Berita

Dosen hukum Unusia, Bakhrul Amal/RMOL

Publika

Menelaah Kebijakan Sertifikat Tanah Elektronik

RABU, 03 FEBRUARI 2021 | 22:25 WIB

TAHUN ini Pemerintah, melalui Kementrian AATR/BPN, mengeluarkan terobosan baru di bidang hukum pertanahan. Terobosan yang dilakukan pemerintah tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri ATR/Kepala BPN Nomor 1 Tahun 2021 tentang Sertifikat Elektronik.

Terobosan yang dilakukan pemerintah dalam mengelektronikan sertifikat memuat dua tujuan penting. Pertama adalah tujuan untuk memodernisasi sistem pendaftaran tanah beserta dengan alat bukti kepemilikannya.

Kedua, menurut beberapa sumber, sistem ini juga dipergunakan untuk menghalau mafia tanah.


Kelebihan

Tujuan pertama, modernisasi sistem pendaftaran tanah, memiliki setidaknya tiga kelebihan. Kelebihan pertama adalah mengurangi kemungkinan adanya pungutan liar yang kerap dialami oleh masyarakat ketika melakukan pendaftaran tanah.

Dengan sistem elektronik semuanya transparan dan sesuai dengan mekanisme yang telah disepakati.

Kelebihan kedua, masyarakat juga akan lebih mudah dalam mengakses keabsahan kepemilikan tanah apabila hendak melakukan jual beli. Sengketa di pengadilan kerap terjadi dalam persoalan ini.

Contohnya saja jual beli berdasarkan kesepakatan belaka atau berdasarkan alat bukti pembayaran pajak. Jual beli yang belum jelas ini yang di kemudian hari banyak digugat oleh pemilik aslinya.

Ketiga, modernasi ini juga dapat membantu masyarakat dalam soal pendudukan tanah. Masyarakat kadangkala sulit mengakses pemilik asli yang dengan begitu mereka tidak mengetahui apakah tanah tersebut adalah miliknya atau orang lain.

Dengan modernisasi sertifikat ini semuanya bisa terang dan masyarakat dapat mengetahui langkah apa yang mesti diambil terkait dengan hak atas tanahnya yang sedang didudukinya.

Tujuan kedua, atau menghalau mafia tanah, bisa lebih mudah dilakukan dan diakses bersama dengan masyarakat. Dahulu akses ini sulit diperoleh karena belum atau kurang transparannya hal ihwal informasi kepemilikan tanah.

Dengan sistem elektronik, masyarakat akan lebih mudah mengakses dan mengambil tindakan akan kemungkinan kerugian yang diperolehnya.

Kekurangan

Modernasi ini setidaknya memiliki dua kekurangan. Kekurangan pertama adalah soal fakta dilapangan terkait masih banyaknya sengketa yang belum terselesaikan. Baik sengketa yang masih berjalan maupun sengketa yang belum diketahui persoalannya.

Sengketa yang belum diketahui persoalannya salah satunya adalah sengketa akibat adanya dua sertifikat dalam satu bidang tanah.

Permen ATR/BPN Nomor 1/2021 belum menjelaskan betul mengenai kemungkinan adanya dualisme kepemilikan ini.

Jika ditemukan fakta demikian maka alat bukti yang dianggap sah ketika dilayangkannya sebuah gugatan adalah alat bukti sertifikat elektronik atau sertifikat yang berbentuk fisik?

Untuk diketahui bahwa alat bukti elektronik di bidang Hukum Acara Perdata masih menimbulkan pro dan kontra.

Oleh sebab itu selain dibuatkan sertifikat elektronik, pemilik juga mestinya tetap harus memegang bukti fisik. Bukti fisik ini penting untuk menjamin kepastian hak ketika terjadi gugatan atau hal-hal darurat lainnya.

Selanjutnya pemerintah juga perlu memperjelas alat bukti elektronik ini, terkait sertifikat elektronik pula di dalamnya, di bidang Hukum Acara Perdata.

Kekurangan yang kedua adalah soal kemutakhiran sistem. Sistem elektronik ini dinilai masih banyak kekurangan dan kelemahan yang rawan disalahgunakan.

Kita mengetahui penyedia aplikasi sekelas Facebook, Google, dan lainnya saja masih memungkinkan mengalami kebocoran data.

Jika tidak disiapkan betul dengan maksimal, bukan tidak mungkin bocornya data dan dihacknya sistem sertifikat elektronik ini terjadi.

Dan jika itu terjadi maka dapat merugikan masyarakat ke depannya. Persoalan tanah bagi masyarakat adalah soal hidup dan mati, berkurang 1cm saja maka harga diri adalah pertaruhannya.

Penutup

Penulis menyarankan agar pemerintah lebih bisa cermat dalam menghindari kemungkinan persoalan yang disebutkan di atas. Kecermatan itu penting agar tujuan yang diharapkan bisa berjalan sesuai dengan kebaikan bersama.

Jangan sampai, mengutip teori Bastiat soal The Broken Window, terobosan yang baik itu justru menimbulkan dampak yang tidak baik.

Dampak yang tidak baik itu bisa berupa dampak yang tampak maupun tak nampak.


Bakhrul Amal
Penulis adalah dosen UNUSIA Jakarta dan Penulis Buku Hukum Tanah Nasional

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya