Berita

Presiden Thailand Prayut Chan-o-cha/Net

Dunia

Parlemen Thailand Beri Izin Pemerintah Pinjam Rp 228 Triliun Dana Publik Untuk Penanganan Covid-19

KAMIS, 10 JUNI 2021 | 11:43 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Parlemen Thailand telah meloloskan RUU yang mengizinkan pemerintah untuk meminjam dana tambahan sebesar 500 miliar baht atau setara dengan Rp 228 triliun (Rp 450/baht) untuk penanganan Covid-19.

RUU tersebut lolos dengan 270 suara dari total 469 kursi di parlemen pada Kamis (10/6).

Dimuat Bangkok Post, RUU tersebut masih menimbulkan kontroversi lantaran akan melebihi batas utang publik pemerintah.


Menteri Keuangan Arkhom Termpittayapaisith pada Rabu (9/6) berdalih, pinjaman tersebut sangat diperlukan untuk memerangi Covid-19 dan tidak akan melebihi batas rasio utang publik.

Di hadapan parlemen, Arkhom menjelaskan, pemerintah telah memanfaatkan sumber pendanaan yang tersedia di bawah UU memerangi Covid-19, namun belum cukup untuk menghadapi gelombang baru.

Terlebih, pemerintah juga belum bisa mengumpulkan banyak pendapatan pajak untuk tahun fiskal 2021 karena banyaknya bisnis yang tutup dan pendapatan yang terdampak pandemi.

Hal serupa juga disampaikan oleh Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha. Ia mengatakan, negara sangat membutuhkan pinjaman karena tidak ada yang tahu kapan krisis Covid-19 akan berakhir.

Setelah disetujui, kontrak pinjaman 500 miliar bath baru bisa ditandatangani pada 30 September tahun depan. Dekrit pinjaman diterbitkan di Royal Gazette dan mengikuti dekrit pinjaman darurat satu triliun baht tahun lalu.

Sekitar 30 miliar baht dialokasikan untuk membeli perlengkapan medis, obat-obatan, suntikan vaksin, penelitian dan pengembangan vaksin. Sebanyak 300 miliar baht disisihkan untuk mendanai skema bantuan bagi orang-orang di berbagai sektor, dan sisanya dialokasikan untuk proyek rehabilitasi sosial dan ekonomi.

Kantor Pengelolaan Utang Publik memproyeksikan rasio utang publik terhadap PDB pada akhir tahun fiskal 2020-2021 menjadi 58,6 persen, mendekati batas atas kerangka keberlanjutan fiskal 60 persen, dengan asumsi pemerintah menghabiskan satu triliun baht dan 100 miliar dari pinjaman baru.

Populer

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

UPDATE

PJJ dan WFH Didorong Jadi Standar Baru di Jakarta

Sabtu, 24 Januari 2026 | 06:02

Prajurit di Perbatasan Wajib Junjung Profesionalisme dan Disiplin

Sabtu, 24 Januari 2026 | 06:00

Airlangga Bidik Investasi Nvidia hingga Amazon

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:42

Indonesia Jadi Magnet Event Internasional

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:26

Macron Cemas, Prabowo Tawarkan Jalan Tengah

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:23

Rismon Sianipar Putus Asa Hadapi Kasus Ijazah Jokowi

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:11

Polda Metro Terima Lima LP terkait Materi Mens Rea Pandji

Sabtu, 24 Januari 2026 | 05:09

Prabowo Jawab Telak Opini Sesat Lewat Pencabutan Izin 28 Perusahaan

Sabtu, 24 Januari 2026 | 04:26

Polisi Bongkar 'Pabrik' Tembakau Sintetis di Kebon Jeruk

Sabtu, 24 Januari 2026 | 04:16

Pesan Prabowo di WEF Davos: Ekonomi Pro Rakyat Harus Dorong Produktivitas

Sabtu, 24 Januari 2026 | 04:04

Selengkapnya