Berita

Ilustrasi/Net

Dahlan Iskan

Jalan Memutar

SABTU, 27 MARET 2021 | 04:37 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BANYAK yang belum tahu sisi lain kehebatan plasma konvalesen: bisa menimbulkan imunitas untuk orang yang belum terkena Covid-19.

Benarkah begitu?

"Benar," ujar Dr dr Theresia Monica Rahardjo, orang pertama di Indonesia yang menerapkan terapi plasma konvalesen untuk pasien Covid-19.


Monica memang ahli anestesi. Tapi dia juga ahli konsultan ICU. "Cuci plasma itu makanan saya sehari-hari," ujar Monica. "Saya itu mendalami virus, DNA, RNA dan seterusnya," ujar Monica. "Tesis S-2 saya di ITB soal genetika dan biologi molecular," tambahnyi.

Tapi Monica tidak mau diajak bicara soal penumbuhan imunitas lewat Konvalesen. "Lagi sensitif," kata Monica.

Tentu dia juga tidak mau saya ajak bicara soal sel dendritik. Yang lagi ramai dipro-kontrakan. Seperti yang akan dilakukan lewat Vaksin Nusantara.

Dia tidak mau bicara soal itu. Dia ingin konsentrasi dulu di terapi plasma konvalesen (TPK). Agar benar-benar sukses dan Indonesia tercatat dalam prestasi dunia di bidang konvalesen.

"Saya tidak menyangka akhirnya terapi plasma konvalesen diterima secara luas," kata Monica.

Monica ingat awal-awal saat memperkenalkan konvalesen: penentangnya begitu banyak –dari kalangan dokter sendiri. Tapi Monica tidak mau mengingat-ingat itu lagi. "Terlalu menyakitkan," katanyi. "Yang penting Konvalesen sekarang sudah diterima secara luas," tambahnyi.

Proses "menyakitkan" itulah yang kini lagi dialami tim Vaksin Nusantara. Izin uji coba fase 2-nya tetap belum keluar –sampai sekarang. Kabarnya BPOM bahkan minta uji coba itu diulang lagi. Bukan saja mulai dari fase pertama, pun harus dari tahap sebelum fase pertama.

Kenapa konvalesen diizinkan? Itu karena Vaksin Nusantara menyebut dirinya "vaksin". Sedang Konvalesen menyebut dirinya "terapi plasma Konvalesen".

Jadi, semua itu ternyata benar-benar hanya menyangkut definisi vaksin. Bukan lagi soal bisa atau tidaknya menumbuhkan imunitas. Bahwa Konvalesen maupun dendritik bisa menumbuhkan imunitas tidak ada yang membantah. Hanya saja tidak boleh disebut vaksin.

Ahli virus seperti Prof Dr Choirul Anwar Nidom sangat mendukung Vaksin Nusantara. Bahkan Prof Nidom menilai lewat proses Vaksin Nusantara lebih bagus daripada lewat konvalesen.

"Prinsipnya sih mirip. Sama-sama memberi atau menginduksi antibodi dari luar," ujar Prof Nidom, penemu vaksin Flu Burung itu. "Perbedaannya, konvalesen bisa menimbulkan ketidakcocokan protein," ujar guru besar Universitas Airlangga Surabaya itu.

Perbedaan lainnya, kata Prof Nidom, penumbuhan imunitas lewat pemberian konvalesen harus berulang. Itu karena titer yang bisa turun. "Tapi lewat dendritik tidak harus berulang," ujar Prof Nidom. "Itu karena dendritik bisa menurunkannya pada progeni dendritiknya," katanya.

Dari sinilah kelihatannya muncul istilah yang pernah ramai dibahas: Vaksin Nusantara itu untuk seumur hidup.

Berarti, ternyata, yang penting, ada cara selain vaksin untuk menumbuhkan imunitas. Bisa vaksin, bisa Konvalesen, bisa juga dendritik seperti yang dipakai oleh Vaksin Nusantara.

Maka, sebagai bukan ahlinya, saya hanya bisa bertanya: mengapa hanya cara vaksinasi yang diperbolehkan.

Terapi plasma konvalesen akhirnya memang diizinkan. Pun di Amerika. Dasar pemberian izin itu adalah bukti kenyataan.

Bukti kenyataan itu –dalam kasus konvalesen– didapat melalui perjuangan dokter Monica. Tapi itu hanya bisa dilakukan lewat apa yang disebut perjuangan otonomi pasien.

Artinya, pasien punya otonomi untuk memilih: mau disembuhkan dengan cara apa. Untungnya banyak pasien Covid yang minta disembuhkan lewat terapi plasma konvalesen. Dan ternyata terbukti: berkat TPK itu benar-benar muncul imunitas di tubuh pasien.

Apakah berarti Vaksin Nusantara juga harus menempuh jalur memutar yang sudah dilakukan terapi plasma konvalesen?

Entahlah. Seandainya iya pun. Saya akan jadi relawan untuk mencari orang yang mau secara otonom menjalani "terapi Vaksin Nusantara" –kata vaksin di situ sebagai merek, bukan sebagai vaksin.

Misalkan cara itu yang akan ditempuh. Lalu terbukti. Kian banyak yang mau menjalaninya. Lalu akhirnya diizinkan. Maka bangsa ini memang harus selalu lewat jalan memutar –dan karena itu sering kalah cepat.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya