Berita

Para pengunjuk rasa mengibarkan bendera partai Liga Nasional untuk Demokrasi selama protes menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar/Net

Dunia

Setelah AS Menjatuhkan Sanksi, Aksi Protes Di Myanmar Semakin Meluas

JUMAT, 12 FEBRUARI 2021 | 13:56 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ratusan dokter dengan jas putih turun ke jalan pada Jumat (12/2) melewati pagoda emas Shwedagon, situs Budha paling suci di negara itu, dalam aksi protes lanjutan yang menentang aturan jam malam dan kudeta militer.

Di bagian lain kota, penggemar sepak bola dengan mengenakan perlengkapan tim, berbaris dengan membawa plakat kecaman kepada militer dengan bahasa yang lucu.

Para pendukung Aung San Suu Kyi, pemimpin Myanmar yang digulingkan, secara terus menerus melakukan aksi protes sejak kudeta terjadi sampai dengan hari ini Jumat (1/2). Terlebih ketika Kamis malam, pasukan keamanan kembali melakukan serangkaian penangkapan, termasuk kepada salah seorang dokter yang ikut serta dalam kampanye pembangkangan sipil yang semakin meningkat.


Reuter menulis, raksasa media sosial Facebook akan memotong visibilitas konten yang dijalankan oleh militer Myanmar karena mereka menyebarkan informasi yang salah setelah merebut kekuasaan dalam kudeta yang terjadi  1 Februari lalu.

Di ibu kota Naypyitaw, beberapa demonstran menutupi kepala mereka dengan seprai dan berpakaian seperti hantu dengan kacamata hitam di bawah terik matahari. Salah satunya membawa plakat bertuliskan “Tidak semua hantu itu menakutkan. Tapi polisi Burma lebih menakutkan”.

"Kami mengharapkan lebih banyak tindakan daripada ini, karena kami menderita setiap siang dan malam karena adanya kudeta militer di sini, di Myanmar," kata seorang pendukung Suu Kyi, Moe Thal, 29 tahun, kepada Reuters.

Protes hari Jumat menandai protes hari ketujuh berturut-turut, termasuk satu protes pada hari Kamis di luar kedutaan besar China di mana para pendukung NLD menuduh Beijing mendukung junta meskipun ada penolakan dari China.

Junta mengirimkan hukuman lebih dari 23.000 tahanan pada hari Jumat, dengan mengatakan langkah tersebut konsisten dengan "mendirikan negara demokrasi baru dengan perdamaian, pembangunan dan disiplin" dan akan "menyenangkan publik".

Pada hari Kamis, Washington memberlakukan sanksinya untuk Myanmar. Memasukkan delapan orang ke dalam daftar hitam, termasuk menteri pertahanan dan dalam negeri, menjatuhkan sanksi tambahan pada dua pejabat militer teratas dan menargetkan tiga perusahaan di sektor batu giok dan permata, menurut situs web Departemen Keuangan.

“Departemen Keuangan AS menunjuk 10 individu dan tiga entitas, sebagai asosiasi mereka dengan aparat militer yang bertanggung jawab atas kudeta tersebut. Tiga entitas, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh konglomerat yang dimiliki atau dikendalikan oleh militer Burma juga telah ditetapkan,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

SBY Desak PBB Investigasi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 12:15

Bansos Kunci Redam Gejolak Jika BBM Naik

Minggu, 05 April 2026 | 11:34

Episode Ijazah Jokowi Tak Kunjung Usai

Minggu, 05 April 2026 | 11:20

Indonesia Jangan Diam Atas Kebijakan Kejam Israel

Minggu, 05 April 2026 | 11:08

KPK Buka Peluang Panggil Forkopimda di Skandal THR Cilacap

Minggu, 05 April 2026 | 10:31

Drone Iran Hantam Kompleks Pemerintahan dan Energi Kuwait

Minggu, 05 April 2026 | 10:20

Krisis Global Momentum Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

Minggu, 05 April 2026 | 10:14

UU Hukuman Mati Israel untuk Tahanan Palestina Mengarah ke Genosida

Minggu, 05 April 2026 | 09:43

Trump Ancam Iran Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam atau Hadapi Konsekuensi

Minggu, 05 April 2026 | 09:33

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Selengkapnya