Berita

Ilustrasi kilang minyak/Net

Publika

BKPM Jangan Kasih Mimpi Angin Surga Ke Sinuhun Soal Kilang Minyak

KAMIS, 18 FEBRUARI 2021 | 09:12 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

MASIH ingat pernyataan Presiden Jokowi tahun 2019 lalu, pembangunan kilang tidak ada kemajuan walau 1 (satu) persen pun, setelah lima tahun menjadi presiden. Ini adalah teguran keras kepada semua pembantu presiden.

Sekarang sudah setahun sejak presiden marah-marah soal kilang, lagi-lagi tidak ada kemajuan berarti dalam soal pembangunan kilang minyak di Indonesia. Pembantu presiden tampaknya cuma tebar janji sekaligus tebar pesona dihadapan sinuhun, seolah olah sudah ada tambahan  kemajuan beberapa persen lagi  pembangunan kilang. Jadi bukan di bawah 1 persen lagi.

Tebar pesona mengenai adanya kemajuan ini datang dari kilang Tuban. Viral video penduduk desa banyak yang menjadi miliarder baru hasil jual tanah untuk pembangunan kilang Tuban.


Mereka mendapatkan ganti untung senilai sedikitnya Rp 600 ribu untuk setiap meter tanah yang dibebaskan oleh pemerintah. Simpang siur berita bahwa yang melakukan pembebasan tanah ini pihak BKPM. Namun informasi lain menyatakan pembebasan tanah dilakukan Pertamina.
 
Benarkah kilang Tuban akan segera dibangun? Siapa investornya? Berapa nilai investasinya? Pertamina keluar uang berapa untuk andil mayoritas dalam proyek ini? Semua ini belum jelas.

Ada media asing menyebutkan investasi kilang tuban mencapai Rp 1.993 triliun. Ada juga media menyebut Rp 199 triliun. BKPM menyebut angka Rp 225  triliun  ada juga mengatakan Rp 700 triliun.

Nilai ini penting karena menyangkut harga kepemikikan saham yang dibayar masing masing pemegang saham. Makin mahal nilai investasi, makin sulit bagi Pertamina untuk andil.

Tetapi walaupun investor belum bawa uang sepeserpun, anehnya sudah ada pembebasan lahan dengan konsep ganti untung. Ini pakai uang siapa? Uang pemerintah atau uang Pertamina? Kok bisa investor asingnya belum ada, tapi Pertamina sudah membebaskan lahan.

Pertamina  dapat uang dari mana? Itu lahan lahan yang dibeli punya siapa? Dan buat apa lahan hingga mencapai 841 hektare lebih dibeli untuk sebuah kilang? Benarkah kebutuhannya seluas itu?

Sebetulnya kilang Tuban sudah gagal. Buktinya dalam lima tahun tidak ada kemajuan apa apa. Tidak investor yang sungguh sungguh tertarik. Semua investor cuma menawarkan janji sejak direktor Mega Project di Pertamina dibentuk, hingga direktor Mega Project Pertamina  dibubarkan, semua janji itu tak kunjung terealisasi bahkan sepeserpun tidak.

Lalu tiba-tiba heboh pembebasan lahan di berbagai media. Belum jelas siapa pelaku pembebasan lahan? Investor swasta, Pertamina atau APBN melalui BKPM. Padahal investor minyak gak bakal datang selama ekonomi Covid-19 masih berlangsung, karena mereka juga sedang sekarat memikirkan utang segunung.

Jadi  investor dari mana di masa susah macam begini? Sekarang lembaga keuangan bank dan non bank sedang sibuk membiayai Covid-19.

Lagi pula tak mungkin ada investor yang akan masuk ke dalam sektor migas saat ini. Pihak yang punya uang gak mau lagi bahan bakar kotor di jalanan, semua menuju energi ramah lingkungan. Elite indonesia pun tahu bahwa investor minyak nggak bakal datang, yang terjadi malah investor minyak yang ada kabur keluar dengan berbagai alasan.

Minyak tidak menjanjikan uang banyak seperti dulu lagi. Dunia menuju komitmen bersama mencapai nol emisi dengan tahapan 2025, 2030 dan 2050.

Jadi heboh pembebasan lahan Tuban tampaknya untuk memberi angin surga pada Sinuhun, agar Sinuhun yakin  dan percaya bahwa pembangunan kilang baru di Indonesia itu bisa, dan sudah terealisasi lebih dari 1 persen. Semoga bisa menyenangkan hati Sinuhun.

Penulis adalah peneliti dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

CELIOS Ungkap Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026

Rabu, 22 April 2026 | 14:13

Penambahan Komando Teritorial Berpotensi Seret TNI ke Politik Praktis

Rabu, 22 April 2026 | 14:05

Mega Syariah Bukukan Akuisisi Dana Pihak Ketiga Rp709 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 14:01

Prabowo Bakal Perbanyak Konser K-Pop di Indonesia

Rabu, 22 April 2026 | 13:49

Konsumsi BBM Harus Bijak di Tengah Gejolak Harga

Rabu, 22 April 2026 | 13:48

Komisi X DPR Sesalkan Dugaan Kecurangan Peserta UTBK Undip

Rabu, 22 April 2026 | 13:48

YLKI Sebut Pajak Tol Salah Sasaran dan Memberatkan Rakyat

Rabu, 22 April 2026 | 13:38

IHSG Sesi I Terkoreksi ke Level 7.544 di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Timur Tengah

Rabu, 22 April 2026 | 13:24

Purbaya Pastikan Nasib Utang Whoosh Sudah Rampung

Rabu, 22 April 2026 | 13:10

Prabowo Jajaki Peluang Kirim WNI Ikut Program Kosmonaut Rusia

Rabu, 22 April 2026 | 12:58

Selengkapnya