Berita

Ilustrasi Jengis Khan/Net

Jaya Suprana

Warisan Jengis Khan

JUMAT, 25 JUNI 2021 | 09:39 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SAYA sempat tidak sadar bahwa secara kuantitas imperialisme Mongol merupakan kemahakaisaran dengan wilayah terluas kedua setelah Romawi. Sementara laskar Romawi tidak tertahankan di mana pun mereka merambah, maka sebagai warga Indonesia saya layak bangga bahwa Raden Wijaya berhasil menahan gelombang ekpansi bangsa Mongol merangsek masuk ke dalam wilayah Nusantara.

Akibat termakan arus hitam yang ditulis oleh para sejarawan bangsa yang sempat ditaklukkan oleh bangsa Mongol, maka semula saya menduga bangsa Mongol adalah bangsa terbelakang yang hanya hebat dalam hal militer berjaya menaklukkan bangsa-bangsa lain lewat jalur kekerasan destruktif.

Pendek kata yang terbayang di benak saya orang Mongol adalah orang biadab yang menguasai dunia dengan naik kuda dan bersenjata anak panah.


Ternyata bangsa Mongol bukan hanya hebat dalam hal menyelenggarakan perang yang mewariskan kesengsaran, namun juga memiliki peradaban tinggi yang mewariskan kesejahteraan bagi umat manusia.

Otonomi

Bangsa Mongol memiliki tradisi sistem kepemerintahan yang memang berpusat di pusat kepemerintahan namun dilengkapi dengan sistem distribusi kekuasaan yang menberikan otonomi kepada wilayah-wilayah yang ditalukkan untuk menatalaksanakan kepemerintahan sesuai dengan kebudayaan masing-masing wilayah.

Terbukti ketika bangsa Mongol berhasil menembus Tembok Besar untuk menguasai China pada masa Dinasti Yuan, kebudayaan China tidak dimusnahkan namun disinergikan dengan kebudayaan Mongol.

Bahkan di dalam peradaban genderisme sangat jelas bahwa bangsa Mongol menempatkan kaum perempuan pada posisi terhormat setara dengan kaum lelaki.

Tidak kurang dari Jengis Khan sendiri yang menempatkan putri-putrinya sebagai para pemimpin wilayah-wilayah yang berhasil dikuasai kemahakaisaran Mongol.

Dinasti Mughal yang membangun Taj Mahal di Agra, India, secara genealogikal merupakan keterkaitan dengan para tokoh penguasa Mongol. Sama halnya dengan suku Tatar dan Kosak di Eropa Timur.

Kebudayaan

Pada hakikatnya, busana celana yang memisahkan dua kaki manusia yang kini lazim dipakai oleh umat manusia di seluruh pelosok planet bumi termasuk celana jeans berakar pada busana tradisional Mongol yang memudahkan manusia menunggang kuda. Dan kini sepeda dan sepeda motor.

Bangsa yang paling mengutamakan kuda adalah Mongol sehingga kemudian kuda dibawa dari Eropa ke benua Amerika Serikat. Secara ragawi penampilan kaum pribumi Amerikat Serikat yang keliru disebut sebagai Indian mirip dengan suku Mongol termasuk dalam kemahiran menunggang kuda.

Arsitektur tenda tradisi Mongol bahkan dilanjutkan sampai ke masa kini sebagai arsitektur tenda modern yang bisa kita lihat pada Stadion  Olimpiade Munich dan petilasan situs di Anatolia Turki masa kini.

Kuliner steak ala Mongolia populer di seluruh dunia sama halnya olahraga gulat sebagai olahraga utama Mongol maupun teknik seni-suara tenggorok Mongolia benar-benar unik tiada dua di planet bumi ini.

Legenda dan dongeng yang diwariskan secara lisan oleh kakek-nenek moyang Mongolia merupakan mahasastra tertua dalam peradaban umat manusia.

Tanpa latar belakang sejarah Mongol menjajah China maka Jin Yong mustahil mampu mencipta trilogi mahakarya Sia Tiauw Eng Hiong, Sin Tiauw Hiap Lu, To Liong To yang berakhir dengan kisah Thio Buki menolak segenap tahta kekuasaan demi menyusul kekasihnya di padang rumput Mongolia.

Namun di depan para pejabat tinggi Partai Komunis China sebaiknya kita jangan memujamuji peradaban Mongol yang berisiko berdampak kurang bagus, mirip dengan memujamuji peradaban Belanda di depan para pejabat tinggi Republik Indonesia.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya