Berita

Pengurus DPP Partai Demokrat, Taufiqurrahman/RMOL

Politik

Taufiqurrahman: Demokrat Diacak-acak Karena Sering Bertolak Belakang Dengan Kebijakan Pemerintah

MINGGU, 07 MARET 2021 | 17:19 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Selalu berseberangan dengan kebijakan rezim Joko Widodo, dianggap sebagai salah satu faktor Partai Demokrat (PD) diacak-acak.

Hal itu disampaikan oleh pengurus DPP PD, Taufiqurrahman saat menyampaikan orasi di mimbar bebas di Kantor DPP PD, Jakarta Pusat, Minggu sore (7/3).

Menurut Taufiq, lonceng kematian demokrasi di Indonesia telah dimulai dari adanya Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat yang dianggap ilegal yang terjadi di Deliserdang, Sumatera Utara.


"Ini kejadian yang sangat luar biasa. Dan sebenarnya, ini sudah kita duga sebenarnya," kata Taufiq.

"Kenapa kita duga dari awal? Hari ini, senyatanya Partai Demokrat adalah partai yang berada di luar pemerintahan, kami tidak mempunyai wakil yang duduk di pemerintahan, tapi kami punya kursi di parlemen," terangnya.

Taufiq pun membeberkan sejumlah sikap Demokrat yang selalu berseberangan dengan kebijakan pemerintahan Jokowi.

"Saya tidak perlu sebutkan satu persatu, ketika misalnya Partai Demokrat menolak RUU HIP. Kemudian, ketika Partai Demokrat menolak UU Omnibus Law. Itu jelas sikap yang sangat bertentangan dengan pemerintahan," jelasnya.

Dengan demikian menurut Taufiq, rezim Jokowi saat ini sangat berkepentingan untuk merusak Demokrat. Hal itu dianggap karena rezim merasa sangat terganggu dengan sikap politik Demokrat.

"Dan hari ini, jelas-jelas kekuasaan telah campur tangan di dalam urusan internal Demokrat. Kita sama-sama sadar dan paham di dalam partai politik, ada selalu masalah internal. Tapi kali ini bukan cuma sekadar masalah internal, tapi ada faktor eksternal, ada faktor kekuasaan yang jelas-jelas ikut campur," bebernya.

Dia bahkan menduga adanya kekuatan lain yang besar di belakang Moeldoko yang dipilih KLB ilegal sebagai ketua umum.

"Saya belum bisa menjelaskan secara pasti siapa kekuatan besar itu, tapi saya yakin hari ini nalar masyarakat sudah bisa menebak dan mengira siapa sesungguhnya yang berada di balik Moeldoko," pungkasnya.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya