Berita

Kepala BPOM Penny Lukito meluruskan sejumlah hal terkait dengan penggunaan Ivermectin dalam konferensi pers di Jakarta/Repro

Kesehatan

Ini Penjelasan Lengkap Kepala BPOM Soal Izin Pengunaan Ivermectin Bagi Pasien Covid-19

JUMAT, 02 JULI 2021 | 21:17 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Di tengah pandemi Covid-19, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengambil peranan penting, salah satunya adalah untuk memastikan aspek keamanan, mutu dan efektivitas dari vaksin atau obat yang diberikan untuk pengobatan Covid-19 ke masyarakat.

Salah satu obat yang mendapat banyak sorotan beberapa waktu belakangan ini adalah Ivermectin dalam pengobatan pasien Covid-19.

Dalam konferensi pers Jumat sore (2/7), Kepala BPOM Penny Lukito meluruskan sejumlah hal terkait dengan penggunaan Ivermectin.


Dia menjelaskan bahwa selama ini, izin edar yang diberikan, Ivermectin adalah untuk obat cacing dan merupakan obat keras.

"Dalam beberapa publikasi global, Ivermectin ini digunakan dalam penangulangan Covid-19. Namun data-data yang ada adalah data epidemiologi dan belum ada data uji klinis yang bisa kita gunakan untuk mengevaluasi dan menilai serta memberikan izin Ivemectin ini sebagai obat Covid-19," jelas Penny.

Bukan hanya itu, sambungnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun dalam guideline untuk pengobatan Covid-19 yang dipublikasikan 31 Maret 2021 juga menjelaskan bahwa Ivermectin hanya dapat diunakan dalam kerangka uji klinis.

"Namun data uji klinis yang banyak dilakukan di beberapa negara belum konklusif untuk menunjang bahwa Ivermectin ini untuk obat Covid-19," ujar Penny.

Lantas, bagaimana dengan penggunaan Ivermectin di Indonesia?

Penny menerangkan bahwa terkait dengan penggunaan izin edar penggunaan dan distribusi Ivermectin, berapa hari lalu BPOM bersama dengan Kementerian Kesehatan sudah melakukan peluncuran izin pelaksanaan uji klinis untuk Ivermectin.

"Bersama dengan para tenaga ahli, tim Komnas Penilai Obat dan expert terkait, kami melakukan meta analisis dari beberapa hasil uji jlinis yang sudah ada tentu dengan subjek saat ini terbatas, serta penggunaan metodologi terpercaya randomize control trial," kata Penny.

"Ini semua ini semua tujuannya agar kita punya data yang valid bahwa memang Ivermectin ini betul-betul adalah obat yang signifikan mengobati Covid-19," sambungnya.

Dia menekankan, upaya BPOM bersama dengan Kementerian Kesehatan untuk meluluskan uji klinis ini adalah untuk memberikan akses ke masyarakat untuk penggunaan Ivermectin untuk menghadapi infeksi Covid-19.

"Namun dengan tata cara yang aman sesuai dengan dosis yang dianalisa bersama-sama dengan para ahlinya," tekannya.

Lalu, bagaimana penggunaan Ivermectin yang tepat bagi pasien Covid-19 saat ini?

Penny menjelaskan bahwa saat ini, penggunaan Ivermectin harus dilakukan melalui uji klinis. BPOM serta Kementerian Kesehatan sudah membuka jalan untuk uji klinis tersebut.

"Nah penggunaan Ivermectin di luar skema uji klinis ini bisa saja dilakukan. Karena uji klinis ini dilakukan di 10 rumah sakit, sehingga penggunaan Ivermectin bisa dilakukan namun sesuai dengan hasil pemeriksaan dan diagnosa oleh dokter," papar Penny.


"Dan jika dokter bermaksud memberikan Ivermectin kepada pasien, maka penggunaannya harus menggunaan protokol uji klinis yang disetujui. Dokter harus informasikan kepada pasien risikonya dan bagaimana penggunaan dari Ivermectin," sambungnya.

Dia kembali menggarisbawahi, Ivermectin merupakan obat keras yang memiliki efek samping jika digunakan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, baik dalam hal dosis maupun lama penggunaan.

"BPOM akan menjaga siapapun industri farmasi yang memproduksi Ivermectin ini agar sesuai dengan ketentuan demi menjaga mutu, keamanan dan khasiat obat bagi masyarakat," tandasnya.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Ini Alasan Nusron Wahid Tak Nongol di DPR Usai Anak Buah Dicokok KPK

Rabu, 16 September 2026 | 16:28

Prabowo Sampaikan Duka Cita atas Kecelakaan KM Virgo Transport 8

Rabu, 16 September 2026 | 16:17

Panja RUU Pemilu Dipastikan Dibentuk Tahun Ini

Rabu, 16 September 2026 | 16:15

Perlu Diusut Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi di Muara Baru

Rabu, 16 September 2026 | 16:11

PT 5 Persen Bikin Partai Nonparlemen Makin Berat ke Senayan

Rabu, 16 September 2026 | 16:10

Prabowo Resmikan LRT Kelapa Gading-Manggarai, Danantara Diminta Ikut Bantu

Rabu, 16 September 2026 | 16:09

Bapemperda DPRD DKI Dorong Penguatan Perlindungan Anak di Ruang Digital

Rabu, 16 September 2026 | 16:00

OPM Bunuh Sopir Angkutan Masyarakat, Mobil Dibakar

Rabu, 16 September 2026 | 15:47

Kolaborasi Lintas Lembaga Terus Diperkuat Meski Karhutla Menurun

Rabu, 16 September 2026 | 15:44

KPK Periksa 3 ASN BPK terkait Dugaan Suap Pengubahan Audit Pemkab Muara Enim

Rabu, 16 September 2026 | 15:32

Selengkapnya