Berita

Editor buku “Masyarakat Pancasila” AM Putut Prabantoro bersama Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D. Fakhiri, di ruang kerjanya, Jayapura, Selasa (22/6)/Net

Politik

Dua Tokoh Papua Sepakat Masyarakat Pancasila Harus Terwujud Di Tanah Papua

KAMIS, 24 JUNI 2021 | 12:41 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Masyarakat Pancasila harus terwujud di tanah Papua. Pancasila harus diimplementasikan di setiap sendi kehidupan masyarakat Papua agar kesejahteraan, kedamaian dan keadilan terwujud.

Begitu tegas dua tokoh Papua, Kapolda Irjen Mathius D. Fakhiri dan Pangdam XVII / Cenderawasih Mayjen TNI Ignasius Yogo Triyono yang secara terpisah menerima editor buku “Masyarakat Pancasila” AM Putut Prabantoro, yang juga alumnus Lemhannas RI - PPSA XXI.

Buku karya terakhir sesepuh TNI dan mantan Gubernur Lemhannas Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo itu diserahkan AM Putut Prabantoro, yang juga Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) di masing-masing kantor kedua tokoh tersebut di Jayapura, Selasa (22/6).


Kepada Putut Prabantoro, Mathius D. Fakhiri menegaskan bahwa Pancasila adalah anugerah bagi bangsa Indonesia, termasuk bagi rakyat Papua. Hanya dengan Pancasila, kesejahteraan, kedamaian dan keadilan akan terwujud di tanah Papua.

Untuk itu, Mathius meminta para pemuda Papua darimanapun berasal harus bekerja keras untuk memulai tanpa berhenti untuk mewujudkan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila.

“Semua yang diberikan saat kita lahir adalah anugerah dan itu semua adalah modal kita untuk hidup. Termasuk juga Pancasila sebagai dasar negara kita adalah anugerah bagi kita semua,” tegas pria kelahiran Manokwari ini.

Mathius Fakhiri yang besar di Merauke yakin jika Pancasila diimplementasikan, masyarakat Papua yang sejahtera, damai dan adil akan terwujud. Dengan Pancasila, semua akan mewujudkan hal tersebut dan harus dimotori oleh generasi muda Papua dari manapun mereka berada. Tanpa terkecuali seluruh generasi muda harus menuju ke kebaikan untuk mewujudkan  mimpi Papua yang damai, Papua yang sejahtera dan Papua yang adil dan Papua yang berbudaya.

“Mewujudkan mimpi-mimpi itu hanya dapat dicapai jika semua masyarakat menuju ke kebaikan baik secara spiritual ataupun material. Dan, untuk mewujudkannya perlu kerja keras tanpa syarat,” tegasnya.

Senada itu, Igntius Yogo Triyono juga menegaskan bahwa untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan, Papua yang damai adalah kerja gotong royong semua warga masyarakat.

Kerja-kerja itu bukan kerja Kapolda ataupun Pangdam saja yang memberi rasa aman atau rasa damai. Mimpi hanya bisa terwujud jika kerja gotong royong, bersama-sama antara jajaran pemerintah dan warga masyarakatnya, persatuan antar masyarakat Papua dari mana saja asalnya.

“Papua yang kaya akan mempunyai arti bagi kesejahteraan masyarakatnya, jika kita semua menyadari dan bekerja keras untuk mewujudkan kesejahteraannya. Tidak ada suatu keberhasilan, kesuksesan yang dicapai tanpa kerja keras. Kerja keras seperti apa? Apa artinya sebuah kekayaan ataupun warisan berlimpah jika kita tidak dapat mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat Papua,” ujar Pangdam Cenderawasih itu.

Bagi Yogo Triyono, masyaraka Papua harus bangga memiliki kekayaan yang berlimpah dan tidak seperti beberapa daerah Indonesia lain yang tidak memiliki kekayaan alam. Namun tidak cukup hanya berbangga saja, masing-masing warga Papua harus bertanggang jawab atas hidupnya dengan  mewujudkan impiannya melalui Pancasila.

Menurutnya, generasi muda Papua jangan terus berkeluh kesah dan jangan lemah. Karena kalau terus mengeluh mereka melawan anugerah Tuhan karena ditakdirkan menjadi orang yang kuat secara fisik dan mampu hidup di alam yang luar biasa tantangannya.

“Generasi muda Papua harus melihat provinsi lain yang dapat hidup mesi tanpa kekayaan alam yang berlimpah. Berbanggalah karena hidup dalam alam yang kaya, bersyukurlah karena tidak semua alam Indonesia seperti Papua, bekerja keraslah untuk mewujudkan mimpi dan bertanggung jawab atas hidup yang diberikan Tuhan,” demikian Yogo Triyono.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya