Berita

Sidang perkara dugaan suap bantuan sosial (Bansos) sembako Covid-19 i Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat/RMOL

Politik

Ketua DPC PDIP Kendal Ngaku Dapat Duit Dari Juliari Hingga Rp 508,8 Juta

SENIN, 14 JUNI 2021 | 19:31 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Aliran uang dalam perkara dugaan suap bantuan sosial (Bansos) sembako Covid-19 kembali ditelusuri dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (14/6).

Dalam sidang hari ini, dihadirkan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Ahmad Suyuti, sebagai saksi untuk eks Menteri Sosial (Mensos), Juliari Batubara yang didakwa menerima suap Rp 32,482 miliar dari 109 perusahaanpenyedia Bansos.

Dalam kesaksiannya, Suyuti mengaku mendapat uang dalam bentuk dolar Singapura dari Juliari yang dititip ke tim teknisnya yang bernama Kukuh Ary Wibowo.


"Ada titipan dari Pak Menteri, pak Juliari Batubara. sekitar Rp 500-an juta dalam bentuk dolar Singapura, yaitu 48 ribu dolar Singapura," ujar Suyuti dalam sidang.

Jika dirupiahkan, lanjut Suyuti, uang yang dititip Juliari ke Kukuh sebesar 48 ribu dolar Singapura sama dengan atau setara Rp 508,8 juta.

Pemberian uang itu, dibeberkan Suyuti, di Hotel Candi Semarang, saat pertemuan Mensos dengan para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).

"Uang ditaruh di dalam amplop.Setelah diserahkan saya kantongi saja," ungkap Suyuti.

Lebih lanjut, Suyuti menjabarkan kronologi awal dirinya mengetahui sumber duit yang ia kantongi tersebut. Katanya, dia mulanya ditelpon Kabiro Umum Kementerian Sosial sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) di Kemensos, Adi Wahyono.

"Katanya nanti di Semarang ada titipan, juga awalnya tidak disampaikan ada titipan siapa," jelasnya.

Setelah di dalam acara pertemuan bersama Mensos di Semarang, Sayuti mengaku dipanggil oleh Kukuh dan langsung diberikan uang Rp 508,8 juta dalam bentu dolar Singapura. Kukuh saat itu mengatakan uang itu untuk membantu kegiatan di DPC dan PAC (Pengurus Anak Cabang).

"Lalu saya sampaikan terima kasih," imbuh Sayuti menjelaskan dihadapan hakim.

Setelah mendapat uang tersebut, Suyuti megaku langsung berkumpul bersama pengurus DPC PDIP Kendal. Kemudian, uang tersebut habis digunakan untuk mendukung calon bupati dari PDIP Tino Indra Wardono.

Dalam sidang itu, Jaksa menanyakan keterangan Suyuti di dalam BAP yang menyatakan bahwa uang yang diberikan Juliari sempat direncanakan digunakan untuk pemenangan Pilkada di daerah-daerah yang berpotensi dimenangkan.

"Dalam BAP saudara menerangkan, 'Setelah saya menerima uang Kukuh sebagai uang titipan Mensos Juliari dalam dolar singapura, uang itu saya bawa dan saya tunjukkan ke teman-teman di Kantor DPC PDIP Kendal. Di sana direspons kenapa bentuk dolar begitu bagaimana bisa dibagikan? Kemudian saya lihat dulu dengan pak Munawir sebagai ketua pemenangan internal PDIP untuk pilkada dimana daerah-daerah yang masih berpotensi untuk bisa dimenangkan akan diberikan dana operasional', apa benar?" tanya Jaksa KPK.

"Betul," jawa Sayuti singkat.

Setelah itu, Suyuti memaparkan proses penukaran uang dolar Singapura dari Juliari ke tempat penukaran uang.

Usai ditukar, Suyuti selanjutnya mentransfer sebanyak Rp 458,8 juta ke rekeningnya sendiri, dan sebesar Rp 50 juta di bawa tunai dan diserahkan ke kiai kampung dan pengurus partai untuk pemenangan Pilkada saat rapat DPC PDI Perjuangan Kendal.

Sedangkan, uang sebesar Rp 458,8 juta yang ada di rekeningnya sudah dibagikan ke masyarakat di Kabupaten Kendal.

"Setelah kejadian ini kami dipanggil kami kaget juga. Saya merasa bersalah. Akhirnya saya minta waktu 1,5 bulan hingga 2 bulan untuk mengembalikan dana Rp508,8 juta," demikian Suyuti.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya