Berita

Menara Al-Sharouk saat runtuh setelah terkena serangan udara Israel, di Kota Gaza, 12 Mei 2021/Foto: AFP

Dunia

Pengamat: Masalah Palestina Tidak Bisa Selesai Cepat Karena AS Mainkan Standar Ganda Dengan Libatkan Sekutu

SENIN, 17 MEI 2021 | 11:11 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Anggota Dewan Negara sekaligus Menteri Luar Negeri China Wang Yi telah memimpin debat terbuka di Dewan Keamanan PBB, untuk membahas situasi terkini konflik Israel-Palestina pada Minggu (16/5) waktu setempat.

Pertemuan ini terjadi di tengah sikap AS yang dianggap seolah menghalangi DK PBB untuk mencapai kesepakatan tentang masalah tersebut.

Wang mengatakan, China telah mendorong Dewan Keamanan untuk mengadakan dua konsultasi darurat tentang konflik Palestina-Israel, dan telah menyusun pernyataan pers, dalam upaya untuk memandu dewan untuk mengambil tindakan.

"Tapi sayangnya, dewan sejauh ini gagal mencapai kesepakatan, dengan AS berdiri di sisi berlawanan dari keadilan internasional," kata Wang, seperti dikutip dari Global Times, Senin (17/5).

Menurut laporan Reuters pada Rabu, AS telah menunda upaya DK PBB untuk mengeluarkan pernyataan publik tentang meningkatnya ketegangan antara Israel dan Palestina karena Washington menganggap pernyataan itu bisa "berbahaya bagi upaya di balik layar untuk mengakhiri kekerasan."

Sejumlah pengamat angkat bicara mengenai persoalan tersebut.

Ma Xiaolin, dekan Institute for Studies on the Mediterranean Rim di Zhejiang International Studies University mengatakan, bahwa posisi China menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang urusan Timur Tengah karena telah menunjukkan bahwa masalah Palestina masih menjadi inti urusan Timur Tengah dan tidak dapat dipinggirkan.

Berbeda dengan AS yang ingin menarik kekuasaannya dari Timur Tengah, mereka seolah ingin melihat masalah Palestina terpinggirkan, sehingga Washington enggan melihat masalah tersebut diajukan ke DK PBB.

"Pemerintahan Biden selalu mengatakan diplomasinya mengutamakan 'hak asasi manusia', terutama ketika mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Tetapi ketika ada bencana hak asasi manusia yang mengerikan yang disebabkan oleh operasi militer sekutunya di Gaza, yang merupakan reaksi berlebihan terhadap serangan Hamas, kemunafikan dan standar ganda AS telah terungkap lagi," kata Ma.

"AS tidak ingin memberikan penghargaan sebagai penengah konflik Palestina-Israel kepada China, terutama ketika China adalah presiden DK PBB. Ini adalah alasan utama mengapa AS enggan membiarkan pekerjaan mediasi melalui DK PBB," kata Hua Liming, seorang ahli China untuk urusan Timur Tengah dan mantan duta besar China untuk Iran.

"Setiap kali PBB bertemu untuk membicarakan konflik Palestina-Israel, AS selalu duduk di 'dermaga untuk terdakwa', jadi Washington biasanya lebih memilih untuk terlibat dengan kedua belah pihak di bawah meja daripada membiarkan komunitas internasional terlibat," kata Hua.

"Ini adalah alasan utama mengapa solusi atau gencatan senjata antara Israel dan Gaza atau pasukan lain di wilayah itu bersifat sementara," tambahnya.

Pengamat mengatakan, konflik kali ini juga terkait dengan masalah nuklir Iran karena AS dan Iran sama-sama ingin mencapai kesepakatan baru sesegera mungkin, karena pemerintah moderat di Teheran akan memiliki lebih banyak peluang untuk memenangkan pemilihan dan terus berdialog dengan AS.

"Tetapi Israel tidak ingin melihat AS dan Iran mencapai kesepakatan sehingga konflik di Gaza akan menambah kesulitan pembicaraan antara AS dan Iran," kata Ma.

"Jadi masalah Palestina tidak bisa diselesaikan dalam jangka pendek," ujarnya.

Populer

Tak Disambut Pejabat AS, Natalius Pigai: Jokowi Datang Seperti Menteri yang Berwisata

Kamis, 12 Mei 2022 | 00:36

Serangan ke Anies Makin Gencar, Senator Jakarta: Tenggelamkan dengan Kabar Prestasi

Kamis, 12 Mei 2022 | 17:00

Usai Makan Malam Bersama, AHY Pastikan Demokrat Tetap Dukung Edy Rahmayadi

Senin, 16 Mei 2022 | 09:38

Puji Pakaian Muslimah Iriana, Imam Shamsi Ali: Kira-kira yang Sering Nyinyiri Kerudung Ngomong Apa ya?

Senin, 16 Mei 2022 | 09:28

Imran Khan: Menjatuhkan Nuklir ke Pakistan Akan Lebih Baik Daripada Menyerahkan Negara Ini Kepada Pencuri

Sabtu, 14 Mei 2022 | 18:58

Putin: Jika Sanksi Terhadap Rusia Terus Berlanjut, Justru Eropa yang Bakal Menelan Resikonya

Jumat, 13 Mei 2022 | 06:32

Tak Ada Sambutan untuk Jokowi, AS Tak Percaya dengan Pemerintah Indonesia?

Kamis, 12 Mei 2022 | 10:23

UPDATE

Tiket Formula E Laris Manis, Bangku VIP Ludes Terjual

Kamis, 19 Mei 2022 | 22:14

KPK Limpahkan Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin Angin Dkk ke Jaksa

Kamis, 19 Mei 2022 | 22:12

Demokrasi, Kekuasaan dan Partai Politik dalam Pemberantasan Korupsi

Kamis, 19 Mei 2022 | 21:58

LSJ: Prabowo Subianto Raih Elektabilitas Tertinggi di Kalangan Pemilih Pemula

Kamis, 19 Mei 2022 | 21:50

Andre Rosiade Puji Startegi Lalu Lintas Mudik di Tol Trans Sumatera

Kamis, 19 Mei 2022 | 21:36

Wamen ATR/BPN Klaim Kawasan IKN Nusantara Tidak Ada Tumpang Tindih Hak Atas Tanah

Kamis, 19 Mei 2022 | 21:32

Bakal Geruduk Kedubes, Perisai Minta Singapura Sampaikan Maaf Tolak UAS

Kamis, 19 Mei 2022 | 21:28

Sosok Lin Che Wei dan Jaringannya Bukan Sembarangan, Bongkar Tuntas Mafia Sawit

Kamis, 19 Mei 2022 | 21:07

Polisi Belum Kantongi Surat Pemberitahuan PA 212 Unjuk Rasa di Kedubes Singapura

Kamis, 19 Mei 2022 | 21:00

Kominfo Sediakan Pelatihan dan Beasiswa untuk Siapkan SDM Digital Unggul dan Berdaya Saing

Kamis, 19 Mei 2022 | 20:55

Selengkapnya