Berita

CJEU mengeluarkan keputusan yang menyatakan bahwa pengusaha memiliki hak untuk melarang pekerja mengenakan simbol agama yang terlihat, termasuk jilbab/Net

Dunia

Kontroversi Penggunaan Jilbab Di Tempat Kerja, Jubir Erdogan: Fasisme Menyebar Ke Pengadilan UE

MINGGU, 18 JULI 2021 | 22:05 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Jurubicara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh Uni Eropa (UE) "menerima" masa lalu fasis di benua Eropa. Komentar itu muncul berkaitan dengan putusan pengadilan tinggi UE yang menyebut bahwa pengusaha atau pemilik bisnis dapat melarang penggunaan simbol agama di tempat kerja, termasuk jilbab.

Komentar itu dilontarkan oleh direktur komunikasi untuk kantor Presiden Erdogan Fahrettin Altun melalui Twitternya pada Sabtu (17/7). Menurutnya, Putusan yang disahkan minggu ini oleh Pengadilan Eropa (CJEU) adalah salah.

"Sebuah upaya untuk memberikan legitimasi kepada rasisme,” tegasnya.


“Tidak dapat dipercaya bahwa fasisme menyebar begitu saja ke pengadilan (UE)," sambungnya.

Sebelumnya pada Kamis (15/7), CJEU pada hari Kamis mengeluarkan keputusan penting yang menyatakan bahwa pengusaha yang memiliki kebutuhan tulus untuk menjaga netralitas agama memiliki hak untuk melarang pekerja mengenakan simbol agama yang terlihat.

Putusan ini dibuat setelah pengadilan meninjau dua kasus terpisah yang dibawa oleh dua wanita Muslim dari Jerman. Mereka adalah seorang kasir toko obat dan seorang pengasuh. Keduanya menuduh majikan mereka mendiskriminasi mereka dengan tidak mengizinkan mereka mengenakan jilbab saat bekerja.

Namun setelah ditinjau, CJEU menegaskan bahwa majikan dapat memiliki alasan yang sah untuk menegakkan aturan berpakaian yang netral agama dan diizinkan untuk melakukannya selama mereka memperlakukan simbol dari agama yang berbeda secara setara.

Sementara itu, seperti dikabarkan Russia Today, Erdogan dengan Partai AK yang menaunginya memiliki prinsip tegas mengenai nilai-nilai keislaman. Erdogan juga merupakan salah satu kritikus paling vokal dari apa yang dianggapnya sebagai bias Eropa terhadap Muslim.

Karena itulah, Kementerian Luar Negeri Turki pada Minggu (18/7) mengecam keras putusan CJEU.

"Contoh baru dari upaya untuk memberikan Islamofobia dan intoleransi terhadap Muslim identitas kelembagaan dan hukum di Eropa," begitu kutipan pernyataan tersebut.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya