Berita

Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, ditantang debat Andrianto soal permintaan kritik Presiden Jokowi/Net

Politik

Andrianto Tantang Pramono Anung Debat Terbuka Soal Pernyataan Jokowi

JUMAT, 12 FEBRUARI 2021 | 12:53 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Pernyataan Presiden Joko Widodo yang mempersilakan publik mengkritik pemerintah dianggap bertolak belakang dengan fakta yang ada saat ini.

Respons masyarakat pun makin keras setelah pernyataan Jokowi itu dipertegas oleh Sekretaris Kabinet, Pramono Anung.

"Hal ini sangat bertolak belakang dengan fakta," ujar Presidium Gerakan Pro Demokrasi Indonesia, Andrianto, kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (12/2).


Andrianto pun membeberkan banyaknya para pengkritik yang langsung berhadapan dengan hukum di rezim Jokowi.

"Yang lampau, Rahmawati Soekarnoputri yang tersangka makar tahun 2016 sampai hari ini statusnya masih tersangka. Hatta Taliwang, Sri Bintang Pamungkas, Eggi Sudjana, dan ratusan demontrans mulai peristiwa Bawaslu Mei 2019, tolak revisi UU KPK September 2019, hingga yang terakhir tolak UU Omnibus Law Oktober 2020," beber Andrianto.

Mereka yang bergerak mengkritik pemerintah atas peristiwa itu, kata Andrianto, semua ditangkap, ditahan, dan disidangkan.

"Seperti Akbar dan Jalih Pitung dihukum satu tahun, tapi lebih banyak lagi yang ditahan namun tidak disidangkan. Yang paling krusial ketika icon aktivis Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat hari ini sudah disidangkan karena kritik soal UU Omnibus Law lewat Twitter," terang Andrianto.

Apalagi, Syahganda dan Jumhur sudah empat bulan lamanya ditahan di Rutan Bareskrim Polri dengan pembatasan ketat. Sehingga sulit dikunjungi oleh keluarga maupun tim kuasa hukumnya.

"Cuma ngetwit harus dipenjara. Padahal kontribusi duo ini yang pernah dibui era Orba ikut lahirkan reformasi," tutur Andrianto.

Dengan demikian, Andrianto secara terbuka dan tegas menantang Pramono Anung untuk berdebat soal pernyataan kritik yang tidak sesuai dengan fakta yang ada.

"Maka itu saya menantang debat terbuka Pramono Anung yang eks aktivis ITB. Silakan waktu dan tempat kita sesuaikan. Janganlah karena ketakutanmu terhadap suara kritis oposan maka membuatmu berlaku tidak adil," pungkasnya.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Ironi, Kasat Narkoba Polres Kukar Ditangkap Kasus Narkoba

Jumat, 15 Mei 2026 | 22:14

SOKSI Bangkitkan Program P2KB, Perkuat Kaderisasi dan Konsolidasi Golkar

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:55

Konsultasi Bilateral di Moskow, RI-Rusia Soroti Konflik Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:50

Proyek Coretax DJP Digugat Buntut Aroma Monopoli

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:47

Masalah Etik dan Suap, Menteri PU Panggil Pulang ASN dari Luar Negeri

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:33

Ini Tips Menghitung Komponen Pembayaran Listrik

Jumat, 15 Mei 2026 | 21:02

Nakba dan Perubahan Politik Regional di Timur Tengah

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:57

Mantan Kepala Bakamla Ingatkan Kesiapan Finansial Negara Memodernisasi Alutsista

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:37

Menko Airlangga Bertemu PM Belarus, Ini yang Dibahas

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:36

Pakar: Ibu Kota Negara RI di Jakarta Konstitusional

Jumat, 15 Mei 2026 | 20:09

Selengkapnya