Berita

Proses evakuasi warga dari Afghanistan/Net

Dunia

Dapat Peringatan dari Taliban, AS Percepat Evakuasi Warga dari Afghanistan

SELASA, 24 AGUSTUS 2021 | 13:24 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Amerika Serikat (AS) menancapkan gas untuk proses evakuasi ribuan orang dari Afghanistan, setelah Taliban memberikan peringatan untuk mematuhi tenggat waktu.

Pemerintahan Presiden Joe Biden mendapatkan tekanan memperpanjang tenggat waktu 31 Agustus yang awalnya direncanakan untuk menarik pasukan AS, dan saat ini digunakan mengevakuasi warga.

Inggris dan sejumlah negara telah melobi AS selama pertemuan virtual G7 pada Selasa (24/8) agar Washington memperpanjang waktu.


Namun Taliban pada Senin (23/8) telah mengeluarkan peringatan tajam. Kelompok itu menyebut batas waktu 31 Agustus merupakan "garis merah". Setiap kehadiran militer asing di luar batas waktu berarti "memperpanjang pendudukan".

"Jika AS atau Inggris mencari tambahan waktu untuk melanjutkan evakuasi, jawabannya tidak. Akan ada konsekuensinya," tegas jurubicara Taliban, Suhail Shaheen.

Peringatan itu membuat proses evakuasi berlangsung tergesa-gesa pada Selasa.

"Tujuannya adalah mengeluarkan sebanyak mungkin orang secepatnya," kata jurubicara Pentagon, John Kirby, seperti dikutip dari laporan AFP.

Selain Inggris, Jerman juga tengah mengupayakan untuk memperpanjang proses evakuasi dengan melakukan pembicaraan bersama sekutu NATO dan Taliban.

Terburu-buru meninggalkan Kabul telah memicu adegan mengerikan dan menewaskan sedikitnya delapan orang. Satu di antaranya adalah pemain sepak bola tim nasional junior yang meninggal setelah jatuh dari pesawat.

Sekitar 50 ribu warga asing dan Afghanistan telah meninggalkan Kabul sejak Taliban berkuasa pada 15 Agustus lalu. Namun massa terus berkumpul di luar Bandara Kabul, meminta untuk segera dikeluarkan dari negara itu.

Banyak warga takut jika kekuasaan Taliban saat ini akan mencerminkan rezimnya pada 1996 hingga 2001, yang dikenal memiliki catatan buruk tentang hak asasi manusia dan hak-hak perempuan.

Namun setelah merebut Kabul, Taliban telah berkomitmen untuk membentuk pemerintahan inklusif dan menghadirkan wajah yang berbeda dengan sebelumnya, yang lebih positif.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya