah tinggal di Afghanistan selama lebih dari 10 tahun. Sang istri mengaku takut dengan tindakan represi Taliban yang memperlakukan wanita dengan buruk. Mereka juga khawatir akan dipulangkan ke China karena memiliki status sebagai migran.


"Saya takut mereka akan datang mencari saya karena saya 'milik China'. Mungkin mereka bisa membunuh saya, atau mereka bisa mengembalikan saya ke China," ujarnya, seperti dimuat RFA, Kamis (26/8).

Seorang Uighur yang lahir di Afghanistan, Mamat, mengungkap keadaan di Kabul sangat kacau. Ketika semua negara mengevakuasi warganya, orang-orang Uighur seakan menunggu nasib.

"Kazakhstan membawa orang Kazakh keluar dari Afghanistan, Uzbekistan mengeluarkan orang Uzbek, Turki dan semua negara lain membawa pergi warganya sendiri, tetapi tidak ada yang bertanya tentang bagaimana keadaan kami. Tidak ada yang membantu kami," tuturnya.

Menurut keterangan seorang Uighur di Turki yang mendapatkan informasi dari kerabatnya di Mazar-e-Sharif, para pejuang Taliban telah masuk ke rumah-rumah dan menculik para gadis.

"Di sana menakutkan. (Taliban) mengejar putri mereka, ingin memaksa menikahi mereka, dan membawa mereka pergi," ungkapnya.

Selain itu, meski mengaku sebagai migran Turkestan China, orang-orang Uighur di Afghanistan takut lantaran banyak dari dokumen mereka telah kadaluarsa.

“Kami sangat prihatin dengan situasi Uyghur di Afghanistan. Saya bekerja untuk membawa orang ke Pakistan, tetapi bahkan mereka yang berhasil ke sana masih dalam situasi bermasalah,” kata Omer Khan, pendiri Omer Uyghur Trust yang berbasis di Pakistan.

“Pesawat datang dari Turki, Jerman, dari Amerika Serikat. Mereka membawa orang Afghanistan keluar, tetapi mereka tidak membawa orang Uyghur," tambahnya.

China sendiri menggunakan taktik dengan memasukkan orang Uighur di Afghanistan sebagai anggota Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM). Beijing menyebut ETIM sebagai kelompok separatisme yang berbahaya.

Amerika Serikat (AS) juga menempatkan ETIM sebagai organisasi teroris pada 2002 atas permintaan China. Pasalnya ketika itu Washington berusaha mendapatkan pengaruh Beijing untuk menggulingkan Taliban setelah serangan 9/11.

Tetapi pada Oktober 2020, Departemen Luar Negeri AS mencabut ETIM dari daftar organisasi teroris karena tidak adanya bukti.

Seorang peneliti Indo-Pasifik di Dewan Kebijakan Luar Negeri Amerika, Michael Sobolik menjelaskan, Partai Komunis China kerap menggunakan ETIM sebagai alasan untuk membenarkan kampanye melawan Uighur.

"Pendakian Taliban, ditambah dengan penarikan kami (AS) yang ceroboh, bisa menimbulkan bencana bagi Uighur," kata Sobolik.

Selama beberapa tahun belakangan, kelompok-kelompok hak asasi manusia, organisasi internasional, dan banyak negara menyoroti dugaan kekerasan dan genosida yang dilakukan oleh China terhadap minoritas Uighur di Xinjiang.

Sebuah laporan menyebut, 12 juta Uighur di Xinjiang menjadi target asimilasi sistematis, kerja paksa, hingga sterilisasi sejak 2017. Bahkan 1,8 juta orang Muslim etnis Uighur dan Turki ditahan di kamp-kamp.

Di sisi lain, saat ini China telah terlibat dengan Taliban secara diplomatis. Beijing telah menyatakan komitmen untuk mendukung Taliban melakukan rekonstruksi di Afghanistan, meski tidak ada janji seputar pengakuan rezim kelompok itu.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Tak Pelihara Buzzer, Prabowo Layak Terus Didukung

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:14

Stasiun Cirebon Dipadati Penumpang Arus Balik Nataru

Jumat, 02 Januari 2026 | 04:00

SBY Pertimbangkan Langkah Hukum, Mega Tak Suka Main Belakang

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:34

Pilkada Lewat DPRD Cermin Ketakutan terhadap Suara Rakyat

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:26

Jika Mau Kejaksaan Sangat Gampang Ciduk Silfester

Jumat, 02 Januari 2026 | 03:01

Pilkada Lewat DPRD Sudah Pasti Ditolak

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:37

Resolusi 2026 Rismon Sianipar: Makzulkan Gibran Wapres Terburuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:13

Kata Golkar Soal Pertemuan Bahlil, Dasco, Zuhas dan Cak Imin

Jumat, 02 Januari 2026 | 02:10

Penumpang TransJakarta Minta Pelaku Pelecehan Seksual Ditindak Tegas

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:38

Bulgaria Resmi Gunakan Euro, Tinggalkan Lev

Jumat, 02 Januari 2026 | 01:21

Selengkapnya