Berita

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Dzulfian Syafrian/Repro

Politik

Ambiguitas Kebijakan Bendahara Negara, Indef: Sri Mulyani Pontang-panting Cari Utang Tapi SILPA Masih Banyak

KAMIS, 27 MEI 2021 | 18:08 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu), jauh dari kata konsisiten.

Begitu kritik yang disampaikan peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Dzulfian Syafrian dalam serial diskusi Tanya Jawab Cak Ulung Kantor Berita Politik RMOL bertajuk 'APBN Indonesia Kritis?' yang disiarkan Kamis (27/5).

Dalam pemaparannya, Dzulfian mengatakan inkonsitensi bendahara negara, dalam hal ini Menteri Keuangaan Sri Mulyani Indrawati bisa dilihat dalam pengelolaan APBN dua tahun terakhir di masa pandemi Covid-19.


"Saya melihat APBN dua tahun belakangan, atau APBN (di era) pandemi, kalau kita rangkum dalam satu kalimat itu inkonsisten atau membingungkan," ucap Dzulfian.

Salah satu contoh sikap inkonsistensi Sri Mulyani, diungkap Dzulfian adalah mengenai sisa anggaran yang belum terpakai. Sementara di sisi yang lain, pemerintah ngotot mencari pembiayaan utang yang bunganya tidak bisa dikatakan lumrah.

"Karena banyak sekali paradoksnya, di satu sisi kita berutang dan utangnya sangat mahal bunganya, di satu sisi SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) masih banyak, itu kan membingungkan, enggak masuk akal," paparnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa seharusnya angka SILPA di dalam APBN berjumlah nol. Artinya bahwa jumlah penerimaan negara harus dapat menutup defisit anggaran yang tercatat di dalam APBN tahun berjalan saat itu.

Maka dari itu, Dzulfian berkesimpulan APBN tidak tepat dikatakan kritis untuk dijadikan alasan oleh bendahara negara untuk mencari utang baru. Padahal faktanya, ada anggaran yang tidak terpakai.

"Di satu sisi kita lihat APBN memang seperti kritis, terlihat sekali bahwa Kementerian Keuangan pontang-panting mencari dana, tetapi di sisi lain ternyata ada ratusan triliun yang tidak terpakai," pungkasnya.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

SBY Desak PBB Investigasi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 12:15

Bansos Kunci Redam Gejolak Jika BBM Naik

Minggu, 05 April 2026 | 11:34

Episode Ijazah Jokowi Tak Kunjung Usai

Minggu, 05 April 2026 | 11:20

Indonesia Jangan Diam Atas Kebijakan Kejam Israel

Minggu, 05 April 2026 | 11:08

KPK Buka Peluang Panggil Forkopimda di Skandal THR Cilacap

Minggu, 05 April 2026 | 10:31

Drone Iran Hantam Kompleks Pemerintahan dan Energi Kuwait

Minggu, 05 April 2026 | 10:20

Krisis Global Momentum Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

Minggu, 05 April 2026 | 10:14

UU Hukuman Mati Israel untuk Tahanan Palestina Mengarah ke Genosida

Minggu, 05 April 2026 | 09:43

Trump Ancam Iran Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam atau Hadapi Konsekuensi

Minggu, 05 April 2026 | 09:33

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Selengkapnya