Berita

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Jendral TNI (Purn) Moeldoko/Net

Politik

Setingan Atau Bukan? Kisruh Partai Demokrat Tetap Menuntut Moeldoko Mundur Dari KSP

SABTU, 10 APRIL 2021 | 10:25 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Pertama kalinya dalam sejarah kisruh partai politik di era Presiden Joko Widodo, ada keterlibatan orang lingkaran Istana yang jelas-jelas nongol sebagai aktornya.

Yakni, sosok Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Jendral TNI (Purn) Moeldoko, yang terlibat dalam kegiatan yang diklaim sebagai Kongres Luar Biasa Partai Demokrat di Sibolangit, Deliserdang, Sumatera Utara, awal Maret lalu.

Mantan Panglima TNI ini didaulat sebagai ketua umum oleh mayoritas peserta kegiatan tersebut, melalui mekanisme pemilihan voting berdiri.


Tak berselang lama dari kegiatan ini, Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurthi Yudhoyono, angkat bicara terkait pelaksanaan KLB Deli Serdang itu, dan menegaskan keterpilihan Moeldoko di kegiatan itu abal-abal karena tidak sesuai dengan AD/ART partai.

Namun, ada anggapan keterlibatan Moeldoko dalam kisruh yang berawal dari pertemuan mantan kader dan kader pembelot Partai Demokrat dengan Kepala KSP itu sebagai settingan untuk meraup simpati masyarakat dan meraup popularitas jelang Pemilu 2024.

Lantas, apakah kisruh Partai Demokrat ini setingan atau murni upaya pengambilalihan kepemimpinan parpol berlambang mercy ini dari ketua umumnya, Agus Harimurthi Yudhoyono, yang dipilih secara sah melalui Kongres V di Jakarta pada Maret 2020?

Menurut Direktur Parameter Politik, Adi Prayitno, pelemik parpol yang sudah dua kali periode pemilihan menang di bawah kepemimpinan Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2004-2014, adalah murni pendongkelan.

"Ini murni mau ambil alih. Terlampau beresiko untuk menaikan Demokrat dengan hanya setingan semacam ini," ujar Adi Prayitno saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (10/4).

KLB Deli Serdang yang sudah terlaksana dan melibatkan Kepala KSP Moeldoko, menurut dosen politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini, merupakan satu bentuk penegasan dari upaya pengambilalihan Partai Demokrat.

"Gimana mau setingan? KLB sudah terjadi di Deli Serdang dan sudah mengajukan keabsahan ke Kemenkumham sekalipun mereka kalah. Tapi kini melawan di pengadilan. Kalaupun kalah di pengadilan mereka akan banding di kasasi. Kalau pun toh ada kasasi nanti juga melawan di putusan sela," papar Adi.

"Ini enggak main-main. Kalau main-main enggak bakal segini heboh. Terlampau beresiko ongkos yang dkeluarkan kalau ini setingan untuk menaikan elektabilitas," sambungnya.

Terlepas dari perdebatan settingan atau bukan, Adi menilai Moeldoko sebagai satu aktor eksternal yang terlibat dalam kisruh parpol ini harus bertangungjawab secara moril. Paling tidak, dia memenuhi tuntutan publik untuk mundur dari jabatannya sebagai Kepala KSP.

"Kalau yang menjadi Ketum (Demokrat versi KLB Deliserdang) itu Marzuki Ali, Darmizal atau Jhoni Allen ya biasa-biasa saja, karena mereka orang dalam. Tapi karena ada orang yang baru di Demokratkan, kebetulan kepala KSP, jadi segala atribut yang melekat di Pak Moeldoko ya dibegitukan," ucap Adi.

"Jadi, tidak ada alasan lagi bagi Moeldoko untuk bertahan, akan di desak terus supaya mundur," tandasnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya