Berita

Foto Ilustrasi/Net

Jaya Suprana

Mempelajari Ponerologi

RABU, 23 JUNI 2021 | 09:18 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

ANDAIKATA saya membuat terminologi ponerologi, pasti ditertawakan mengada-ada sok bikin istilah seperti yang pernah saya alami ketika menggagas kelirumologi dan logi-logi lain-lainnya.

Ponerologi


Namun mohon dimaafkan bahwa pada kenyataan yang menggagas istilah ponerologi sebenarnya sama sekali bukan saya. Jika ada yang tidak percaya silakan simak di Oxford Dictionary yang memaknakan ponerology sebagai noun : a theory or doctrine of evil dengan penjelasan etimologis berasal dari akhir abad XIX tanpa penjelasan siapa yang membuat (mungkin Nietszche atau entah siapa ), berasal dari bahasa Yunani kuno yang bermakna kaum tertindas, terluka akibat perilaku jahat orang lain.


Yang mencari di Wikipedia bahasa Indonesia terpaksa kecewa sebab belum ada bahasan mengenai ponerologi. Sementara Wikipedia bahasa Inggris mengungkap makna ponerology sebagai berikut:

Theology: ponerology (from Greek poneros, “evil”) is a study of evil. Major subdivisions of the study are the nature of evil, the origin of evil, and evil in relation to the Divine Government. Friederich Nietzsche outlined his System der christlichen Lehre (System of Christian Doctrine) into three major rubrics: Agathology, or the Doctrine of the Good; Ponerology, or Doctrine of the Bad; and Soteriology, or the Doctrine of Salvation. He further subdivided ponerology into the topics of Sin and of Death . See also : Theodicy and Political ponerology is an interdisciplinary study of social issues primarily associated with Polish psychiatrist Andrzej Łobaczewski.

Galau


Sebagai warga Indonesia saya sedang galau menyimak begitu banyak kejahatan dilakukan oleh banyak (tidak semua) politisi Indonesia mulai dari korupsi sampai penindasan rakyat sama sekali tidak selaras sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab serta Keadilan Sosial Untuk Seluruh Rakyat Indonesia secara sempurna melanggar hukum, hak asasi manusia mau pun agenda Pembangunan Berkelanjutan yang telah disepakati para negara anggota PBB termasuk Indonesia sebagai pedoman pembangunan infra struktur planet bumi abad XXI, tanpa merusak alam dan menyengsarakan manusia mau pun perintah Presiden Jokowi agar pemerintah jangan menggusur rakyat miskin, maka saya menjadi tertarik pada political ponerology yang digagas oleh Andrzej Lobaczewski.

Ngeri


Setelah membaca buku Political Ponerology yang ditulis oleh Andrew Lobaczewski saya merasa ngeri karena deskripsi tentang sifat kodrati apa yang disebut sebagai kejahatan ditulis oleh seorang penulis yang secara lahir-batin mengalami sendiri penindasan penguasa komunis ketika masih menguasai dan menindas Polandia.

Penelitian Lonaczweski terhadap kejahatan manusia terhadap manusia bukan berdasar sekedar teori atau hipotesa buatan orang lain namun sepenuhnya berdasar apa yang dialami oleh Lobaczwwski sendiri di laboratorium terbuka di Polandia pada masa sebelum dibebaskan oleh Lech Walessa dan kawan-kawan meruntuhkan rezim komunis di bawah komando Uni Sovyet.

Kesimpulan


Kesimpulan yang bisa ditarik dari penelitian ponerologis Andrew Lonaczweski menegaskan bahwa pada hakikatnya kejahatan yang dilakukan manusia yang sedang berkuasa seperti yang dilakukan Hitler, Stalin, Mao memang bukan sesuatu bentuk angkara murka yang mudah dilawan oleh manusia yang sedang tidak berkuasa.

Angkara murka penguasa hanya bisa dihentikan oleh sesama manusia yang lebih berkuasa seperti yang dilakukan oleh Sekutu terhadap Hitler.

Namun memang ada angkara murka penguasa yang mustahil dihentikan kecuali oleh Yang Maha Kuasa. Seperti terhadap angkara murka Stalin dan Mao yang terbukti hanya bisa berhenti dengan sendirinya setelah Yang Maha Kuasa menghendaki mereka berdua meninggalkan dunia fana ini.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

PUI: Pernyataan Kapolri Bukan Ancaman Demokrasi

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:52

BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA Sesuai UUD 1945

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:34

HMI Sumut Desak Petugas Selidiki Aktivitas Gudang Gas Oplosan

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:26

Presiden Prabowo Diminta Bereskan Dalang IHSG Anjlok

Minggu, 01 Februari 2026 | 23:16

Isak Tangis Keluarga Iringi Pemakaman Praka Hamid Korban Longsor Cisarua

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:54

PLN Perkuat Pengamanan Jaringan Transmisi Bireuen-Takengon

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:53

TSC Kopassus Cup 2026 Mengasah Skill dan Mental Petembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 22:23

RUU Paket Politik Menguap karena Himpitan Kepentingan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:45

Kuba Tuding AS Lakukan Pemerasan Global Demi Cekik Pasokan Minyak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:44

Unjuk Ketangkasan Menembak

Minggu, 01 Februari 2026 | 21:20

Selengkapnya