Berita

Peristiwa Kudatuli/Net

Suluh

Kudatuli Dan PR PDIP

SELASA, 27 JULI 2021 | 10:53 WIB | OLEH: WIDIAN VEBRIYANTO

Genap 25 tahun sudah peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) terjadi. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu pagi 27 Juli 1996 di Kantor DPP PDI Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat itu juga dikenal sebagai Peristiwa Sabtu Kelabu.

Kelabu lantaran berdasarkan catatan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), terjadi pelanggaran HAM dalam peristiwa Kudatuli.

Tercatat sebanyak 5 orang meninggal, 149 luka-luka, 136 ditahan dan 23 orang dihilangkan secara paksa. Sedangkan 22 bangunan di sepanjang Jalan Salemba terbakar dengan total 91 kendaraan musnah. Ditaksir kerugian kala itu mencapai Rp 100 miliar.


Peristiwa ini sendiri dipicu oleh konflik internal yang terjadi ditubuh partai. Ada kubu Soerjadi dan kuu Megawati Soekarnoputri.

Mulanya, Soerjadi terpilih secara aklamasi sebagai ketum PDI pada 23 Juli 1993. Namun, dugaan terlibat penculikan kader membuat sejumlah kelompok di PDI menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya, yang menghasilkan Megawati sebagai Ketua Umum PDI.

Posisi Megawati sebagai ketua umum kemudian ditetapkan dalam Munas di Jakarta pada 22 Desember 1993. Mega mendapat amanah memimpin hingga rahun 1998.

Di satu sisi, kubu Soerjadi merespon dengan menggelar Kongres Medan pada 22 Juni 1996. Dalam kongres itu, Soerjadi terpilih sebagai ketua umum PDI, hingga membuat dualisme di tubuh partai.

Hasilnya, pemerintah harus turun tangan untuk mengambil keputusan. Dan keputusan itu disampaikan Kepala Staf Sosial Politik ABRI, Letjen Syarwan Hamid, yaitu mengakui kepemimpinan PDI Soerjadi.

Singkat cerita, dukungan pada Megawati justru makin menguat, utamanya dari kelompok yang menentang rezim Orde Baru.

Mereka berkumpul di Kantor PDI, Jalan Diponegoro, hingga akhirnya meletus peristiwa kelabu.

Pekerjaan Rumah PDI Perjuangan


Peristiwa Kudatuli yang kelam bagi PDI akhirnya memunculkan partai baru bernama PDI Perjuangan yang dikomandoi Megawati Soekarnoputri.

Di era reformasi, PDIP sempat berkuasa. Namun kekuasaan Megawati sebagai presiden hanya berlangsung sebentar. Sehingga wajar jika belum maksimal dalam mengantisipasi agar peristiwa kelam yang mereka alami tidak terulang.

Kini, PDIP kembali berkuasa. Megawati berulang kali menegaskan bahwa Presiden Joko Widodo adalah petugas partai mereka.

Dengan demikian, seharusnya, PDIP bisa meminta kepada Presiden Joko Widodo agar preseden kelam itu tidak kembali terulang.

Sementara fakta terakhir justru menunjukkan ada pola yang hampir sama terjadi di era Jokowi. Di mana secara tiba-tiba, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko yang merupakan ring 1 Jokowi, menggelar Kongres Luar Biasa di Deliserdang dengan mengatasnamakan diri sebagai Partai Demokrat.

Moeldoko bahkan kemudian terpilih sebagai ketua umum tak lama setelah kongres dibuka.

Dugaan cawe-cawe pemerintah dalam kasus ini sempat terbantahkan setelah Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly tidak mengakui kepengurusan Moeldoko. Menkumham hanya mengakui kepengurusan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai ketua umum Partai Demokrat.

Namun demikian, kini dugaan itu mengemuka lagi, tepatnya setelah kubu Moeldoko mengajukan gugatan lewat jalur hukum atas keputusan yang diambil Menkumham.

PDIP yang pernah mengalami masa kelam dan kini berkuasa, seharusnya bisa bijaksana mengambil sikap. Merekah harus berpegang teguh pada prinsip agar pemerintah tidak cawe-cawe lagi urusan internal partai.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

KPK Sita Dokumen dan BBE Usai Geledah Rumah Mewah Anggota Polri Yayat Sudrajat

Kamis, 10 September 2026 | 20:17

Pendalaman Fakta dan Penegakan Hukum Transparan Diperlukan di Kasus DJKA

Kamis, 10 September 2026 | 20:12

Tim 9 Kejagung Temukan Bukti Pemerasan Febrie di Kasus Jiwasraya

Kamis, 10 September 2026 | 20:05

Konsisten Perkuat Investasi Berkelanjutan, DPLK BRI Raih Kehati ESG Award 2026

Kamis, 10 September 2026 | 19:58

Waketum Golkar: Prabowo Konsisten Satukan Berbagai Warna Politik untuk Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 19:50

Rombak Ratusan Pejabat, Purbaya Minta Kemenkeu Bergerak Lebih Cepat

Kamis, 10 September 2026 | 19:40

Iwakum Dorong Pengerahan Maksimal Cari Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Kamis, 10 September 2026 | 19:31

Menyoal Kasus Dadan Cs, JMI: Jangan Ramai di Awal, Lalu Hilang di Tengah Jalan

Kamis, 10 September 2026 | 19:14

Polisi Siap Sikat Penimbun Masker di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau

Kamis, 10 September 2026 | 19:01

Pembagian 50:50 Kuota Haji Tambahan Ternyata Kebijakan Gus Yaqut

Kamis, 10 September 2026 | 18:45

Selengkapnya