Berita

Pemimpin oposisi Belarusia Svetlana Tikhanovskaya/Net

Dunia

Dapat Penghargaan Hak Asasi Dari Uni Eropa, Pemimpin Oposisi Belarusia Makin Pede: Kami Pasti Akan Menang!

KAMIS, 17 DESEMBER 2020 | 07:27 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pemimpin oposisi Belarusia Svetlana Tikhanovskaya terlihat semakin percaya diri bahwa dia bisa mengantarkan kemenangan gerakan yang dibelanya untuk menggulingkan rezim Alexandr Lukashenko. Terutama setelah ia menerima penghargaan hak asasi tertinggi Uni Eropa pada Rabu (16/12).

Dalam pidatonya dia bersumpah, meskipun ada tindakan keras oleh otoritas Minsk, gerakan protes terhadap Lukashenko pasti akan menang.

“Kami pasti akan menang, dan kami akan menang!” kata mantan calon presiden yang diasingkan itu di Brussel, saat menerima Penghargaan Sakharov atas nama gerakan oposisi, seperti dikutip dari AFP, Rabu (16/12).


“Saya hanya punya satu keinginan tahun ini. Saya ingin setiap orang Belarusia yang sekarang dipenjara atau dipaksa hidup di pengasingan untuk pulang,” kata Tikhanovskaya, yang saat ini berbasis di Lithuania, kepada Parlemen Eropa.

Tikhanovskaya juga kembali menuntut tanggapan yang lebih keras dari Eropa terhadap rezim Lukashenko. Menurutnya, orang kuat di Belarusia itu dibiarkan tetap berkuasa lebih dari seperempat abad.  

“Kami menyerukan Eropa untuk lebih berani dalam keputusan mereka dan mendukung rakyat Belarus sekarang, bukan besok dan lusa. Tindakanlah yang penting!” ujarnya.

Belarusia telah dicengkeram oleh empat bulan demonstrasi anti-pemerintah pasca Lukashenko menang telak atas lawannya Tikhanovskaya yang menuding bahwa dia telah dicurangi.

Demo yang berkepanjangan dan merusak fasilitas itu, terpaksa diamankan pasukan Belarusia. Aparat  melakukan tindakan yang lebih tegas lagi dengan menangkap pelaku kerusuhan. Sejak itu beberapa oposisi melarikan diri pengasingan, termasuk Tikhanovskaya.

Sementara, Uni Eropa telah memberlakukan sanksi terhadap lebih dari 50 pejabat, termasuk Lukashenko dan putranya, dan duta besar Eropa di Brussels pada Rabu (16/12) sepakat untuk menambahkan nama lebih banyak ke daftar hitam mereka.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya