Berita

Dr. Muhammad Najib/RMOL

Muhammad Najib

Silk Road Di Kawasan Asia Tengah Dalam Perspektif Historis

JUMAT, 26 FEBRUARI 2021 | 19:48 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

SETIAP orang mungkin saja pernah mendengar istilah "Silk Road" atau "Jalur Sutra", akan tetapi boleh jadi persepsi kita tidak sama terkait dengan fenomena yang mewarnai kemajuan peradaban manusia di masa lalu selama berabad-abad ini.

Tulisan ini akan difokuskan atau dibatasi pada pembahasan perkembangan Silk Road dalam perspektif historis di kawasan Asia Tengah.

Silk Road sendiri melingkupi wilayah yang sangat luas, mulai dari China di Timur sampai ke Italia di Eropa, melewati kota-kota penting di Timur Tengah seperti Almathy (kini masuk Kazakstan), Buchara, Samarkand, Termez dan Tashken (kini masuk Uzbekistan), Herat dan Balk (di Afghanistan) Bagdad, Damaskus, Palmira dan Kairo.


Jalur Sultra mewarnai dan mendominasi peradaban manusia selama lebih dari 2000 tahun.

Cerita tentang wanginya parfum sejalan dengan perkembangan ilmu kimia, karpet warna-warni hasil tenunan tangan, keindahan dan kemewahan pakaian terbuat dari sutra, yang dikenakan oleh para bangsawan yang menghuni istana-istana megah dikelilingi taman-taman indah nan memawan, yang berada di sepanjang rute yang dilalui oleh para pedagang yang membawa dagangannya secara berkelompok dengan berkendaraan kuda dan unta.

Lebih dari itu, sepanjang rute ini muncul kota-kota metropolitan, pasar-pasar besar yang disebut dengan "Bazar" tempat mereka bertransaksi, hotel-hotel mewah tempat mereka menginap, madrasah atau universitas bergengsi tempat menimba ilmu, serta perpustakaan tempat berbagai riset ilmiah dilakukan. Bersamaan dengan itu berkembang musik, matematika, dan arsitektur bangunan.

Menurut sejumlah sejarawan, cerita tentang Jalur Sutra dimulai sejak 1.000 tahun sebelum Masehi. Jejaknya bisa dilihat pada mumi-muni Firaun di Mesir, baik dalam bentuk pakaian, rempah-rempah, menyak wangi, maupun obat-obatan, termasuk bahan-bahan yang digunakan untuk mengawetkan mumi.

Akan tetapi istilah "Jalur Sutra" berasal dari bahan pakaian sutra yang ditemukan di China sekitar 6.000 tahun lalu. Semula sutra beredar hanya di daratan China yang dibawa oleh para biksu Budha. Dalam perkembangannya, sutra kemudian menjadi barang yang paling menarik dalam perdagangan global pada waktu itu sampai ke daratan Eropa, melalui rute darat yang kemudian disebut "Jalur Sutra".

Dalam perkembangannya wilayah Asia Tengah terutama di daerah yang kini masuk wilayah Uzbekistan dan Kazakhstan, ulat sutra dikembang-biakkan secara masal dan bahan sutra diproduksi secara masif. Selain bahan sutra, temuan keramik, kertas dan mesiu yang juga pertama kali ditemukan di China, ikut mewarnai wilayah yang dilalui Jalur Sutra.

Jika temuan keramik menimbulkan perlombaan kelompok elite di istana dalam meningkatkan status sesial dengan cara mengoleksi barang-barang keramik terindah, temuan kertas mengakibatkan perkembangan ilmu pengetahuan, sementara temuan bubuk mesiu mengakibatkan eskalasi pertempuran antara para penguasa yang berada di sepanjang jalur ini.

Meskipun perkembangan peradaban manusia di sepanjang jalur yang dilalui Jalur Sutra atau Silk Road sudah dimulai sejak ribuan tajun, akan terapi istilah "Silk Road" sendiri baru muncul pada tahun 1877, diperkenalkan oleh seorang ahli geografi berasal dari Jerman bernama: Ferdinand von Richthofen setelah melakukan ekspidisi ke China pada 1868-1872.

Selain berbagai komodite yang telah disebutkan di atas sebagai sarana interaksi dan transaksi diantara suku-suku dan bangsa-bangsa yang berbeda, penyebaran agama juga ikut mewarnai wilayah-wilayah yang dilalui Jalur Sutra. Paling tidak agama Zoroaster, Budha, Yahudi, Kristen, dan Islam menyebar signifikan melalui jalur ini.

Tidak bisa dipungkiri China menjadi motor dari peradaban yang berkembang di sepanjang Jalur Sutra. Sejak tahun 2013, China kembali berusaha untuk mengembangkan kembali peradaban, bukan saja di sepanjang Jalur Sutra lama, akan tetapi lebih luas lagi meliputi kawasan Eropa, Afrika, dan Asia, termasuk Indonesia.

China menggunakan proyek interkoneksi antar negara melalui jalur TOL, kereta, dan kapal laut ini, dengan nama "The New Silk Road" atau One Belt One Road (OBOR), belakangan menjadi Belt and Road Inisiative (BRI).

Jika proyek ini berhasil, maka ia akan mengubah peta global, baik terkait ekonomi, politik, maupun sosial dan budaya. Bagaimana Indonesia melihat semua ini sebagai peluang?

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Wabah DBD Bangladesh Makin Parah, 42.590 Dirawat dan 117 Lainnya Meninggal Dunia

Senin, 07 September 2026 | 12:27

Purbaya Ajukan Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun di 2027

Senin, 07 September 2026 | 12:14

Public Expose Live 2026, 45 Emiten Siap Buka Kinerja dan Prospek Usaha

Senin, 07 September 2026 | 12:04

Kini Giliran Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kota Bengkulu Dipanggil KPK

Senin, 07 September 2026 | 11:53

Komisi VIII DPR Desak Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:41

Wamenhaj Tekankan Revitalisasi KBIHU dan Pelindungan Jemaah dari Travel Bermasalah

Senin, 07 September 2026 | 11:33

Harga Minyak Naik Lagi Sentuh Level 96 Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:25

Ombudsman Soroti Peredaran Narkoba dan Pungli di Lapas

Senin, 07 September 2026 | 11:21

Cadangan Devisa RI Agustus 2026 Capai Rp2.582 Triliun, Naik 1,2 Miliar Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:19

Belanja Mitigasi Jadi Investasi Hadapi Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:12

Selengkapnya