Berita

Presiden Iran Hassan Rouhani/Net

Dunia

2020, Tahun Penuh Cobaan Bagi Iran

RABU, 30 DESEMBER 2020 | 08:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tahun 2020 menjadi tahun penuh cobaan bagi Iran. Serangkaian peristiwa yang terjadi sepanjang tahun ini telah memperdalam krisis yang sedang mencekik negeri yang selama ini sudah mengalami masa-masa sulit akibat sanksi AS.

Pada 2020, ribuan orang Iran juga kehilangan nyawa karena pandemi virus corona dan beberapa peristiwa sosial. Selain itu, krisis politik juga semakin meningkatkan isolasi internasional terhadap Iran.

Diawali kematian Soleimani, itu adalah peristiwa paling mengejutkan tahun ini bagi Iran. Pembunuhan Jenderal Iran Qasem Soleimani pada bulan Januari, telah meluluhlantakan hati semua warga Iran.


Soleimani tewas bersama Abu Mahdi al-Muhandis, wakil pemimpin milisi Hashd al-Shaabi Irak atau Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) dalam serangan udara drone AS di luar Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari tahun ini, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Selasa (29/12).

Soleimani, yang disebut 'martir yang hidup' oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, adalah orang kunci dalam menentukan kebijakan regional Teheran.

Pasca kematian sang jenderal, tepatnya pada 5 Januari, Iran mengumumkan bahwa mereka tidak akan lagi memenuhi komitmen apa pun di bawah kesepakatan nuklir 2015 yang ditandatangani dengan kekuatan dunia.

Pada 7 Januari, setidaknya 56 pelayat tewas dan 213 lainnya terluka dalam penyerbuan selama pemakaman Soleimani di Iran.

Sehari setelahnya, tepatnya pada 8 Januari, Iran menargetkan pangkalan udara Ain al-Asad yang menampung pasukan AS dan koalisi dengan puluhan rudal. Sementara otoritas Iran mengklaim bahwa setidaknya 80 tentara AS tewas, Washington membantah adanya korban.

Pada hari yang sama, sebuah pesawat penumpang tipe Boeing 737 milik Ukraina jatuh di dekat Teheran, menewaskan 167 penumpang dan sembilan awak di dalamnya.

Cobaan lain yang tak kalah berat bagi Iran adalah perjuangan melawan Covid-19 dam sanksi AS.

Iran telah berjuang untuk mengatasi pandemi sejak Februari tahun ini, ketika kasus pertama dikonfirmasi di kota Qom.

Sejauh ini Iran telah mengkonfirmasi total 54.814 kematian terkait virus dan lebih dari 1,2 juta infeksi. Lebih dari 5.200 pasien berada dalam kondisi kritis, sementara pemulihan melampaui 960.700. Di negara dengan populasi 83 juta, lebih dari 7,4 juta tes telah dilakukan hingga saat ini.

Ketika situasi semakin memburuk karena pandemi Covid-19, para pejabat Iran lebih keras mendesak Washington untuk mencabut sanksi terhadap negara tersebut, namun AS bergeming.  

Ketika AS menolak tuntutan Iran untuk mencabut sanksi, para pejabat Iran menuduh Washington melakukan "teror ekonomi dan kesehatan".

Para pejabat Iran telah berulang kali mengatakan bahwa negara tersebut tidak dapat membeli vaksin Covid-19 dan pasokan medis dari luar negeri karena sanksi tersebut.

Selanjutnya, peristiwa pembunuhan ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh. Pada 27 November, Iran mengumumkan bahwa ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh (63) dibunuh ketika mobilnya menjadi sasaran di pinggiran Teheran.

Menteri Luar Negeri Javad Zarif mengatakan Israel "kemungkinan besar terlibat" dalam pembunuhan ilmuwan itu. Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei juga menyerukan tindakan terhadap para pembunuh Fakhrizadeh.

Pada 1 Desember, parlemen Iran mengadopsi rencana untuk lebih menurunkan komitmen Iran di bawah kesepakatan nuklir 2015 sebagai tanggapan atas pembunuhan Fakhrizadeh. Rencana tersebut mengharuskan pemerintah untuk melanjutkan pengayaan uranium 20 persen dan meningkatkan persediaan uranium yang diperkaya rendah (LEU).

Meskipun mendapat tentangan keras, badan pengawas tertinggi Iran pada 2 Desember menyetujui rencana tindakan parlemen untuk melawan sanksi AS dengan mempercepat program nuklirnya.

The Guardian Council, sebuah badan dengan mandat konstitusional yang diberdayakan untuk legislasi dokter hewan, menyetujui rencana yang diharapkan dapat meredam upaya pemerintah baru-baru ini untuk membuka saluran komunikasi dengan pemerintah AS yang baru untuk kembali ke pakta nuklir 2015.

Satu-satunya yang mungkin jadi peristiwa paling positif bagi Iran pada tahun 2020 adalah kemenangan Presiden terpilih Joe Biden dalam pemilihan presiden AS, yang menandakan kembalinya kesepakatan nuklir dengan Teheran.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Polisi Pastikan Pengemudi Pikap yang Tabrak Petugas di Gerbang DPR Mabuk Alkohol

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:26

Wakil Presiden Tanzania Emmanuel Nchimbi Mundur Usai Berselisih dengan Presiden

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:18

Wall Street Melemah, Investor Cermati Pidato Kevin Warsh

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:14

Dony Oskaria Bongkar Penataan BUMN: 290 Selesai, 254 Jadi Target

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:03

Banjir Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Paus Leo XIV Kirim Doa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:46

Saham Eropa Melesat Cantik Dipimpin Sektor Mewah dan Perbankan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:34

Dua Sumur Baru PHSS di Struktur Semberah Lampaui Target Produksi Migas

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:19

PKM Dorong Keluarga Muba Naik Kelas, Rp25 Juta Jadi Modal Kemandirian Ekonomi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:07

Ichsanuddin Noorsy dan Pemikiran Ekonomi Konstitusi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:54

MBG Jadi Bantalan Ekonomi Masyarakat Bawah, Kritik jadi Evaluasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:46

Selengkapnya