Berita

Foto: Repro

Histoire

KNIL Kawah Candradimuka Pendiri TNI

SELASA, 04 MEI 2021 | 13:03 WIB | OLEH: REPUBLIKMERDEKA.ID

Sejarah berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak bisa lepas dari keberadaan pasukan Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) bentukan Belanda.

Sama seperti tentara Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang, tentara KNIL yang berdiri lebih dulu di Indonesia menjadi bagian utama dalam cikal bakal TNI yang pada awal berdirinya bernama Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS).

Tentara Kerajaan Hindia Belanda atau Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) merupakan salah satu kesatuan militer modern yang paling tua usianya. Ada beragam versi waktu pendirian KNIL. Ada yang menyebutkan bahwa KNIL berdiri 10 Maret 1830. Versi lain mengatakan,  KNIL berdiri 4 Desember 1830. Namun, ada pula yang mengatakan sebenarnya KNIL sudah terbentuk sejak 28 Agustus 1814.


Data terbaru menyebut KNIL terbentuk pada 14 September 1814.  Hal itu mengacu pada dokumen yang tertera di monumen di Bronbeek, Amsterdam, Belanda, yang mengabadikan usia KNIL sudah direvisi dari penyebutan kurun waktu 1830-1950 menjadi 1814-1950.

Perubahan itu dilakukan setelah muncul hasil riset Letkol (tituler) Willem L Plink yang meyakini KNIL sudah lahir sejak 14 September 1814, bukan 4 Desember 1830 yang mengacu pada Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische Leger dari Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch.

KNIL adalah angkatan perang kolonial Hindia Belanda (wilayah nusantara dulu sebelum bernama Indonesia). KNIL memiliki unit angkatan udaranya sendiri yang bernama Militaire Luchtvaart van het Koninklijk Nederlands-Indisch Leger dan beberapa elemen Angkatan Laut Kerajaan Belanda juga ditempatkan di Hindia Belanda.

Meskipun KNIL melayani pemerintahan Hindia Belanda namun banyak anggotanya yang berasal dari pribumi Hindia Belanda, orang-orang Afrika dari Guinea Belanda (Belanda Hitam), dan orang-orang Indo-Belanda.

Menurut sejarawan Belanda GG de Jong yang ditulis ulang oleh Sejarawan Ong Hok Ham dalam buku Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang (2018), menyebutkan, sebenarnya KNIL hanya merupakan suatu kekuatan kepolisian yang ditingkatkan. KNIL bukan kekuatan militer untuk menghadapi perang internasional atau perang modern. Pasukan KNIL dibentuk oleh pemerintah kolonial untuk menghadapi perlawanan lokal.

"KNIL hanya berfungsi untuk menghadapi kerusuhan dalam negeri," kata Ong Hok Ham.

Penulis buku sejarah Petrik Matanasi dalam buku berjudul Pribumi Jadi Letnan KNIL menyebutkan, kekuatan pasukan KNIL berkisar 5.000-6.000 orang. Satuan ini terdiri atas Korporaalschappen dengan 12 orang prajurit dipimpin oleh seorang kopral. Kemudian Sergeantschappen terdiri dari dua Korporaalschappen. Dua sampai lima Sergeantschappen bisa menjadi sebuah barisan sendiri dengan pimpinan seorang letnan dua.

Menurut Petrik, prajurit KNIL sebagian besar adalah orang-orang pribumi Indonesia sebagai prajurit rendahan. Meskipun ada yang menjadi perwira, jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan tentara Belanda.

Pemuda Indonesia yang menjadi perwira KNIL umumnya berasal dari keluarga terpandang. Mereka punya pendidikan yang cukup baik pada zaman kolonial. Meskipun gaji perwira KNIL dari pribumi dan Belanda sama, namun jenjang karier untuk pribumi terbatas. Pangkat tertinggi perwira KNIL dari golongan pribumi hanya mentok sampai pangkat letnan kolonel.

Selain merekrut orang-orang Belanda dan pribumi, Pemerintah Kolonial Belanda juga merekrut serdadu bayaran dari wilaya Eropa. Misalnya dari Prancis, Belgia, Jerman dan Swiss. Ada pun pada saat itu (tahun 1870), prajurit Eropa mendapatkan penghasilan setara dengan bayaran buruh pabrik selama 1 tahun!
Dalam struktur KNIL, komando tertinggi dipegang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang merupakan panglima tertinggi (opperbevelhebber) militer. Di bawahnya ada seorang Komandan Angkatan Darat yang merangkap jabatan sebagai Kepala Department van Oorlog (Departemen urusan Peperangan) dengan pangkat letnan jenderal.

Masih menurut Petrik, mulanya KNIL dibentuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda Graaf Johannes van den Bosch hanya untuk di wilayah Jawa saja. Namun seiring waktu, kebutuhannya meluas sehingga perlu lebih banyak pasukan. Lantaran orang Belanda jumlahnya lebih sedikit, akhirnya sebagian besar pasukan diambiil dari orang-orang pribumi.  

Dokrin pendidikan KNIL mengajarkan agar orang-orang pribumi (Indonesia) dalam KNIL wajib berani berhadapan dengan pribumi yang memberontak terhadap Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Dalam sejarahnya, KNIL mampu menghadang berbagai perlawanan warga lokal yang terjadi di seluruh wilayah Hindia Belanda.

Dari seluruh serdadu Eropa, persentase orang Belanda adalah 61% dan sisanya 39% dari negara tetangganya. Komposisi orang Eropa selain Belanda meliputi 30% orang Belgia, 30% orang Jerman, orang Swiss sebanyak 20%, 12% orang Prancis dan sisanya 8% lagi dari negara lain.

Pada tahun 1830, tercatat jumlah bintara pribumi ada 60%. Sedangkan perwiranya hanya 5% dari jumlah semua perwira.

Tokoh Indonesia yang pernah menjadi anggota KNIL pada saat menjelang kemerdekaan Republik Indonesia, di antaranya adalah Mangkunegara VII, Sultan Hamid II, Oerip Soemohardjo, Alex Kawilarang, Abdul Haris Nasution, Gatot Soebroto, dan Tahi Bonar Simatupang. Tokoh-tokoh KNIL ini kelak yang memegang peranan penting dalam pengembangan dan kepemimpinan di dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI). 

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Mafia Infrastruktur Diduga Kepung Menteri Dody Lewat Isu Miring

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:05

Menhan hingga Ketua Komisi I DPR Terima Brevet Korps Marinir

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:46

Ketimpangan Penduduk Meningkat, Gini Ratio Naik ke 0,368

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:22

Mahkamah Agung Diminta Evaluasi Ketua PN Jakarta Timur

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38

Gempa M 6,4 Guncang Kepulauan Talaud, Tidak Ada Korban Jiwa

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:31

Kader Golkar Wonosobo Ngadu ke DPP soal Dua Kali Musda

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:14

Di Balik Tribun Sunyi Piala Presiden, Puluhan Pecalang Jaga Harmoni El Clasico

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:09

Kisruh Diadukan ke Bahlil, Mafa Uswanas Diusulkan jadi Plt Ketum AMPI

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:50

Pergeseran Public Goods Sektor Kesehatan

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:40

BRAINS Demokrat Kolaborasi Bareng IRI Perkuat Demokrasi Lintas Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:17

Selengkapnya