Berita

Ilustrasi/Net

Dahlan Iskan

Clearing Vaksin

MINGGU, 03 JANUARI 2021 | 05:14 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

TUTUP tahun kemarin masih ada 690 mayat yang belum bisa dikuburkan. Itu hanya di New York. Belum kota lain.

Mayat itu masih ditaruh di truk-truk kontainer yang dilengkapi alat pembeku. Yakni truk cold storage yang biasa untuk mengangkut daging atau ikan beku.

Sudah berbulan-bulan mayat itu tertahan di situ: di dekat pelabuhan. Di situ puluhan truk-mayat parkir berjajar menunggu penyelesaian.


Yang utama karena mayat itu belum ada yang mengakui. Juga karena tenaga pengubur tidak cukup. Jumlah mayat baru selalu lebih banyak dari kemampuan menguburkan.

Belum lagi ditambah akibat lonjakan baru. Bulan Desember 2020 kemarin ternyata justru menjadi bulan terparah di Amerika. Lebih parah dari bulan terparah sebelumnya: April 2020.

Maka vaksinasi memang harapan satu-satunya. Tentu banyak tantangan. Misalnya di Wisconsin. Seorang apoteker terpaksa ditangkap. Ia dianggap ceroboh. Vaksin yang ada di tempat penyimpanan ia keluarkan. Kelihatannya tidak apa-apa, tapi rusak.

Memang suhu di udara terbuka di Wisconsin sekitar 0 derajat hari-hari ini. Tapi itu tidak cukup dingin bagi vaksin.

Peringatan dari vaksin buatan Moderna sudah sangat keras: kalau sampai vaksin itu dikeluarkan lebih 12 jam dari alat penyimpanan tidak boleh dipakai lagi.

Bahkan vaksin buatan Pfizer harus disimpan di tempat yang suhunya Anda sudah hafal: minus 70 derajat celsius.

Padahal vaksin itu sudah siap disuntikkan ke tenaga medis. Jumlahnya hampir 600 unit. Eman sekali. Tidak bisa lagi dipakai.

Saya bisa membayangkan betapa sulit handling vaksin buatan Pfizer ini. Lebih-lebih untuk negara seperti di Indonesia. Di Amerika pun terjadi seperti itu. Masih untung: ketahuan.

Tapi secara umum vaksinasi di Amerika berjalan lancar. Beberapa orang memang mengalami gangguan akibat efek vaksin itu. Semua hanya sementara. Beberapa jam. Yang terlama 30 jam.

Ada yang badannya panas, atau pening kepala, tapi semua itu memang begitu: tidak semua orang mengalaminya.

Tentu reaksi masyarakat akan sangat nano-nano. Di mana-mana. Termasuk di Indonesia. Kebenaran bisa bercampur hoax. Peredaran medsos tak terkendali. Ramai sekali.

Maka sebaiknya Menkes kini memiliki tim khusus clearing house. Khusus untuk masalah vaksinasi. Dengan tingkat kemampuan komunikasi yang sabar tapi canggih.

Di Shanghai pernah sukses sekali. Untuk menjawab seluruh pertanyaan tentang Covid. Berhasil menjadi pedoman masyarakat. Agar tidak terombang-ambing oleh medsos.

Tim clearing house vaksinasi itu perlu mempunyai akun tersendiri. Siapa pun boleh bertanya. Termasuk menanyakan kebenaran isi sebuah medsos.

Rasanya clearing house itu bisa melengkapi penampilan baru kemenkes. Yang terlihat lebih terbuka, egaliter, dan modern.

Itu akan seiring dengan gaya dan penampilan menkes yang baru: Budi Sadikin. Yang mendapat simpati sangat luas. Terutama mengenai caranya tampil di podium.

Saya pun jadi tertarik melihat videonya. Ingin tahu mengapa banyak orang bilang begitu.

Benar. Gaya menkes tampil di podium adalah gaya seorang CEO perusahaan global. Bukan gaya seorang birokrat. Terlihat jujur. Seperti tidak ada yang disembunyikan. Seperti tidak ada agenda yang ditutup-tutupi.

Tapi luar biasa lalu-lintas medsos di sekitar vaksinasi ini. Terlihat semua yang posting di medsos yakin sekali dengan apa yang mereka posting. Padahal banyak yang isinya kacau balau.

Maka lembaga clearing house khusus untuk vaksinasi terasa lebih penting lagi sekarang ini.

Yang juga ramai adalah di Inggris. Otoritas kesehatan di sana tiba-tiba memutuskan agar suntikan kedua ditunda. Bukan setelah 21 hari dari suntikan pertama, tapi 3 bulan kemudian.

Alasannya: kasihan yang antre suntik pertama terlalu banyak. Tidak fair kalau vaksin yang ada diberikan untuk suntikan kedua. "Lebih baik untuk memperbanyak orang yang diberi suntikan pertama," ujar otoritas di sana.

Pandemi Covid-19 di Inggris memang parah. Maka otoritas ambil langkah darurat: segera memutus pandemi itu. Toh, dengan suntikan pertama antibodi sudah muncul. Memang belum cukup banyak, tapi sudah bisa dipakai bertahan untuk tiga bulan.

Keputusan itu ditentang secara luas. Tapi Menkes Inggris bertahan pada putusannya itu.

Di mana-mana, jadi Menteri Kesehatan di masa sekarang ini memang sangat pusing.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Bos Danantara Ungkap Proses Pangkas BUMN Tak Mudah

Rabu, 07 Oktober 2026 | 12:11

Hingga Siang Nusron Belum Hadir, KPK Masih Menunggu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:53

PJBS Direvisi, Porsi Saham Bayan Resources yang Dibeli Haji Isam Bertambah Jadi 10,08 Miliar

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:44

Nasib Gibran Kini Tergantung Prabowo

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:37

Empat WNI Pulang ke Tanah Air usai Enam Bulan Disandera Bajak Laut Somalia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

PDIP: Kebohongan Gibran Lulus SMA Sederajat Tercatat dalam Putusan Negara!

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:31

Putusan MK soal Gibran Buka Perdebatan Demokrasi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:21

DPR Minta Pemerintah Percepat Huntara bagi Korban Gempa Flores

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:19

Rita Widyasari Kembali Diperiksa KPK

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:17

Badai Dekati Amerika, Harga Minyak Naik Lagi

Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:01

Selengkapnya