Berita

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus/Net

Dunia

WHO: Kesenjangan Vaksinasi Negara Kaya Dan Miskin Jadi Hambatan Terbesar Untuk Mengakhiri Pandemi

JUMAT, 23 JULI 2021 | 12:38 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Ketidaksetaraan akses vaksin adalah hambatan terbesar bagi dunia untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Kesenjangan besar terhadap vaksin sangat terlihat di antara negara kaya dan negara miskin.

Begitu yang dikatakan oleh Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa pada Kamis (22/7).

Berdasarkan data yang dirilis UNDP dan Universitas Oxford, ketidaksetaraan vaksin akan memiliki dampak yang langgeng dalam pemulihan sosial ekonomi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah. Apalagi jika tidak ada upaya untuk memastikan akses yang adil untuk setiap negara melalui pembagian dosis.


"Ketidaksetaraan vaksin adalah hambatan terbesar dunia untuk mengakhiri pandemi ini dan pulih dari Covid-19," kata Tedros.

"Secara ekonomi, epidemiologis dan moral, adalah kepentingan terbaik semua negara untuk menggunakan data terbaru yang tersedia untuk membuat vaksin yang menyelamatkan jiwa tersedia untuk semua." lanjutnya.

Jika negara-negara berpenghasilan rendah mampu memvaksinasi dengan tingkat yang sama dengan negara-negara berpenghasilan tinggi, mereka akan memiliki 38 miliar dolar AS untuk PDB tahun 2021.

“Di beberapa negara berpenghasilan rendah dan menengah, kurang dari 1 persen populasi divaksinasi, ini berkontribusi pada pemulihan dua jalur dari pandemi Covid-19,” kata Administrator UNDP Achim Steiner.

Untuk itu, ia mendorong tindakan kolektif agar hambatan akses vaksin pada negara-negara berpenghasilan rendah segera dihilangkan.

Data terbaru dari IMF, Bank Dunia, UNICEF, dan Gavi, menunjukkan negara-negara kaya diproyeksikan untuk memvaksinasi lebih cepat dan pulih secara ekonomi lebih cepat dari Covid-19.

Pada saat yang sama, negara-negara yang lebih miskin belum dapat memvaksinasi petugas kesehatan mereka dan populasi yang paling berisiko. Mereka kemungkinan tidak dapat mencapai tingkat pertumbuhan sebelum Covid-19 hingga tahun 2024.

Situasi ini diperburuk dengan kemunculan varian baru yang lebih menular seperti Delta.

Laporan dari UNDP dan Universitas Oxford menggambarkan mengapa percepatan pemerataan vaksin sangat penting.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Tak Pandang Bulu, Prabowo Akui Serahkan Dadan ke Kejaksaan

Kamis, 17 September 2026 | 12:29

MGBKI Soroti Isu Pendidikan Dokter Spesialis

Kamis, 17 September 2026 | 12:21

Prabowo Tugaskan Bahlil Bahas RUU Migas, SKK Migas Bisa Bubar!

Kamis, 17 September 2026 | 12:15

MNK Rokan Resmi Jadi Pionir Pengembanga Migas Nonkonvensional Indonesia

Kamis, 17 September 2026 | 12:13

Dasco Pastikan Seluruh Parpol Dilibatkan dalam Pembahasan Lanjutan RUU Pemilu

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

Ternyata Prabowo Suka Evidence-Based

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

SMEC Perluas Akses Layanan Kesehatan Mata

Kamis, 17 September 2026 | 11:50

Berjalan Beriringan, Operasi PLTP Tak Pengaruhi Situs Waruga di Tomohon

Kamis, 17 September 2026 | 11:43

Optimalisasi Sumur Sepinggan V-7: PHKT Genjot Produksi Migas Lampaui Target

Kamis, 17 September 2026 | 11:35

Prabowo Ungkap Bakal Ada Investasi Besar-besaran Masuk RI

Kamis, 17 September 2026 | 11:19

Selengkapnya