Berita

Presiden Joko Widodo saat olahraga bersama Kepala Staf TNI dari tiga matra, Darat, Laut dan Udara di Istana Negara/Net

Politik

Pak Harto Pernah Pilih Panglima TNI Bukan Dari Kepala Staf

SELASA, 01 JUNI 2021 | 12:29 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Marsekal Hadi Tjahjanto bakal memasuki masa purna tugas sebagai tentara aktif dan meninggalkan jabatannya sebagai Panglima TNI.

Desas desus siapa pengganti Marsekal Hadi telah mulai diperbincangkan, yang pada umumnya mengerucut kepada jenderal yang kini menjabat sebagai Kepala Staf angkatan.

Pengamat intelijen dan pertahanan Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati mengatakan, memang posisi Panglima TNI terdapat tradisi bergantian antar matra Darat, Laut dan Udara, namun hal tersebut bukan diatur secara formal melalui regulasi.


Terlepas dari itu, wanita yang akrab disapa Nuning ini berpendapat, Presiden Soeharto saat itu pernah mengangkat satu perwira tinggi TNI yang tidak menjabat sebagai Kepala Staf angkatan.  

"Zaman pak Harto pernah juga jenderal yang bukan Kastaf (Kepala Staf) jadi Panglima TNI, karena saat itu pak Harto merasa jenderal tersebut pas dan cocok sebagai Panglima TNI," kata Nuning Kertopati kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (1/6).

Saat itu, Presiden Soeharto mengangkat Jenderal M Jusuf sebagai Panglima ABRI ke-3 periode 1978 hingga 1983, jenderal kelahiran Makassar itu diangkat oleh Presiden Soeharto sebagai Panglima ABRI saat menjabat sebagai Panglima Kodam (Pangdam) XIV Hasanudin Makassar.

"Semua ini hak prerogatif Presiden," imbuh Nuning.

Disisi lain, menurut mantan anggota DPR periode 1999-2004 dan 2009-2014 itu, sosok Panglima TNI ke depan harus memiliki pemahaman ancaman nirmiliter seperti pandemi Covid-19.

"Kini dikenal sebagai ancaman hybrida dan telah merubah perspektif ancaman di masa mendatang," kata dia.

Untuk itu, TNI diharapkan mampu menguasai ilmu pengetahuan seputar senjata biologi dan pertahanan negara anti senjata biologi.

"Pada masa depan ancaman Nubika (Nuklir, Biologi, Kimia) harus masuk dalam kewaspadaan kita. Para Prajurit TNI kini dituntut memiliki kemampuan tempur konvensional dan kemampuan tempur kontemporer," demikian Susaningtyas Kertopati.


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya