Berita

Ilustrasi/Net

Kesehatan

Uji Klinis Positif, Akankah Ivermectin Jadi Harapan Baru Penanganan Covid-19?

KAMIS, 01 JULI 2021 | 21:22 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Ivermectin sudah lama eksis. Tetapi obat anti parasit itu baru mendapatkan popularitasnya baru-baru ini, ketika diyakini dapat menyembuhkan pasien Covid-19.

Banyak negara mengenal Ivermectin sebagai obat cacing selama puluhan tahun. Di Indonesia sendiri, Ivermectin digunakan pada manusia belum lama ini.

Di tengah lonjakan tajam kasus Covid-19, kabar Ivermectin ampuh melawan virus corona atau SARS-CoV-2 sontak menjadi perhatian masyarakat.


Pada awalnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan Ivermectin bukanlah obat untuk Covid-19 dan tergolong cukup keras, merujuk pada komentar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Tetapi sebaliknya, sejumlah studi yang dikutip oleh Direktur Jenderal POM 1998-2001 Sampurno justru menunjukkan Ivermectin memiliki kapasitas untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

Dalam tulisan opininya bertajuk "Ivermectin dan Obat untuk Covid-19" yang diterbitkan Kompas pada 30 Juni, Sampurno menyebut Ivermectin memiliki tingkat penyembuhan yang tinggi bagi pasien Covid-19 dengan gejala ringan, sedang, atau parah.

Ia juga menyoroti uji in vitro yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) terhadap Ivermectin. Klaimnya obat itu dapat menghambat replikasi SARS-CoV-2 dan dapat menjadi inhibitor virus, sehingga memiliki khasiat antiinflamasi.

Uji in vitro yang dilakukan Monash Biomedicine dan Doherty Institute juga menunjukkan, Ivermectin pada sel kultur dapat membunuh 99,8 persen sel virus SARS-CoV-2 dalam 48 jam. Bahkan untuk dosis tunggal, Ivermectin dapat mengurangi 93 persen RNA virus corona dalam 24 jam.

"Logikanya, jika uji in vitro menunjukkan hasil positif yang bagus, diprediksi juga akan mempunyai korelasi positif dengan hasil uji klinisnya," jelasnya yang juga menjadi Kepala BPOM 2001-2006.

Dengan hasil positif dalam pengujian di laboratorium, sejumlah negara maju, termasuk Inggris dan AS, yang sebelumnya mengesampingkan penggunaan Ivermectin untuk Covid-19 kemudian melakukan uji klinis.

Di Bangladesh, uji klinis dilakukan pada 118 tenaga kesehatan yang melakukan kontak dengan pasien Covid-19. Hasilnya, mereka yang diintervensi dengan Ivermectin hanya terpapar 6,9 persen. Sedangkan mereka yang tidak diintervensi Ivermectin terinfeksi 73,3 persen.

Sebuah penelitian yang melibatkan 304 peserta di Mesir juga menyimpulkan bahwa Ivermectin bukan hanya dapat menurunkan tingkat keparahan, tapi juga mortalitas.

Peserta dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama mendapatkan intervensi Ivermectin pada hari ke-1 dan ke-3, sedangkan kelompok kedua tidak diintervensi.

Hasilnya, setelah 14 hari, hanya 7,4 persen dari kelompok pertama yang terinfeksi Covid-19. Sedangkan kelompok kedua mencatat 58,4 persen kasus positif Covid-19.

Sampurno menilai, jika mengacu dari berbagai penelitian, maka penggunaan kolaborasi antara vaksin Covid-19 dan Ivermectin akan menjadi sangat melengkapi.

"Vaksin untuk Covid-19 bertujuan untuk meningkatkan imunitas terhadap infeksi virus corona. Adapun Ivermectin berperan menghambat replikasi virus sehingga jumlah virus yang masuk ke tubuh sangat sedikit dan karena itu dapat mudah dimatikan oleh antibodi," jelasnya.

Selain itu, harga Ivermectin yang jauh lebih murah juga dapat digunakan pada skala lebih luas.

Sayangnya, ia juga menyoroti adanya praktik bisnis yang tidak terhindarkan di tengah pandemi. Kehadiran Ivermectin dapat dianggap sebagai ancaman bagi para produsen vaksin.

Ditambah, saat ini produksi Ivermectin juga hampir terhenti karena ketersediaan bahan baku yang menipis.

"Bisa jadi ini bentuk tekanan tak langsung dari perusahaan multinasional untuk mempersulit produksi dan pemasaran Ivermectin," pungkasnya.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cerita Zulhas, Numpang Helikopter TNI ke Bogor

Kamis, 17 September 2026 | 21:47

Hari Transportasi Nasional, Momentum Wujudkan Kedaulatan Energi Bersama Program B50

Kamis, 17 September 2026 | 21:17

Ulasan Buku: Sumbangan Filsafat dari Indonesia untuk Dunia yang Kehilangan Makna

Kamis, 17 September 2026 | 21:15

KPK Amankan Dokumen dan Bukti Elektronik dari Penggeledahan di Kementerian ATR/BPN

Kamis, 17 September 2026 | 20:53

Bahlil Pastikan BUK Pengganti SKK Migas Langsung di Bawah Presiden

Kamis, 17 September 2026 | 20:41

Haji Isam Borong 10 Miliar Saham Bayan Resources

Kamis, 17 September 2026 | 20:21

Prabowo Pimpin Sidang Dewan Energi Nasional, Dorong Persiapan Produksi E50

Kamis, 17 September 2026 | 20:04

Ekoteologi PTKIN Raih Penghargaan UI GreenMetric 2026

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Ratusan Karyawan PT HD Arjuna Tuntut Kembali Bekerja

Kamis, 17 September 2026 | 19:44

Bahlil Akui Kasus Korupsi Fahd A Rafiq Musibah bagi Golkar

Kamis, 17 September 2026 | 19:38

Selengkapnya