Berita

Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi/Repro

Dunia

Covid-19 Mengganas Di Dunia, Menlu Teriakan Kesenjangan Distribusi Vaksin Bagi Negara Miskin Baru 0,3 Persen

RABU, 19 MEI 2021 | 02:20 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Mengganasnya pandemi Covid-19 tidak menjadi satu-satunya masalah yang tengah dihadapi banyak negara di dunia. Namun, ternyata, kesenjangan distribusi vaksin juga menjadi satu bagian di dalam penanganan pandemi di tingkat global.

Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi mengungkapkan persoalan kesenjangan distribusi vaksin Covid-19 ini saat mengikuti pertemuan Covax AMC Engagement Group (EG) Meeting yang dilaksanakan virtual, Senin (17/5).

Dalam kesempatan tersebut, Retno menyebutkan bahwa di tengah mengganasnya pandemi Covid-19, ketidaksetaraan distribusi vaksin di tingkat global masih besar. Karena, negara berpenghasilan rendah atau miskin baru dikirimkan sebesar 0,3 persen, dari total suplai vaksin yang tersedia saat ini sebanyak 1,7 miliar dosis vaksin.


"Diperlukan langkah segera untuk dapat memastikan akses setara kepada vaksin, karena tidak ada negara yang dapat sepenuhnya bebas dari Covid-19, selama masih ada negara lain yang terjangkit," ujar Retno dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu (19/5).

Maka dari itu, Retno memberikan saran mengenai distribusi vaksin ini distribusi agar dibuka opsi cost-sharing vaksin melalui COVAX Facility. Di mana, negara berpenghasilan rendah-menengah yang berada dalam AMC dapat membeli tambahan dosis vaksin, di luar alokasi vaksin gratis yang dijanjikan untuk 20 persen penduduk negara-negara AMC.

Disamping itu, Retno juga membahas dalam pertemuan itu terkait keterlambatan pasokan vaksin untuk vaksin COVAX Facility. Yaitu, vaksin AstraZeneca yang diproduksi oleh SII (India) terkirim sekitar 18 persen, dan produksi vaksin AZ oleh SK Bio (Korea Selatan) terkirim 50 persen dari komitmen awal.

Dia berharap situasi ini bisa membaik pada akhir tahun ini, yang ditunjukan dengan bertambahnya komitmen produsen vaksin lain dan termasuk bertambahnya vaksin yang memperoleh Izin Penggunaan di Masa Darurat (EUL) dari WHO.

"Upaya melipatgandakan kapasitas produksi vaksin termasuk dengan menghapuskan (waive) hak paten vaksin sangat krusial dalam upaya melawan pandemi," demikian Retno Marsudi.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya