Berita

Enny Sri Hartati/Net

Publika

Didik J. Rachbini: Mengenang Enny Sri Hartati

JUMAT, 02 JULI 2021 | 10:31 WIB

ENNY panggilan akrabnya memang mengukuhkan karirnya sebagai ekonom sejak muda. Asal muasal semangatnya meniti karir dalam bidang ekonomi tersebut bermula sejak masa mahasiswa, yang menjadi redaksi majalah Eden, majalah mahasiswa kampus Universitas Diponegoro.

Melalui majalah mahasiswa Eden ini, Enny mengenal INDEF dan setelah lulus menceburkan diri sebagai peneliti INDEF, menjadi direktur selama hampir satu dekade dan kemudian menjadi peneliti senior.

Hampir seluruh karirnya memang diniatkan untuk menjadi ekonomi, yang kritis di dalam wadah lembaga pemikir INDEF. Memang pada saat yang sama Enny menjadi dosen tetap di Universitas Trisakti. Tetapi kegiatan mengajarnya dihentikan demi untuk mengembangkan diri di INDEF bersama rekan-rekannya, sekaligus membangun INDEF itu sendiri menjadi lebih besar.


Pada akhir 1990-an ketika INDEF baru berdiri, Enny mengidolakan Faisal Basri, ekonom pendiri Indef yang sudah dikenal luas sebagai dosen UI dan sebagai ekonom nasional. Dari Semarang Enny datang ke Jakarta untuk menemui Faisal Basri, sekaligus melakukan wawancara untuk majalahnya.

INDEF baru berumur 2 tahun ketika itu dan pindah kantor dari Jalan Kartanegara, yang elit, ke Jalan Wijayakarta, lokasi suatu perumahan di sekitar
Jalan Tendean.

Di kantor inilah Enny terus menerus berhubungan dengan INDEF, menekuni riset-riset bidang ekonomi, dan lambat laun dikenal secara nasional sebagai ekonom nasional karena banyak menyampaikan pemikirannya di ruang publik.

Sebagai ekonom, Enny menuliskan pemikirannya di berbagai media. Dan sebagai ekonom nasional, Enny dipilih oleh harian Kompas sebagai ekonomi, yang rutin menuliskan analisa-analisa tentgang perkembangan ekonomi terkini.

Hanya beberapa ekonom saja yang dipilih harian ini untuk menjadi kolumnis dan analis tetapnya di halaman depan. Hal itu merupakan penghargaan yang tinggi dan pengakuan terhadap kepakaran Enny.

Regenerasi INDEF sempat terhambat dari generasi pertama ke generasi berikutnya. Masalah hambatan regenerasi ini selalu terjadi di lembaga think tank bukan pemerintah. Sudah belasan atau bahkan puluhan lembaga think tank yang tutup tidak melakukan aktivitasnya karena gagal dalam menjalankan regenerasi.

Tetapi INDEF terus berkembang semakin maju karena peranan Enny, yang memimpin INDEF selama satu dekade.

Enny adalah transmisi regenerasi di Indef sampai INDEF sendiri berkembang sampai seperti sekarang ini. Puluhan ekonom bergabung di INDEF melakukan kegiatan riset dan akademik, sembari memainkan peranan kritis terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi. Banyak Enny-Enny yang lain akan menggantikan peranannya, yang datang dari generasi di bawahnya.

Tidak hanya keluargnya dan keluarga besar INDEF yang kehilangan, tetapi juga para ekonom, wartawan dan kerabat akademis merasa sangat kehilangan atas kepergian ekonom Enny Sri Hartati. Sebenarnya, Enny terlalu muda untuk pergi, tetapi takdir dan ketentuan Allah swt tetap berlaku, tidak dapat dihentikan.

Bagi kami, proses dan langkah kepergian itu terjadi begitu cepat. Semua tidak menduga karena 2-3 hari sebelumnya Enny masih semangat menyampaikan pandangan dan pemikirannya di media massa, media daring dan berbagai forum lainnya.

Dua hari lalu, Rabu 30 Juni 2021 Enny dibawa ke rumah sakit dengan saturasi sangat rendah 70, Ibu Hendri dkk berkeliling mencari rumah sakit di Jakarta penuh. Akhirnya bisa mendapatkan tempat di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi Jakarta. Tetapi oksigen tidak ada dan harus mencari di tempat lain dan akhirnya didapat dari Pak Saleh Husin, mantan Menperin. Dengan oksigen kuat dari terapi Dr. Slamet Budiarto, akhirnya naik menjadi 92.

Hari kamis 1 Juni 2021 dinihari sekitar jam 01.41 malam, Enny berkomunikasi dengan rekan-rekannya di INDEF dan sempai mengirim wa kepada Faisal Basri mengabarkan kondisinya drop jatuh ke saturasi 77. Masa kritis belum berhasil dilewati, akhirnya Enny pergi karena takdir Allah SWT.

Prof. Didik J. Rachbini

Rektor Universitas Paramadina, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya