Berita

Program vaksinasi Covid-19 secara massal/Ist

Politik

Komunikasi Masih jadi PR Besar Pemerintah dalam Menyukseskan PPKM dan Vaksinasi

SABTU, 31 JULI 2021 | 00:40 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Kasus Covid-19 yang meledak usai libur lebaran hingga kini terlihat tidak tertangani dengan baik meski beragam kebijakan telah dilakukan pemerintah, mulai dari pemberlakuan PPKM hingga vaksinasi massal.

Direktur Eksekutif Moya Institute, Hery Sucipto, menuturkan, masih tingginya kasus Covid-19 tak bisa dilepaskan dari buruknya komunikasi pemerintah ke publik.

Bagi Hery, terlalu banyak pihak yang berbicara seputar Covid-19, PPKM, dan vaksinasi sehingga membuat kebingungan publik.


"Harus ada pembenahan komunikasi. Cara komunikasi pemerintah masih lemah. Penegakan hukum juga harus tegas," kata Hery dalam diskusi virtual Moya Institute bertema 'PPKM dan Vaksin untuk Indonesia Bangkit dari Pandemi', Jumat (30/7).

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Muti menyebutkan, penanggulangan Covid-19 harus dilakukan secara umum, tidak bisa sepihak atau bahkan memilih-milih seseorang.

"Masalah soal penegakan hukum. Ada  kalanya ketika aparat behadapan dengan urusan berkaitan keagamaan, penegak hukum jadi tidak berdaya. Ini dilematis. Tiba-tiba penegak hukum jadi lemah, ini bahaya," jelas Abdul Muti.

Publik figur Tanah Air, Ramzi yang turut menjadi pembicara diskusi tersebut mengemukakan, alasan lain yang tak kalah penting adalah masih kuatnya fanatisme suasana capres pada Pilpres 2019 lalu yang membuat terhambatnya penanganan Covid-19.

"Covid ditarik-tarik ke masa lalu soal Pilpres. Sentimen dua belah pendukung capres masih kuat. Salah satu pendukung Capres tidak percaya Covid, lalai tidak jaga protokol kesehatan, tidak percaya vaksin," ujar Ramzi.

Begitu pula tentang PPKM. Ramzi melihat ada pihak-pihak yang sengaja memainkan narasi negatif bahwa kebijakan tersebut berdampak pada kesulitan ekonomi masyarakat kelas bawah.

"Tapi ada juga elite yang tidak satu komando, istilahnya dalam ucapan maupun implementasi. Yang satu bilang begini, satu lagi bilang begitu. Termasuk proses hukum sanksi PPKM terasa tebang pilih," demikian Ramzi.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:21

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Harapan Negosiasi Iran-AS

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:08

Terjaring OTT KPK, Bupati Sukoharjo Diduga Peras Perangkat Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:50

Menkes Budi Ajak Kreator Jadikan Pola Makan Sehat Sebagai Tren Baru

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:45

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Dicecar KPK soal Pengadaan Rel di DJKA

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:32

Harga Emas Melonjak Didorong Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Geopolitik

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:21

Sentimen AI Pulihkan Bursa Eropa, STOXX 600 Menguat

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:12

OTT di Solo Raya: Selain Bupati Sukoharjo KPK Juga Amankan 4 Orang Lainnya

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:04

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Peluang Lahirnya Inovasi Anak Muda Kian Terbuka

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:01

Kepindahan Narji dari PKS ke PSI Dianggap Kutu Loncat Gurem

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:58

Selengkapnya