Berita

Rokok elektrik dan nikotin/Net

Kesehatan

Survei Terbaru, Rokok Elektrik Bisa Jadi Jawaban Berhenti Merokok

RABU, 05 MEI 2021 | 15:38 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Riset yang membuktikan efektivitas rokok elektrik atau vape sebagai alat bantu berhenti merokok terus bertambah dan menguat.

Terbaru, sebuah studi dari The University of Queensland, Australia, menyatakan bahwa rokok elektrik 50 persen lebih efektif daripada terapi pengganti nikotin (NRT) dalam membantu perokok konvensional yang ingin berhenti.

Studi pustaka ini menyaring lebih dari 5.700 riset dan didanai oleh Pemerintah Australia. Studi menemukan, 83 persen partisipan yang menggunakan rokok elektrik memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk berhenti merokok dibandingkan mereka yang disodorkan NRT. Selain itu, hanya 9 persen dari mereka yang melanjutkan penggunaan NRT.


"Rokok elektrik lebih efektif daripada produk NRT, karena rokok elektrik mengantarkan nikotin dengan jumlah sedikit untuk meringankan gejala putus obat. Selain itu, rokok elektrik juga memberikan pengalaman perilaku dan sensoris yang serupa dengan rokok konvensional," kata Dr. Gary Chan dari National Centre for Youth Substance Use Research, The University of Queensland, dikutip Rabu (5/5).

Dilansir dari studi yang sama, sebagian besar pustaka yang diamati masih menggunakan rokok elektrik keluaran awal sebagai objek penelitian.
Ini artinya, ada kemungkinan rokok elektrik keluaran terbaru yang mampu mengantarkan nikotin dengan lebih efisien dapat lebih efektif dalam mengurangi keinginan pengguna kembali merokok.

Di dalam negeri, penemuan ini sejalan dengan riset Universitas Brawijaya yang dipublikasikan pada awal tahun lalu. Hasil riset itu menyatakan bahwa Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) dapat membantu mengurangi konsumsi rokok.

Tapi sayangnya, walaupun pengguna HPTL terus meningkat, dan banyak perokok yang ingin berhenti, studi mengenai produk HPTL di Indonesia masih sangat terbatas. Akibatnya, mereka yang ingin berhenti merokok tidak memiliki informasi yang akurat mengenai pilihan yang lebih rendah risiko.

Padahal, laporan The Global State of Tobacco Harm Reduction (GSTHR) yang terbit pada 18 April 2021 mengungkapkan, sebanuak 48,6 persen perokok di Indonesia ingin berhenti merokok.

Tapi jika menilik dari data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase perokok Indonesia hanya berhasil turun 0,3 persen menjadi 28,7 persen pada 2020.

Peralihan ke produk HPTL juga terbilang lamban di Indonesia. Menurut laporan GSTHR jumlah pengguna HPTL baru mencapai satu (1) persen saja.
Di satu sisi, edukasi menyeluruh mengenai guna produk dan risiko masih perlu ditingkatkan. Sementara di sisi lain, riset terkait produk HPTL yang sudah beredar juga perlu disosialisasikan dengan lebih optimal.

Hal ini diamini gurubesar Universitas Sahid Jakarta, Prof. Kholil yang ikut meneliti pengguna produk tembakau alternatif. Pada studinya, dia melihat bahwa sebagian besar perokok dewasa belum familiar dengan produk tembakau alternatif, serta mengenali manfaat produk yang mampu meminimalkan risiko akibat merokok. Riset serupa perlu untuk terus dikembangkan.

Tidak hanya dari sisi perilaku pengguna, akan tetapi juga dari sisi produk dan kandungan di dalamnya, guna memastikan cita-cita menekan angka perokok dapat dicapai.

Populer

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cek Siaran Langsung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Selasa, 22 September 2026 | 02:21

DPRD DKI Apresiasi Kebijakan Penutupan TPS Ilegal

Selasa, 22 September 2026 | 02:01

Indonesia Rebut 7 Medali di Aichi-Nagoya

Selasa, 22 September 2026 | 01:42

Ditjen AHU Perkuat Pengawasan Korporasi

Selasa, 22 September 2026 | 01:23

Wamendagri Ribka Haluk Berduka Tiga ASN Jadi Korban KKB

Selasa, 22 September 2026 | 01:01

Hasil Audit BPK Ditunggu dalam Kasus Toba Pulp Lestari

Selasa, 22 September 2026 | 00:37

Tiga Bulan Nganggur, Karyawan De Club Arjuna Geruduk Balai Kota

Selasa, 22 September 2026 | 00:26

Kejagung Periksa Dirut PT Migas Kota Bekasi terkait Dugaan Korupsi KSO

Selasa, 22 September 2026 | 00:01

80 Negara Siap Hadapi Wajib Sertifikasi Halal

Senin, 21 September 2026 | 23:47

KPK Harus Periksa Nusron Wahid demi Kepastian Hukum

Senin, 21 September 2026 | 23:31

Selengkapnya