Berita

Presiden Xi Jinping/Net

Dunia

Pengamat: Biden Bukan Trump, Panggilan Teleponnya Kepada Xi Hanyalah Simbolik

JUMAT, 12 FEBRUARI 2021 | 08:56 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

  Panggilan pertama Joe Biden kepada Xi Jinping jelang Tahun Baru Imlek mendapat sorotan baik dari para pengamat. Panggilan itu merupakan langkah pertama dalam mengatasi hubungan yang rusak antar dua negara, terutama dalam empat tahun belakangan ini.

Keduanya saling bertukar salam dan ucapan hangat selamat tahun baru Imlek, disusul percakapan kemungkinan kerja sama dalam penanganan Covid-19 serta perubahan iklim.

Namun demikian, meski sudah saling bertukar pesan, kedua belah pihak memainkan aspek yang berbeda dalam panggilan pertama mereka, yang menjadi pertanda bahwa hubungan yang selama ini bergejolak akan berlanjut di bawah pemerintahan AS yang baru.


Banyak pernyataan dari Washington dan Beijing yang tidak menutupi masalah kontroversial di antara keduanya.

Pesan AS, dalam panggilan pertamanya jelas, menekankan kekhawatiran yang diangkat pada praktik ekonomi, hak asasi manusia, dan Taiwan. Sementara China berfokus pada kerja sama dan dialog.
 
Shi Yinhong, profesor hubungan internasional di Universitas Renmin di Beijing, berpandangan bahwa panggilan itu menunjukkan bahwa kedua pemimpin berusaha untuk menempatkan hubungan di jalur yang benar. Namun dia mengingatkan, sikap keras AS terhadap China akan terus berlanjut.

Dia mengatakan, isyarat itu sebenarnya sudah terlihat pada saat pelantikan Biden 20 Januari lalu. Ketika itu, tim Biden mengatakan bahwa mereka akan mempertahankan sikap keras terhadap China, khususnya di Selat Taiwan dan Laut China Selatan.

Pengamat lain, Wei Zongyou, profesor di Pusat Studi Amerika di Universitas Fudan, mengatakan bahwa diskusi keduanya hanya simbolis. Dia juga mengatakan, meredakan ketegangan China dan AS bukan perkara yang mudah dan bisa selesai hanya dalam waktu semalam.

"Biden berbicara di telepon dengan pemimpin China saat ini, untuk menyampaikan keinginan Tahun Baru Imlek, adalah sinyal penting bahwa dia bukan (Donald) Trump dan dia tidak akan terus terlibat dalam konfrontasi komprehensif di semua lini," kata Wei, seperti dikutip dari SCMP, Jumat (12/2).

“Hubungan memang memiliki peluang untuk berubah, tetapi mengingat banyaknya masalah yang dimiliki kedua belah pihak - di Taiwan, Hong Kong, Xinjiang, perdagangan, teknologi, dan masalah lainnya - akan sangat menantang untuk meredakan ketegangan dan tidak dapat dilakukan dalam semalam," ujarnya.

Biden mentweet pada Jumat pagi bahwa dia telah berbicara dengan Xi tentang 'kekhawatiran tentang praktik ekonomi Beijing, pelanggaran hak asasi manusia dan pemaksaan Taiwan dan akan bekerja dengan China ketika itu menguntungkan rakyat Amerika'.

Sementara Xi, di sisi lain, menekankan bahwa kerja sama adalah satu-satunya pilihan yang tepat untuk kedua belah pihak dan keduanya dapat bekerja sama dalam berbagai masalah termasuk pandemi virus korona dan perubahan iklim.

"Kami berharap kemungkinan sekarang akan mengarah pada peningkatan hubungan China-AS," kata Xi kepada Biden.

Lev Nachman, seorang peneliti tamu di National Taiwan University, mengatakan bahwa apa yang dibicarakan Biden dan Xi dalam panggilan pertamanya itu hanya ditujukan untuk audiens domestik kedua belah pihak, yang menjelaskan mengapa mereka sangat berbeda.

Panggilan Biden dengan Xi justru semakin mencerminkan sifat hubungan bilateral yang lebih konfrontatif dalam beberapa tahun terakhir.  

Sebagai perbandingan, ketika Trump pertama kali menelepon pemimpin China itu pada Januari 2017, Gedung Putih mengatakan Trump telah menyetujui 'permintaan Xi' untuk menghormati kebijakan 'satu China' di Taiwan dalam percakapan yang 'sangat ramah'.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

SBY Desak PBB Investigasi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 12:15

Bansos Kunci Redam Gejolak Jika BBM Naik

Minggu, 05 April 2026 | 11:34

Episode Ijazah Jokowi Tak Kunjung Usai

Minggu, 05 April 2026 | 11:20

Indonesia Jangan Diam Atas Kebijakan Kejam Israel

Minggu, 05 April 2026 | 11:08

KPK Buka Peluang Panggil Forkopimda di Skandal THR Cilacap

Minggu, 05 April 2026 | 10:31

Drone Iran Hantam Kompleks Pemerintahan dan Energi Kuwait

Minggu, 05 April 2026 | 10:20

Krisis Global Momentum Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

Minggu, 05 April 2026 | 10:14

UU Hukuman Mati Israel untuk Tahanan Palestina Mengarah ke Genosida

Minggu, 05 April 2026 | 09:43

Trump Ancam Iran Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam atau Hadapi Konsekuensi

Minggu, 05 April 2026 | 09:33

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Selengkapnya