Berita

Moeldoko saat mencium tangan SBY beberapa waktu lalu/Net

Politik

Konferensi Pers di Hambalang, Kubu Moeldoko Pecah?

JUMAT, 26 MARET 2021 | 07:23 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Kubu Partai Demokrat (PD) versi KLB (Kongres Luar Biasa) melakukan  manuver politik dengan menggelar konferensi pers di Hambalang. Video rekaman acara yang beredar secara viral menunjukkan kerumunan orang tanpa protokol kesehatan berjubel di tenda putih kecil yang didirikan di tengah sebuah lahan kosong. Sementara itu, hujan turun dengan deras dan petir menyambar kian kemari.

Pemandangan siang (25/3) itu mirip seperti kisah para petugas pemakaman dan pelayat yang terjebak di tenda makam lantaran kepungan air. Tak pelak, momen itu memancing komentar satir dari Ketua Bappilu PD Andi Arief di akun twitternya, @Andiarief__.

“Saya kira cuma ada  di sinetron televisi. Ternyata ada di dunia nyata. Betul teori bahwa yg diimajinasikan bisa direalisasikan,” cuit Andi.


Sebelumnya, Andi menuliskan twit yang tak kalah gokil, bahwa ada mantan kader Demokrat yang kabarnya kena sambar petir, tapi untung (selamat) karena masih terlindung oleh tenda.

Beberapa pengamat menilai, manuver Kubu Moeldoko menggelar konferensi pers di lokasi tersebut adalah untuk menyerang kubu AHY. Kasus korupsi dalam pembangunan wisma atlet Hambalang terjadi di era SBY dan melibatkan banyak elit partai penguasa waktu itu. KPK menetapkan beberapa tokoh sentral partai bintang mercy di era jayanya, termasuk Anas Urbaningrum dan M Nazaruddin, sebagai tersangka. Keduanya akhirnya divonis bersalah oleh pengadilan walau kini Nazar telah bebas duluan.

Karena itulah, penyelenggaraan konferensi pers di Hambalang terkesan aneh. Meskipun yang hendak diserang adalah SBY atau kubu AHY, narasi kasus korupsi Hambalang juga dapat “membakar” Nazar dan Anas. Disadari atau tidak, tindakan PD kubu Moeldoko tersebut memancing publik untuk membongkar kembali file-file lama pemberitaan kasus Hambalang, dimana akhirnya peran Nazar maupun Anas dalam kasus itu disorot kembali.

Tentu saja, konferensi pers di Hambalang dapat dinilai kontraproduktif bagi kubu Moeldoko. Sebab, Nazaruddin yang ikut “terbakar” itu adalah orang penting dalam penyelenggaraan KLB. Ia dianggap salah satu otak yang memuluskan pelaksanaan KLB di kampung halamannya, Sumatera Utara, dan sejak sebelum gelaran KLB juga telah terpergoki bertemu Moeldoko.

Menurut kesaksian Mantan Ketua DPC PD Kotamobagu, Nazar juga menjadi ‘bohir’ KLB yang memberi uang saku Rp. 5 juta kepada para peserta.

“Kami dijanjikan panitia awalnya Rp. 100 juta tapi cuma dikasih Rp. 5 juta. Kami protes, kami marah. Saat ribut-ribut soal itu akhirnya ditambahkan Rp. 5 juta lagi oleh Pak M Nazaruddin,” ujar Gerald dalam sebuah kesaksian di kantor DPP PD, beberapa hari selepas KLB.

Selain Nazar, kubu Moeldoko juga kerap mengklaim didukung kelompok Anas Urbaningrum. Saat konflik PD memanas akibat KLB, mantan orang dekat Anas yang saat ini menjadi Sekjen Partai Hanura, Gede Pasek Suardika, beberapa kali melontarkan pernyataan keras terhadap SBY dan AHY. Walau tidak secara terang-terangan mendukung KLB, pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai angin segar bagi kubu Moeldoko.

Nazar sendiri tidak terlihat batang hidungnya dalam konperensi pers tersebut. Padahal, dalam event tersebut, beberapa elit PD di jaman dia jadi Bendahara Umum kompak hadir, termasuk Max Sopacua yang sempat keluar dari PD dan bergabung dengan Partai Emas.

Dilandasi oleh latar belakang itulah, kalangan aktivis politik ibukota saat ini  disibukkan oleh pertanyaan, apakah kubu Moeldoko sedang mengalami perpecahan?

Menanggapi pertanyaan tersebut, sosiolog politik dari Universitas Trunojoyo Madura, Khoirul Rosyadi, menilai bahwa perpecahan dalam kelompok-kelompok yang masih belia  sangat biasa terjadi. Apalagi, pada kelompok politik baru tanpa ikatan ideologi yang kuat.

“Terlepas dari benar (pecah) atau tidak, saya menilai kelompok KLB ini kurang solid secara ideologis. Indikasinya, misalnya, beberapa orang yang dipasang jadi narasumber mewakili kubu KLB di televisi maupun media tulis tidak memiliki track record sebagai kader yang berkeringat untuk PD. Ada yang pas Pemilu lalu masih pakai jaket PKB, ada pula yang sebelumnya jadi bagian dari Hanura,” ujar Rosyadi.

Sepanjang pengamatan Rosyadi, kubu KLB diikat oleh kepentingan pragmatik yang berbeda-beda. Dalam perjalanan waktu, akan ada proses negosiasi antar kepentingan di dalam kelompok itu, yang mungkin tidak memuaskan sebagian pihak. Jika tidak dikelola dengan baik, hal tersebut dapat memicu konflik-konflik baru lagi.

“Walau kurang solid secara ideologis, kubu KLB mungkin berharap dapat disatukan oleh ketokohan Pak Moeldoko.Tapi, ini PR yang sangat berat sekali, karena Pak Moel bukanlah figur ideolog dan sebelum KLB juga belum pernah jadi bagian dari perjuangan politik PD,” pungkasnya.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya