Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Politik

Masukan Buat Pak Jokowi: Kalau Masih Berupaya Cari Utang Bebaskan Orang-orang Kritis Yang Dipenjara!

RABU, 10 FEBRUARI 2021 | 12:36 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Pernyataan Presiden Joko Widodo yang meminta masyarakat mengkritik pemerintah, dinilai Direktur Eksekutif Indonesia Future Studies (INFUS), Gde Siriana Yusuf, sarat kepentingan ekonomis.

Gde Siriana menganggap begitu lantaran melihat gelagat politik pemerintah yang masih menggenjot perekonomian nasional dan kaitannya dengan perkembangan terkini politik internasional.

Aktivis Bandung Intiative ini menjelaskan, pemerintah kekinian mendeclare gerakan Wakaf Tunai Nasional guna mengisi kas negara yang mulai seret, sehingga tidak memiliki modal pembiayaan untuk menjalankan program pembangunan infrastruktur sebagai satu contohnya.


"Tapi sulit untuk memobilisasi dana (wakaf tunai) ini jika sebagian umat Islam memusuhi pemerintah," ujar Gde Siriana kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (10/2).

Karena itu, Deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) ini memprediksi pemerintah bakal mencari sumber-sumber pembiayaan lain berupa utang luar negeri, untuk membiayai program-program prioritas andalannya.

Namun, Gde Siriana tidak yakin upaya pemerintah mendapatkan utang akan mudah. Karena dia melihat sikap Presiden Jokowi bertolak belakang dengan pernyataannya yang meminta dikritik tapi di sisi yang lain memenjarakan orang yang mengkritik pemerintah.

Persoalan ini, menurut Gde Siriana, akan menjadi satu bahan pertimbangan negara-negara barat yang berpotensi menggelontorkan utang kepada negara.

"Contoh, politik Luar Negeri AS (Amerika Serikat) di bawah (Presiden) Biden itu sangat atensi pada demokrasi dan kebebasan berpendapat, bisa dilihat dari sikapnya terhadap kudeta Myanmar. Sementara di RI banyak rakyat ditangkap dengan UU ITE karena kritik pemerintah," ucapnya.

Maka dari itu, Alumnus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ini menilai pernyataan Jokowi yang meminta dikritik hanya bagian dari pencitraan politik terhadap dunia internasional. Tapi itu akan percuma jika tidak dibarengi dengan membebaskan orang-orang yang mengkritik pemerintah dari penjara.

"Tentu pemerintah RI tidak ingin AS menyoroti sikap represif negara pada rakyatnya. Ini akan berdampak pada upaya pemerintah cari-cari utang pada negara Barat," tuturnya.

"Makanya pemerintah harus membuktikannya dengan membebaskan orang-orang yang kritis dari penjara atau yang masih proses di pengadilan. Karena cepat atau lambat ini akan jadi perhatian rezim Biden, dan masuk agenda diplomatik AS-RI," demikian Gde Siriana Yusuf.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya