Berita

Berita mengenai perjanjian ekstradisi China dengan Turki/Net

Dunia

China Sahkan Perjanjian Ekstradisi Dengan Turki, 50 Ribu Diaspora Uighur Cemas Bakal Dijadikan Sasaran

SELASA, 29 DESEMBER 2020 | 11:32 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

China telah mengumumkan pengesahan perjanjian ekstradisi dengan pemerintah Turki. Banyak yang mengkhawatirkan bahwa perjanjian itu akan digunakan Beijing  untuk mempercepat pemulangan pengungsi tertentu dan Muslim Uighur yang dicurigai melakukan terorisme.

Meskipun parlemen Turki belum meratifikasi perjanjian bilateral yang ditandatangani pada tahun 2017, hal itu telah menimbulkan kekhawatiran di antara diaspora Uighur yang jumlahnya diperkirakan mencapai 50 ribu orang di negara itu.

Turki sendiri memiliki ikatan linguistik dan budaya dengan Uighur dan Ankara telah lama menjadi salah satu pembela utama perjuangan mereka di panggung internasional. Belakangan dukungan publik Turki dirasakan telah memudar.


Di wilayah Xinjiang (barat laut), China telah memulai kebijakan pengawasan maksimum terhadap warga Uighur setelah terjadi banyak serangan mematikan terhadap warga sipil di sana. Beijing menyalahkan serangan kepada separatis Uighur dan gerakan Islamis.

Menurut para ahli asing, otoritas China telah menahan setidaknya satu juta orang, termasuk Uighur, di ‘kamp’ mereka. Beijing menolak tuduhan yang lancarkan Barat itu.

Berulang kali otoritas China mengatakan bahwa kamp yang dituduhkan pihak Barat adalah ‘pusat pelatihan kejuruan’, bukan penjara atau tahanan. Kamp itu dimaksudkan untuk membantu melatih kembali penduduk yang sempat terlibat ekstremisme dengan berbagai keahlian.

Beberapa orang Uighur yang diyakini menjadi korban penganiayaan telah melarikan diri ke Turki.

“Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional telah meratifikasi perjanjian ekstradisi China-Turki,” kata parlemen China pada Sabtu (26/12) malam waktu setempat dalam sebuah pernyataan singkat di situsnya.

Namun, ekstradisi dapat digugat dengan beberapa alasan.

Secara khusus, jika Negara yang menerima permintaan ekstradisi menganggapnya terkait dengan “kejahatan politik”,  atau jika orang yang dipermasalahkan adalah salah satu warga negaranya atau jika yang terakhir berhak atas suaka.

“Perjanjian ekstradisi ini akan menimbulkan kekhawatiran di antara warga Uighur yang telah melarikan diri dari China dan belum memiliki kewarganegaraan Turki,” kata Dilxat Raxit, juru bicara Kongres Dunia Uighur, sebuah organisasi pengasingan yang berbasis di Jerman, kepada AFP.

“Kami menyerukan kepada pemerintah Turki untuk mencegah perjanjian ini menjadi alat penganiayaan,” katanya, seraya memastikan bahwa Beijing memberikan tekanan ekonomi kepada Turki untuk meratifikasi perjanjian itu.

Pertanyaan itu rumit bagi Ankara karena Turki secara global sensitif terhadap perjuangan Uighur. Artikel berita yang menuduh Turki secara diam-diam mengusir warga Uighur ke China telah memicu kemarahan publik.

Turki adalah satu-satunya negara dengan mayoritas Muslim yang sejauh ini secara terbuka mengecam perlakuan terhadap orang Uighur.

Menteri Luar Negeri Turki pada awal 2019 bahkan menggambarkannya sebagai “aib bagi kemanusiaan”.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, bagaimanapun, memuji China atas kebijakan yang dilakukan di Xinjiang saat dirinya melakukan kunjungan ke negara itu, dan menilai orang-orang di sana hidup bahagia.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya