Berita

Kantor DPP Demokrat di Jalan Proklamasi, Jakarta./Net

Politik

Perebutan Kantor DPP Demokrat, Pelanggengan Budaya Okol

RABU, 31 MARET 2021 | 07:23 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Babak baru ‘kudeta’ Partai Demokrat oleh kubu KLB alias kubu Moeldoko kian menegangkan. Marzuki Alie, Ketua Dewan Pembina kubu Moeldoko mengeluarkan ultimatum agar kantor DPP PD di Jalan Proklamasi, Jakarta diserahkan kepada mereka apabila kubu KLB disahkan oleh pemerintah.

Andi Arief, Ketua Bappilu PD, dalam twitnya menyebut, kubu Moeldoko bisa main ‘gila‘ karena Kemenkumham sulit mengesahkan KLB. Bahkan, Andi menduga, perebutan kantor itu bisa terjadi sebelum tanggal 6 April.

“Kini mereka akan berupaya merebut kantor DPP Demokrat,” cuit Andi, Selasa (30/3) kemarin.


Kubu Moeldoko, diwakili M Rahmad, menolak klaim Andi. Ia menyatakan bahwa jika pemerintah mengesahkan kepengurusan kubu KLB, maka pengambilalihan aset PD dibenarkan oleh Undang-Undang.

Jika benar sinyalemen Andi Arief bahwa kubu Moeldoko akan mengambil paksa kantor DPP PD, maka kejadiannya bakal mirip dengan kisah pengambilalihan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di jaman Orde Baru. Saat itu, oleh kubu Soeryadi yang didukung pemerintah mengerahkan massa untuk merebut kantor partai. Apakah sejarah akan berulang?

Budayawan Yogyakarta, Sahanuddin Hamzah, menilai bahwa pengulangan peristiwa masa lalu itu menunjukkan kegagalan politisi Indonesia mengembangkan strategi dan taktik politik yang kreatif dan inovatif. Apalagi, jika pengambilalihan kantor DPP PD itu dilakukan dengan penggunaan unsur kekerasan.

“Politik kekerasan itu politik yang paling purba. Jika itu terjadi, bisa jadi indikasi bahwa pembangunan peradaban politik jalan di tempat,” ujar perupa dan penyair yang kerap dipanggil Hamcrut ini kepada redaksi, Rabu (31/3).

Lebih lanjut Hamzah menganggap pengambilalihan paksa kantor partai politik sebagai pelanggengan budaya okol, yaitu pendekatan yang mengedepankan kekuatan koersif dan meminggirkan pentingnya negosiasi.

“Demokrasi yang kita gembar-gemborkan itu hanya berhenti di kerongkongan karena nyatanya politisi lebih memilih main kuasa,” tandasnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya