Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Politisi Myanmar Ragukan Janji Militer Yang Hanya Akan Berkuasa Satu Tahun Sampai Pemilu Mendatang

SABTU, 06 FEBRUARI 2021 | 10:17 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ketika militer -yang kini menguasai pemerintahan Myanmar- menjanjikan pemilu ulang pada tahun depan, banyak yang meragukan janji Tatmadaw itu. Status darurat militer akan berlangsung di Myanmar selama satu tahun untuk kemudian akan ada pergantian pemerintahan melalui pemilihan umum.

Rakyat mengutip kembali kudeta militer pertama yang dilancarkan Jenderal Ne Win di masa lalu, Saat itu militer mengingkari janjinya untuk mengadakan pemilihan ulang dan memenjarakan anggota parlemen NLD yang juga memenangkan pemilihan umum 1990.  

Penjabat National League for Democracy atau Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), Sai Nyunt Lwin, mengatakan sulit membayangkan Tatmawaw memenuhi janji itu walau ia berharap bisa saja janji itu menjadi nyata.


"Sulit untuk mengatakan. Mungkin itu bisa terjadi, tapi kudeta Ne Win berlangsung selama 26 tahun. Kudeta  Saw Maung dan Than Shwe berlangsung selama 22 tahun,” katanya dengan pesimis, seperti dikutip dari Myanmar Time, Jumat (5/2).

Saat ini partai NLD sedang memantau dengan cermat tindakan Tatmadaw tetapi mengatakan bahwa merebut kekuasaan tidak baik untuk rakyat dan negara. Mereka seperti dilempar pada kenangan buruk masa lalu di bawah kediktatoran militer.

Hal yang sama diutarakan Pe Than, anggota komite kebijakan Partai Nasional Arakan (ANP) yang bermarkas di Rakhine. Ia cukup senang mendengar janji Tatmadaw untuk mengadakan pemilihan dalam waktu satu tahun. Walau begitu, dia menyatakan keraguannya apakah janji itu bisa dipenuhi.

"Meskipun mereka mengatakan hanya (memerintah) satu tahun, saya ragu, karena saya melihat pemerintahan militer sebelumnya yang memerintah lebih dari 20 tahun," katanya.

Jika pemilihan benar dilakukan pada tahun depan, Pe Than mengatakan kemungkinan ANP akan menjadi partai yang tidak lagi ingin bersaing keras. Menurutnya, ANP tidak lagi ingin mengkritik organisasi mana pun tentang apakah mereka baik atau buruk, tetapi akan senang jika organisasi ini membantu dalam melaksanakan pembangunan di Rakhine yang dilanda konflik.

“Kami akan menunggu dan melihat. Kami tidak ingin mengkritik organisasi apakah mereka baik atau tidak. Kami akan menilai seberapa baik mereka berdasarkan apa yang mereka lakukan untuk Negara Bagian Rakhine," katanya, bijak.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Prabowo-Pramono Pasangan Kuat Luar Dalam

Sabtu, 04 April 2026 | 06:08

Ancaman Cuaca Ekstrem dan Air Bersih Warga

Sabtu, 04 April 2026 | 05:40

Batas ‘Scroll’ Anak

Sabtu, 04 April 2026 | 05:14

Jangan Keliru Pahami Langkah Prabowo soal Kunjungan ke Luar Negeri

Sabtu, 04 April 2026 | 05:12

Vicky Mundur dari Polisi, Kasus yang Ditangani juga Ikutan Mundur

Sabtu, 04 April 2026 | 04:38

Satu Orang Tewas Imbas Kecelakaan Beruntun di Tol Solo-Semarang

Sabtu, 04 April 2026 | 04:03

Negara Harus Tegas atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI

Sabtu, 04 April 2026 | 04:00

Mobil Tertimpa Pohon Tumbang di Bandung, Sopir Tewas

Sabtu, 04 April 2026 | 03:38

IAW Peringatkan Potensi Kebocoran Lebih Besar di Bea Cukai

Sabtu, 04 April 2026 | 03:26

Dedi Mulyadi Lunasi Tunggakan Gaji Pegawai Bandung Zoo

Sabtu, 04 April 2026 | 03:03

Selengkapnya