Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Ojo Dumeh Memberhalakan Apapun

KAMIS, 17 DESEMBER 2020 | 08:13 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

AKIBAT asyik mempelajari apa yang disebut angka, saya sempat menggagas angkamologi. Di dalam proses penelusuran pembelajaran angkamologi saya berhasil menarik kesadaran tentang sisi negatif angka apabila saya memberhalakan angka.

Duwit


Misalnya apabila memberhalakan angka, maka manusia rawan menganggap uang bukan sebagai alat namun tujuan.


Memang uang penting sebagai alat transaksi di ranah kehidupan sosial-ekonomi umat manusia. Namun begitu dijadikan tujuan, langsung uang menebar virus kerakusan demi membius kalbu budi-pekerti manusia.

Akibat memberhalakan angka maka manusia menjadi rakus tanpa kenal batas kepuasaan. Makin banyak jumlah uang sudah berhasil dihimpun makin besar nafsu angkara murka untuk menghimpun angka dalam jumlah lebih besar lagi bahkan kalau perlu secara tega menghalalkan segala cara.

Akibat rakus uang manusia mudah lupa bahwa setelah manusia mati maka uang tidak memiliki manfaat bagi manusia mati yang di masa hidup merasa memiliki uang.

Kekuasaan


Di negara demokratis yang melahirkan pemilihan umum, angka juga menjadi sangat amat terlalu penting! Sebab angka lah yang menetapkan siapa menang siapa kalah dalam pemilu.

Akibat terlalu ambisi untuk menang maka manusia rawan lupa-daratang sehingga tega melakukan kecurangan demi merekayasa hitungan suara agar diri menang dalam pemilu.

Setelah angka berhasil membuat manusia memiliki kekuasaan yang seharusnya adalah alat untuk mengabdikan diri manusia kepada negara, bangsa dan rakyat, langsung manusia yang sudah duduk di atas tahta kekuasaan rawan lupa-daratan sehingga menjadi kekuasaan menjadi tujuan.

Begitu alat dijadikan tujuan, langsung manusia yang sudah menikmati nikmatnya kekuasaan rawan lupa-daratan sehingga dengan segala cara termasuk yang haram gigih berjuang untuk mempertahankan kekuasaan.

Kalau perlu dengan mengorbankan negara, bangsa dan rakyat demi mempertahankan kekuasaan yang sudah berada di dalam genggaman dirinya sendiri.

Statistik


Angka juga siap merubah pandangan manusia terhadap sesama manusia apalagi apalagi angka dikembangkan untuk menjadi apa yang disebut sebagai statistik.

Di era informasi di mana informasi menjadi komoditas utama di dalam peradaban, manusia kerap menjadikan statistik sebagai sumber informasi utama. Manusia lupa bahwa statistik adalah buatan manusia yang tentu saja siap disesuaikan dengan kebutuhan manusia yang membuat atau membeli statistik sebagai komoditas perdagangan.

Makan misalnya manusia menjadi sedemikian terbiasa menyimak statistik tentang korban jiwa manusia akibat virus Corona, kecelakaan lalu lintas, bencana alam, pembunuhan manusia terhadap manusia sehingga manusia cenderung memandang manusia sekedar sebagai angka belaka.

Karena angka memang tidak memiliki perasaan maka manusia cenderung memandang angka tentang manusia juga tanpa perasaan.

Manusia lalai merasa bahwa sebenarnya manusia memiliki perasaan. Maka kerap terdengar ada yang dengan mudah dan santai menyatakan “Ah, yang mati cuma satu saja kok !” tanpa merasakan bagaimana perasaan diri kita sendiri andaikata yang mati adalah suami atau istri atau anak atau ayah atau ibu atau sahabat yang kita cintai.

Jelas bahwa satu yang mati saja sudah terlalu banyak!

Kemanusiaan


Memang benar bahwa apabila yang mati adalah saya sendiri maka tidak masalah bagi saya sendiri karena setelah mati saya kehilangan segenap perasaan saya.

Namun apabila yang mati adalah orang lain, sebaiknya jangan sampai saya ilfil alias kehilangan perasaan terhadap perasaan sesama manusia akibat saya terlanjur memandang manusia sekedar sebagai angka.

Seyogianya saya tetap berpegang teguh kepada sila ke dua Pancasila yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab agar saya mampu dan mau ikut merasakan derita duka-cita sanak keluarga yang ditinggalkan oleh yang meninggalkan dunia fana ini.

Berbahagia atas derita sesama manusia merupakan perasaan yang paling keliru maka kurang layak dianggap beradab.

Pada hakikatnya adalah lebih bijak dan lebih beradab apabila saya selalu berupaya eling alias tidak lupa kenyataan bahwa sehebat-hebatnya apa yang disebut angka sebagai data dan informasi adalah buatan manusia sementara seburuk-buruknya manusia seperti saya adalah ciptaan Yang Maha Kasih.

Maka sebaiknya saya selalu eling lan waspada untuk senantiasa ojo dumeh agar jangan sampai terkebur menganggap buatan manusia menjadi lebih penting ketimbang ciptaan Yang Maha Kasih.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Koperasi Berbasis Masjid Diharap Bangkitkan Ekonomi Lokal

Sabtu, 14 Maret 2026 | 18:02

Ramadan Momentum Menguatkan Solidaritas Sosial

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:44

Gerebek Rokok Ilegal Tanpa Tersangka, PB HMI Minta Dirjen Bea Cukai Dievaluasi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:21

Mudik Arah Timur, Wakapolri: Ada Peningkatan Volume Kendaraan Tapi Lancar

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:08

Rencana Libatkan TNI Berantas Terorisme Kaburkan Fungsi Keamanan dan Pertahanan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:46

Purbaya: Ramalan Ekonomi RI Hancur di TikTok dan YouTube Tak Lihat Data

Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:21

KPK Tetapkan 2 Tersangka OTT di Cilacap

Sabtu, 14 Maret 2026 | 15:58

Komisi III DPR Minta Negara Tanggung Penuh Biaya Pengobatan Aktivis KontraS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 14:38

AS Pastikan Harga Minyak Dunia Tak akan Tembus 200 Dolar per Barel

Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:55

Amerika Salah Perhitungan dalam Perang Melawan Iran

Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:43

Selengkapnya