Berita

M. Alwi Hasbi Silalahi/Net

Publika

Revitalisasi Peran HMI, Memperkuat Nilai Kebangsaan Dan Tekan Radikalisme

JUMAT, 05 FEBRUARI 2021 | 21:03 WIB

TINGKAT radikalisme di Indonesia dinyatakan menurun oleh Kepala BNPT. Hal tersebut berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 2020 lalu. Dinyatakan bahwa indeks potensi radikalisme terjadi penurunan sebesar 12,2 persen. Dengan penurunan itu, saat ini indeks potensi radikalisme berada pada angka 14,0 persen.

Meski dinyatakan turun, namun pada kenyataannya masih ada sebesar 14,0 persen potensi terjadinya radikalisme. Sebagaimana yang jamak terjadi di berbagai belahan dunia, nilai dan/atau aksi radikalisme dapat berkembang dengan cepat. Artinya, angka 14,0 persen itu bisa saja bertambah jika tidak dilakukan pengawalan atau kontrol secara komprehensif.

Terkait kemungkinan berkembangnya potensi nilai dan/atau aksi radikalisme, mahasiswa adalah entitas yang biasanya lebih mudah terpapar. Oleh karenanya, upaya untuk menekan pertumbuhan potensi radikalisme di kalangan mahasiswa harus menjadi perhatian besar bagi banyak pihak, termasuk bagi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang hingga saat ini masih menjadi organisasi mahasiswa terbesar dan terkuat di Indonesia.


Memiliki status sebagai organisasi terbesar dan terkuat di Indonesia, ditambah memiliki peran de jure sebagai organisasi perjuangan menurut Anggaran Dasar-nya, HMI menjadi organisasi mahasiswa yang harus mengambil porsi besar dalam upaya menekan potensi radikalisme.

Upaya menekan potensi radikalisme tersebut, dapat dilakukan HMI dengan cara memperkuat  nilai kebangsaan di kalangan mahasiswa. Namun sebelum masuk ke dalam tahap itu, HMI terlebih dahulu harus mempersiapkan diri agar lebih kuat sebab radikalisme juga sangat kuat dalam mengejewantahkan pengaruhnya.  

Persiapan HMI yang dimaksud, adalah merevitalisasi peran HMI sebagai organisasi perjuangan. Jika HMI secara lembaga, kemudian diikuti oleh seluruh kadernya yang tersebar di seluruh Indonesia, maka perjuangan HMI dalam memperkuat nilai kebangsaan mahasiswa dan menekan radikalisme akan semakin terstruktur, sistematis, dan massif.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), adalah salah satu diantara banyak organisasi kemahasiswaan yang sangat berkomitmen menjadikan perjuangan sebagai basis gerakannya. Komitmen tersebut ditunjukkan HMI dengan menjadikan perjuangan sebagai peran organisasi dalam Anggaran Dasar. Selanjutnya, hal-hal yang lebih spesifik tentang bagaimana HMI harus menjalankan perjuangannya, tertuang dalam teks Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP).

NDP bukan sekedar teks yang menjadi formalitas bagi kader HMI dalam berproses di organisasi. NDP semacam “buku saku” bagi kader HMI. Dengan kata lain, NDP digunakan oleh kader HMI bukan hanya sekedar sebagai pusat keilmuan. NDP memberikan banyak hal bagi kader selama kader tersebut dapat mempelajari dan mengaktualisasikan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Di dalam NDP, terdapat nilai-nilai yang bisa menjadi strategi HMI, baik dalam membesarkan organisasi maupun berkontribusi bagi bangsa, negara, dan masyarakat luas.

Dengan kata lain, sebagai dasar untuk berjuang, NDP secara tegas memberi panduan kepada kader HMI untuk berjuang memperkuat agama Islam dan menjaga NKRI dari berbagai ancaman, baik dari dalam maupun luar negara.

Namun beberapa tahun ini, HMI baik secara terlembaga maupun para kader per individu mengalami banyak kemunduran. Terdapat banyak konflik internal yang sesungguhnya menyebabkan kader HMI jauh dari kata produktif. Kader HMI, mulai dari tingkatan paling atas atau PB HMI hingga tingkat paling bawah atau komisariat, mengidap sindrom mengejar kekuasaan belaka sekaligus menurunkan harga dirinya sebagai kaum intelektual.

Kondisi yang digambarkan di atas tentunya sangat bertolakbelakang dari kondisi ideal. Seharusnya, sebagai kader umat, HMI tidak lebih mementingkan kekuasaan dibandingkan perannya sebagai organisasi perjuangan. Umat dan bangsa sangat membutuhkan peran besar dari HMI untuk mewujudkan masyarakat adil makmur.
 
Maka dari itu, revitalisasi peran HMI sebagai organisasi perjuangan sangat penting. Sebab saat HMI tidak mencerminkan perannya sebagai organisasi perjuangan, maka HMI akan sulit melakukan upaya penguatan nilai kebangsaan di diri mahasiswa.

Upaya melakukan revitalisasi itu juga bukan hal yang mudah. HMI beserta seluruh kadernya wajib berkomitmen untuk melakukan perbaikan internal secara terstruktur, sistematis, dan massif. Mulai dari perkaderan formal hingga perkaderan informal, harus diisi dengan agenda memperkuat peran HMI sebagai organisasi perjuangan.  

Di samping itu, HMI juga membutuhkan sosok-sosok yang memiliki hubungan baik dan jaringan yang luas kepada banyak pihak untuk memperkuat upaya merevitalisasi perannya. HMI tidak boleh merasa bisa berjalan secara sendiri-sendiri dalam melancarkan peran dan tujuannya. HMI harus kembali menjadi organisasi yang inklusif dan dapat membawa kepentingan masyarakat luas.

HMI adalah organisasi yang memiliki struktur terlengkap dan kekuatan terbesar untuk menanamkan nilai apapun kepada para mahasiswa. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa HMI adalah organisasi yang paling tepat dan efektif untuk ditempatkan di sektor terdepan dalam upaya menanamkan dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan pada diri mahasiswa.

Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, HMI adalah organisasi yang memiliki struktur dan kader terbanyak di Indonesia. Di hampir seluruh kampus atau perguruan tinggi, HMI menjadi leading sector bagi kalangan mahasiswa. Bahkan tidak jarang, gerakan dari HMI turut menentukan situasi perguruan tinggi, daerah, hingga negara.

Apalagi jika upaya dalam merevitalisasi peran HMI sebagai organisasi perjuangan telah berhasil, maka HMI akan memiliki modal yang besar untuk menerima tanggungjawab sebagai salah satu pihak dalam menekan paham radikalisme.

Kesetiaan dan kontribusi HMI terhadap bangsa ini sudah teruji. HMI selalu mengawal keutuhan bangsa dan NKRI, serta selalu berikhtiar memberi yang terbaik untuk masyarakat luas. Nilai-nilai serta prinsip-prinsip yang ditanamkan di perkaderan HMI, membuat para kadernya memiliki integritas yang kuat dalam mengembang tanggungjawab sebagai “Harapan Masyarakat Indonesia”.

M. Alwi Hasbi Silalahi
Ketua Badko HMI Sumatera Utara yang maju sebagai calon Ketua Umum PB HMI

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya