Berita

Presiden Joko Widodo dan Presiden Joe Biden/Net

Publika

Kalau Joe Biden Sudah Bersuara, Indonesia Perlu Berbaik Sangka

RABU, 04 AGUSTUS 2021 | 05:35 WIB | OLEH: TEUKU REZASYAH, PH.D

MUNGKINKAH Jakarta tenggelam 10 tahun lagi? Ini bukan pertanyaan baru. Kekuatiran ini sudah lama ada di negeri ini, sehingga memantapkan kita memindahkan ibu kota ke Pulau Kalimantan yang lebih sepi, hijau dan asri.

Namun karena pertanyaan itu dibuat oleh Presiden Joe Biden, kita di Indonesia perlu menyikapinya dengan serius.

Pertama, kekuatiran itu dinyatakan oleh Presiden Biden, yang memimpin sebuah  negara adi kuasa, yang memiliki tanggung jawab kepemimpinan global. Kedua, Amerika Serikat sendiri sudah lama meyakini tingginya resiko keamanan global, yang akan dipengaruhi oleh perubahan iklim dan keterbatasan tata ruang, sehingga berdampak pada kelestarian umat manusia.


Ketiga, kekuatiran itu disampaikan disebuah lembaga intelijen, yang secara khusus membuat berbagai kebijakan intelijen strategis, yang jika diterapkan oleh Washington, akan juga berdampak global.

Dengan demikian, apakah inti dari kekuatiran Joe Biden tersebut, dan bagaimanakah kita menyikapinya?

Patut diduga, Joe Biden melihat adanya celah  dalam rencana kepindahan ibu kota RI, yang jika tidak ditangani dengan baik, akan membawa dampak buruk bagi pembangunan nasional Indonesia yang sedang menurun, sehingga mempengaruhi stabilitas kawasan Asia Tenggara.

Dalam hal ini, sebaik apapun studi kelayakan yang sudah kita buat, tentu akan bermasalah jika diujikan dengan berbagai model milik Amerika Serikat yang berbasis Sustainable Development Goals (SDG) dan Management by Objectives (MBO), yang semuanya serba filosifis, saintifik, kuantitatif,  namun teruji juga secara kualitatif. Bukankah kita pernah gagal dimasa lalu memindahkan ibu kota ke Jonggol di Jawa Barat?

Tidak mustahil, Joe Biden menguatirkan potensi kritis dalam manajemen pertahanan keamanan strategis di Asia Tenggara yang sudah lama dipimpinnya. Dalam hal ini, sebuah ibu kota yang baru dengan segala hiruk pikuk politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan keamanan nasional yang serba mengagetkan itu, akan mempengaruhi stabilitas nasional Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam.

Tiga negara dalam ASEAN ini, selain pro-Amerika Serikat, namun juga memiliki sengketa kewilayahan dengan Tiongkok di Laut China Selatan.

Secara hipitetis dalam pandangan Amerika Serikat, alangkah indahnya jika Indonesia yang sedang merancang kepindahan ibu kota itu,  sekaligus juga memikirkan pembangunan sebuah sistem pertahanan keamanan baru, yang selain berbasis teknologi masa depan, juga dapat melindungi seluruh wilayah nasionalnya sendiri, serta dapat disinergikan dengan ketiga negara diatas.

Dengan  demikian, alangkah baiknya jika pemerintah Indonesia mendalami pertanyaan Joe Biden diatas, serta membuka ruang dialog yang berbasis kesetaraan, guna meningkatkan rasa percaya diri kita sendiri,  bahwa Ibu kota yang baru tersebut benar-benar teruji secara ilmiah,  dan sunguh sesuai dengan kebutuhan masa depan nasionalnya.

Adapun aspek-aspek yang dapat dibahas adalah seperti penggunaan teknologi 5.0 dalam industri manufaktur, pengelolaan pendikan, penyiapan perhubungan antar pulau,  penanganan kesehatan,  monitoring lalu lintas dalam dan luar Ibu kota, termasuk pengawasan lingkungan hidup dan pertambangan. Semua sektor diatas hendaknya dipayungi pemikiran yang berbasis SDG.

Tidak kalah pentingnya adalah dialog perihal manajemen dan pentahapan dari kepindahan itu sendiri,  yang selain harus terencana dengan baik, namun juga tidak mengusik rasa aman para tetangga Indonesia dalam ASEAN. Karena, mereka akan menyaksikan kepindahan organisasi pertahanan dan keamanan  dalam jumlah yang amat besar, berikut pembangunan  instalasi militer nomor wahid guna melindungi ibu kota baru tersebut.

Siapkah kita berdialog dengan Presiden Biden? Sinyal intelijen sudah dibuat di Washington. Karena itu, lebih cepat lebih baik. Kalau bukan sekarang, kapanlah lagi.

Penuis adalah dosen Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran di Bandung.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya