Berita

Ilustrasi/Net

Kesehatan

Teori Aktivis Anti-Vaksin Pengaruhi Minat Masyarakat Asia Tenggara Lakukan Vaksinasi

JUMAT, 02 JULI 2021 | 07:16 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Teori para aktivis anti vaksin yang terus diembuskan melalui berbagai media sedikit banyak telah mempengaruhi minat masyarakat untuk melakukan vaksinasi Covid-19 di seluruh dunia, termasuk di belahan Asia bagian tenggara.

Salah satu kisah diceritakan Gerry Casida, seorang perempuan asal Manila Filipina. Meskipun berada dalam daftar prioritas untuk mendapatkan vaksin Covid-19 gratis di Filipina karena asmanya, dia mengaku tidak berencana untuk mendapatkan suntikan dalam waktu dekat.

Alasannya, dia melihat sebuah video yang ditemukannya di media sosial tentang seorang wanita yang mengklaim bahwa vaksin digunakan untuk tujuan genosida, atau pemusnahan massal.


"Saya telah membaca banyak posting di Facebook tentang berapa banyak yang meninggal di negara lain karena vaksin, dan bagaimana hal itu disembunyikan," kata pekerja konstruksi berusia 43 tahun itu, seperti dikutip dari Bangkok Post, Kamis (1/7).

"Ibuku juga berkonsultasi dengan tabib, yang mengatakan bahwa vaksin dapat mempengaruhi jantungku," akunya.

Jutaan orang seperti Casida di beberapa hotspot Covid terburuk di Asia Tenggara menunda inokulasi atau hanya mengatakan tidak, terombang-ambing oleh disinformasi di media sosial baik dari sumber lokal maupun gerakan anti-vaksinasi di AS.

Klaim itu memicu keragu-raguan vaksin di beberapa kantong kawasan, merusak upaya untuk menginokulasi beberapa orang yang paling rentan di Asia dan mengakhiri pandemi yang telah menghentikan ekonomi global.

Terlepas dari beberapa tingkat kasus baru tertinggi di dunia, survei terbaru menunjukkan resistensi vaksin lazim di wilayah tersebut.

Di Filipina, 68 persen orang tidak yakin atau tidak mau mengambil suntikan Covid, menurut lembaga jajak pendapat Social Weather Stations.

Sementara sepertiga orang Thailand ragu atau menolak untuk divaksinasi, menurut Jajak Pendapat Suan Dusit, sementara survei terpisah di Indonesia menunjukkan hampir seperlima populasi ragu-ragu.

Propaganda anti-vaksinasi adalah alasan besar keengganan itu, yang semakin memperlambat penerimaan di negara-negara yang sudah berjuang dengan persediaan terbatas. Kurang dari 10 persen dari populasi di Thailand dan Filipina telah menerima bahkan satu dosis.

"Ini adalah lanskap media yang tercemar," kata Melissa Fleming, wakil sekretaris jenderal PBB untuk komunikasi global, mengatakan pada forum virtual pada bulan Mei.

"Infodemi ini telah bergeser sekarang, dan fokusnya adalah informasi yang salah tentang vaksin. Ini tentang menanamkan rasa takut pada orang-orang," katanya.

Di Malaysia, informasi yang salah mulai dari risiko yang dibesar-besarkan hingga kehidupan dan organ tubuh hingga perubahan genetik menyebar di layanan pesan milik Facebook, WhatsApp.

Teori konspirasi populer lainnya yang dijajakan di platform sosial di seluruh wilayah adalah klaim bahwa microchip dalam vaksin Covid-19 digunakan untuk mengumpulkan data biometrik.

"Di Singapura, yang sebagian besar telah berhasil menahan penyebaran virus, kaum muda dan terpelajar juga terseret pada berita palsu," kata Leong Hoe Nam, seorang dokter penyakit menular di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena Singapura.

"Beberapa cerita semakin diperkuat, tetapi alasannya hampir sama," katanya.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Sidang Bluray Cargo Ungkap Kode-kode Suap untuk Kementerian/Lembaga

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:58

Duel Raksasa Eropa Prancis Hadapi Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:37

Adian Napitupulu: Kehadiran Buku Anotasi KUHAP Penting bagi BAM DPR

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:25

Pengacara Bantah Don Ritto Terlibat dalam Megakorupsi Bersama Febrie

Selasa, 14 Juli 2026 | 21:00

Harga Minyakita Masih di Atas HET, Kemendag Bakal Perketat Distribusi Lewat BUMN

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:45

Revisi UU Zakat, FOZ Dorong Skema Zakat sebagai Pengurang Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:37

Sinopsis Film Kung Fu Soccer, Comeback Stephen Chow Raup Rp1,3 Triliun dalam Dua Hari

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:33

Menag Ajak Alumni PTKIN Berkontribusi di Pemerintahan Prabowo

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:13

Ade Ginanjar Bela Bahlil: Polemik Batu Bara Jangan Digiring ke Ranah Politik

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:10

Spesifikasi Lengkap Samsung Galaxy A27 5G Indonesia, Segini Harganya

Selasa, 14 Juli 2026 | 20:09

Selengkapnya