Berita

Indra Rudiansyah merupakan mahasiswa doktoral asal Indonesia jurusan Clinical Medicine dari Oxford University yang juga terlibat dalam pengembangan vaksin AstraZeneca/YouTube

Dunia

Indra Rudiansyah, Pemuda Indonesia Di Balik Pembuatan Vaksin Covid-19 AstraZeneca

MINGGU, 18 JULI 2021 | 20:13 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Vaksin AstraZeneca merupakan salah satu dari sederet vaksin Covid-19 yang digunakan banyak negara di dunia saat ini demi mengerem pandemi yang terjadi.

Di balik hadirnya vaksin Covid-19 AstraZeneca tersebut, ada tim peneliti yang bekerja keras bahkan sejak awal pandemi untuk membuat vaksin itu efektif, serta bisa dijangkau oleh masyarakat dunia.

Adalah Profesor Sarah Gilbert, seorang ahli imunologi berkewarganegaraan Inggris yang menemukan vaksin Covid-19 AstraZeneca. Dia merupakan profesor vaksinologi di Jenner Institute & Nutrifield departement of Clinical Medicine, Universitas Oxford.


Dalam sebuah wawancara dengan Deutsche Bank beberapa bulan lalu, Gilbert mengatakan bahwa dia bersama tim peneliti berhasil mengembangkan vaksin Covid-19 dengan efektif selama 11 bulan.

"Saat kita mendengar ada kasus pneumonia misterius yang pertama kali muncul di Wuhan, China, kita menyadari bahwa ada respon yang bisa kami lakukan," ujarnya dalam video wawancara tersebut yang diunggah di YouTube.

"Lalu kita mengetahui bahwa ini adalah virus jenis baru dari virus corona. Di situ kita tahu kita bisa membuat vaksin untuk melawannya," sambungnya.

Meski bengitu, mengembangkan vaksin dalam waktu cepat dan efektif tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

"Untuk membuat vaksin dengan cepat dan efektif, kita butuh orang-orang dengan banyak kemampuan yang beragam. Baik di bidang imunologi, kualifikasi medis, keperawatan, orang-orang yang bisa engineering dan bagaimana memproduksi vaksin, serta mereka yang mampu melakukan quality control serta tes," papar Gilbert.

Di antara sederet orang dengan kemampuan yang mumpuni di dalam tim Gilbert, terdapat seorang pemuda asal Indonesia. Dia adalah Indra Rudiansyah. Indra merupakan mahasiswa doktoral asal Indonesia jurusan Clinical Medicine dari Oxford University yang juga terlibat dalam pengembangan vaksin AstraZeneca.

Dalam video yang sama yang diunggah Deutsche Bank, Indra menjelaskan perannya.

"Saya berasal dari Indonesia," kata Indra.

"Sebagian besar dari penelitian saya fokus pada pembangunan vaksin untuk melawan sederet penyakit menular, seperti HIV, Ebola dan penyakit yang berpotensi menjadi pandemi seperti SARS, MERS dan sekarang Covid-19," jelasnya.

Sementara itu, dalam wawancara terpisah dengan CNN beberapa waktu lalu, Indra menuturkan bahwa dia tidak terlibat sejak awal. Saat pandemi baru melanda, Oxford hanya melibatkan orang-orang di balik tim Emerging Pathogen Disease.

"Awalnya Covid-19 muncul awal Januari. Rekan-rekan saya sudah memulai proyek ini. Tapi, ini khusus untuk tim Emerging Pathogen Disesase. Kalau saya di tim Malaria, bukan tim khusus Covid," kata Indra.

Namun kemudian, tim khusus vaksin corona terbuka. Pemimpin proyek pengembangan membuka kesempatan bagi semua mahasiswa, staf, atau mahasiswa pasca doktoral untuk terlibat.

Indra pun mendaftar dan dengan keterampilan yang saya miliki, dia berhasil ditugaskan ke tim respons antibodi untuk membantu ujicoba.

Indra pun berhasil menjadi salah satu di antara lebih dari 200 ilmuwan di Oxford yang terlibat dalam penelitian dan pengembangan vaksin kandidat Covid-19 pada saat itu.

Dia mengambil tanggungjwab untuk memantau respons antibodi orang yang telah diberi vaksin. Ini merupakan tugas yang krusial, karena bagian pengujian menilai seberapa efektif vaksin potensial dan efek sampingnya.

Sementara itu, dalam wawancara lain dengan Jakarta Post beberapa waktu lalu, Indra yang memiliki gelar sarjana di bidang bioteknologi dan gelar master di bidang mikrobiologi dari Institut Teknologi Bandung itu mengaku bahwa pembuatan vaksin berpacu dengan waktu.

“Tekanan datang dari virus itu sendiri, bukan dari masyarakat,” kata Indra.

“Kami berpacu dengan waktu di sini karena tingkat penularan (Covid-19) di Inggris mulai menurun, yang berarti kami pada akhirnya dapat kehilangan kesempatan untuk menguji vaksin kami," sambungnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya