Berita

Pada tahun 1890 Gereja Katolik di kanada mendirikan dan menjalankan Kamloops Indian Residential School/Net

Dunia

Duka Untuk Ratusan Anak Pribumi Korban 'Genosida Budaya', Kanada Kibarkan Bendera Setengah Tiang

SENIN, 31 MEI 2021 | 13:39 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Perdana Menteri kanada Justin Trudeau memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang di semua gedung federal, termasuk Menara Perdamaian di Parlemen di Ottawa untuk menunjukkan duka mendalam atas penemuan sisa jasad 215 anak-anak pribumi di sebuah sekolah asrama.

"(Pengibaran bendera setengah tiang) untuk menghormati 215 anak yang nyawanya diambil di bekas sekolah asrama Kamloops dan semua anak pribumi yang tidak pernah pulang, para penyintas, dan keluarga mereka," kata Trudeau dalam sebuah cuitan di Twitter (Minggu, 30/5) waktu setempat.

Keputusan ini diambil oleh Trudeau setelah ada tekanan masyarakat, terutama pemimpin masyarakat adat dan masyarakat umum setelah First Nations di provinsi British Columbia (BC) pekan kemarin mengumumkan bahwa ditemukan jasad 215 anak pribumi di situs Kamloops Indian Residential School.


Sebagai informasi, First Nations adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan masyarakat pribumi di Kanada yang bukan komunitas Métis atau Inuit. First Nations sendiri adalah penduduk asli dari tanah yang sekarang menjadi Kanada.

“Sepengetahuan kami, anak-anak yang hilang ini adalah kematian yang tidak berdokumen,” kata kepala Tk’emlúps te Secwépemc (komunitas) First Nation Rosanne Casimir.

Penemuan ratusan jasad anak-anak pribumi itu memicu rasa sakit dan trauma kolektif terutama bagi komunitas pribumi di seluruh Kanada.

Penemuan ini juga memicu seruan untuk tindakan nyata pemerintah untuk mengatasi pelanggaran hak historis dan berkelanjutan terhadap First Nations, Métis dan Inuit.

Asimiliasi Paksa Anak-anak Pribumi

Diketahui bahwa antara tahun 1870an dan 1990an, lebih dari 150 ribu anak pribumi dipaksa untuk bersekolah di sekolah yang dijalankan oleh gereja-gereja dan bertujuan untuk secara paksa mengasimilasi anak-anak pribumi ke dalam masyarakat kulit putih Kanada.

Anak-anak pribumi dipisahkan dari keluarganya dan dididik di sekolah asrama. Mereka juga dilarang berbicara dalam bahasa pribumi. Selain itu, banyak di antara mereka yang mengalami penganiayaan seperti pelecehan fisik, psikologis dan seksual.

Lalu pada tahun 1890 Gereja Katolik di kanada mendirikan dan menjalankan Kamloops Indian Residential School. Sekolah asrama tersebut kemudian menjadi sekolah terbesar dalam sistem sekolah residensial Kanada. Tercatat ada 500 anak pada puncak pendaftarannya pada awal 1950an.

Sayangnya, di sekolah-sekolah asrama tersebut, tidak kurang dari 4.000 anak pribumi diketahui tewas atau tidak pernah kembali ke rumah mereka.

Baru pada tahun 2015, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Kanada menyimpulkan bahwa negara tersebut pernah melakukan "genosida budaya" dengan sistem sekolah asrama yang telah berlangsung selama puluhan tahun tersebut.

Salah satu penemuan terbaru yang terkait asimilasi paksa anak pribumi di sekolah resedensial itu adalah penemmuan 215 sisa jasad anak-anak di bekas sekolah asrama tersebut.

Penemuan di Kamloops telah menimbulkan pertanyaan lama tentang warisan kolonialisme yang pernah berlangsung di Kanada serta trauma antargenerasi yang terkait dengan sekolah asrama yang masih dirasakan di komunitas pribumi di seluruh negeri.

"Ada begitu banyak kesedihan dan trauma dari berita mengerikan tentang 215 mayat anak-anak yang ditemukan," kata anggota parlemen dari Partai Demokrat Baru Charlie Angus akhir pekan kemarin, seperti dikabarkan Al Jazeera. (Senin, 31/5).

“Saya senang Perdana Menteri setuju untuk menurunkan bendera. Tapi ini baru permulaan. Kami butuh jawaban. Kami membutuhkan akuntabilitas," sambungnya.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Jaksa Agung Resmi Lantik Kuntadi sebagai Pengganti Febrie

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:25

Wasekjen AMPI: Hasil Rapat Pleno IX Cacat Hukum dan Tak Punya Legitimasi

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:23

Danantara Mulai Bentuk Perusahaan Manajemen Aset Raksasa

Jumat, 24 Juli 2026 | 12:15

Samsung Galaxy Z Fold 8 Hadirkan Desain Tipis dan Performa Tangguh

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:55

Indonesia Kecam Serangan terhadap Kapal Komersial di Laut Merah

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:34

Perbaikan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Jadi PR Bersama

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:32

Panda Bond RI Laris, Pemerintah Raup Rp18,5 Triliun

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:27

Kemunculan Kabinet Bayangan Konsekuensi dari Demokrasi

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:04

Iran: Trump akan Hadapi Konsekuensi jika Serangan AS Berlanjut

Jumat, 24 Juli 2026 | 11:04

Dude Harlino Kembalikan Honor Rp5,25 Miliar dari PT DSI, Sebut Bentuk Kepedulian untuk Korban

Jumat, 24 Juli 2026 | 10:50

Selengkapnya