Berita

Aktivis Mahasiswa dan Aliansi Muda Perunggasan Indonesia saat mendatangi Polda Metro Jaya/Ist

Nusantara

Harga Ayam di Peternak Anjlok, Aliansi Perunggasan dan Mahasiswa Bakal Geruduk Istana Presiden

SELASA, 17 AGUSTUS 2021 | 17:17 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Kecewa karena harga unggas di tingkat peternak (on farm) selalu jatuh, Aliansi Muda Perunggasan Indonesia bakal mendatangi Istana Kepresidenan dan Kementerian Pertanian untuk melakukan aksi damai pada Jumat (20/8). Hingga saat ini tak ada upaya tegas dari pemerintah yang mendukung para peternak rakyat untuk bisa lebih sejahtera.

Perwakilan Aktivis Mahasiswa, Lendri mengatakan, peternak ayam dan aliansi mahasiswa peternakan akan terus berjuang untuk memerdekakan peternak rakyat mandiri, khususnya berskala UMKM.

Oleh sebab itu, pihaknya tetap akan gelar aksi menuntut pemerintah berkomitmen terhadap aturan yang dibuatnya sendiri.


"HUT ke-76 RI belum bisa menandakan kemerdekaan bagi peternak ayam ras pedaging skala UMKM di seluruh Indonesia," tegasnya, dikutip Kantor Berita RMOLJabar, Selasa (17/8).

Lendri memaparkan, harga ayam hidup (live bird) jatuh sampai menyentuh Rp 12 ribu per kg di tingkat peternak. Akibatnya, para peternak ayam pun selalu merugi. Hal ini merupakan dampak dari tidak ada komitmen dari pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian terhadap aturan yang telah dibuat melalui Permentan No 32 tahun 2017.

"Aturan itu yang membiarkan perusahaan integrator tidak menyelesaikan rantai dinginnya, sehingga masih banyak ditemukan integrator yang sama-sama menjual ayam hidup di tempat yang sama dengan peternak ayam mandiri. Serta tidak efektifnya Permendag No 7 tahun 2020 mengenai batas harga yang layak bagi peternak yang telah dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan RI," paparnya.

Ketua Aksi Damai, Nurul Ikhwan menambahkan, surat pemberitahuan aksi damai ini telah disampaikan kepada Mabes Polri. Pasalnya, Pemerintah Pusat saat ini masih menerapkan PPKM sehingga pihaknya akan menggelar aksi yang lebih elegan dengan mengikuti aturan PPKM.

"Tentunya kami ingin pesan kami sampai kepada Presiden RI, bahwasannya usaha ayam ras pedaging milik peternak mandiri UMKM wajib diselamatkan oleh pemerintah. Apalagi saat ini kami masih dijajah oleh sistem integrasi para kapitalis perusahaan luar negeri yang berbisnis perunggasan di dalam negeri," tambah Ikhwan yang juga seorang peternak asal Tasikmalaya.

Sementara itu, Korlap Aksi Damai, Henry mengatakan, Kementan maupun Kemendag harusnya bisa menjaga komitmen aturan yang dibuatnya sendiri seperti Permentan 32/2017 dan Permendag 07/2020. Sehingga, para peternak ayam mandiri mendapatkan jaminan perlindungan.

"Kami ingin sampaikan pesan ini kepada Presiden RI bahwa jajarannya belum bisa memberikan kepastian perlindungan bagi usaha kami," jelasnya.

Dalam aksi nanti, pihaknya akan menyampaikan 5 tuntutan. Yakni menuntut Presiden RI dan jajarannya menerbitkan Perpres perlindungan peternak ayam mandiri dalam negeri.

Kedua, menerapkan harga bibit anak ayam umur sehari (DOC) di angka 20 persen dari harga jual live bird, di mana mengacu pada Permendag RI No 7/2020 seharusnya di bawah Rp 6 ribu per ekor, namun saat ini harga DOC sudah menyentuh angka Rp 7.500 per ekor

Ketiga, menjaga komitmen Kementan RI pada alokasi DOC final stock 50:50 secara jelas dengan peternak sesuai Permentan 32 tahun 2017. Keempat, menjaga komitmen dalam menstabilkan harga jual live bird sesuai Permendag RI No. 7/2020 yaitu berkisar Rp 19 ribu sampai 21 ribu per kg di tingkat peternak.

Lalu kelima, memberikan sanksi kepada perusahaan integrasi atau importir GPS yang tetap menjual live bird dan tidak menyerap ke RPHU masing-masing perusahaan integrasi. Sanksi dapat berupa pengurangan kuota GPS bahkan pencabutan izin impor.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya