Berita

Ilustrasi./Net

Suluh

Stok Vaksin Covid-19 Menipis, Target Vaksinasi Nasional Jauh Dari Harapan

SENIN, 26 JULI 2021 | 21:47 WIB | OLEH: AZAIRUS ADLU

Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan di Indonesia membuat pemerintah mengambil langkah-langkah penanggulangan guna mengantisipasi lonjakan kasus baru, salah satunya dengan pembatasan mobilitas masyarakat dari level 1 hingga 4 sembari mempercepat program vaksinasi nasional kepada penduduk agar tercipta kekebalan terhadap virus Covid-19.

Namun belakangan, Indonesia kembali mendapatkan problem baru akibat pandemi yang sudah dua kali lebaran ini menggerayangi Bumi Nusantara, setelah sebelumnya ekonomi terpukul, hingga rumah sakit yang kewalahan akibat massifnya pasien yang terjangkit, kini muncul lagi problem soal vaksin.

Saat ini stok vaksin yang dimiliki Indonesia menipis, padahal animo masyarakat atas vaksin Covid-19 sedang tinggi-tingginya akibat penularan varian Delta yang lebih cepat, maupun karena kesadaran pribadi.


Padahal angka vaksinasi nasional masih jauh dari harapan, data Senin (28/7), terdapat 44.728.320 orang telah menerima suntikan dosis vaksin virus corona. Sementara baru 18.129.878 orang telah rampung menerima dua dosis suntikan vaksin covid-19 di Indonesia.

Artinya, target vaksinasi pemerintah dari total sasaran 208.265.720 orang baru menyentuh 21,47 persen dari sasaran vaksinasi yang menerima suntikan dosis pertama. Sedangkan suntikan dosis kedua baru berada di angka 8,7 persen, ini jauh dari target herd immunity yang berada di angka 70 persen.

Padahal pandemi sudah terjadi setahun lebih di Indonesia, sangat disayangkan setengah dari target saja belum tercapai, ditambah kini stok vaksin menipis, bahkan diprediksi bakal habis kurang dari sebulan.

Menteri Kesehahatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, lambatnya laju vaksinasi nasional Covid-19 disebabkan karena kurangnya jumlah pasokan vaksin saat ini.

Menurutnya, hingga Juni, pemerintah telah menerima 70 juta dosis vaksin Covid-19 dan sebanyak 63 juta dosis telah disuntikkan kepada masyarakat, yakni terdiri dari 44,9 juta suntikan pertama dan 18,3 juta suntikan kedua.

Meski stok sudah menipis, ia memastikan, bulan ini, sekitar 30 juta dosis vaksin Covid-19 akan tiba di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan vaksinasi di berbagai daerah. Sedangkan pada Agustus nanti sebanyak 45 juta dosis vaksin kembali didatangkan yakni terdiri dari vaksin Sinovac, AstraZeneca, Moderna, dan juga Pfizer.

Akibat stok yang sudah menipis, program vaksinasi Covid-19 di sejumlah daerah terpaksa ditunda sementara hingga mendapat pasokan vaksin dari pemerintah pusat, hal ini sungguh mebuat prihatin, pasalanya, meski Covid-19 di daerah tidak sebanyak di Pulau Jawa, tetap saja daerah lain juga terjangkiti oleh virus sialan ini, seharusnya tidak boleh program vaksinasi ditunda dengan alasan stok menipis, belum dapat kiriman dari pusat dan sebagainya.

Lobi pemerintah terhadap negara penghasil vaksin, manajerial dan distribusi vaksin nasional harus segera diperbaiki agar laju vaksinasi bisa dipercepat dan tidak ada lagi yang namanya stok kurang, kan pemerintah punya data berapa jumlah warganya, seharusnya dipikirkan secara terperinci bagaimana mendatangkan dosis yang cukup, distribusi yang cepat dan seterusnya.

Kalau soal vaksin masih harus menunggu dari negara penghasil vaksin, seharusnya dibentuk tim khusus spesialis lobi agar Indonesia menjadi negara prioritas untuk dikirim vaksin, negara sebesar Indonesia, sekaya Indonesia seharusnya menjadi perhatian internasional, dengan pendekatan dan lobi yang mumpuni, seharusnya masalah stok vaksin ini tidak perlu terjadi.

Jangan sampai akibat stok vaksin yang menipis ini program vaksinasi menjadi lamban, terparah gagal. Kalau sampai ini terjadi, tentu sejarah akan mencatat bahwa pemerintah di era Presiden Joko Widodo tidak cakap dalam menyelamatkan rakyatnya sendiri, itu tentunya bukan sejarah yang baik untuk diceritakan kepada anak cucu kita kelak.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya