Berita

Pastor Franz Magnis-Suseno/Net

Publika

Kita Dan HRS

MINGGU, 13 DESEMBER 2020 | 08:16 WIB

SEJAK Habib Rizieq Shihab (HRS) pulang tanggal 10 November 2020 dari tiga tahun di Mekkah, ribu-ribut sekitar dia tak habis-habis. Mirip dengan kembalinya Imam Khomeini di Teheran, Iran pada tanggal 1 Februari 1979. Terjadi kerumunan puluhan ribu pendukung di Soekarno-Hatta, di depan rumahnya, di jalan Megamendung, Bogor. Selama tiga hari, pemerintah diam terkena shock. Akhirnya ada reaksi. Ada pimpinan kepolisian dicabut. Militer menyatakan sikap.

Lalu kita, kita orang Katolik, harus bersikap bagaimana? Yang jelas, kita jangan larut ikut emosi. Di saat seperti ini kita harus tahu diri. Penuh semangat mendukung berbagai reaksi malah bisa kontraproduktif. Kita tidak akan bisa menaikkan baliho HRS dan tidak akan menurunkan baliho HRS. Biar tanggapan hukum dan politik ditangani negara. Kepolisian dan TNI tidak perlu tepuk tangan kita.

Begitu pula, apakah fenomena HRS termasuk radikalisme agama atau tidak, bukan urusan kita. Itu tentu urusan komunitas Islam di Indonesia. Biar mereka sendiri menyikapi berbagai perwujudan dalam umat mereka.


Kita ikut ribut-ribut Pak HRS dan FPI itu hanya akan, sekali lagi, kontraproduktif.

Yang diharapkan dari kita umat Katolik Indonesia adalah terus membangun hubungan baik dengan umat Islam. Di situ perlu kita mensyukuri toleransi yang kita nikmati.

Toleransi? Memang, bisa ada dua tiga paroki yang diganggu perayaan Natalnya. Ada gereja yang tak bisa dibangun. Setahun paling-paling ada 20 atau 30 kasus intoleransi dalam wilayah seluas 5.000 km lebih, "dari Sabang sampai Merauke", dengan 270 juta warga! Sedangkan di semua tempat lain - dari Banda Aceh sampai Jayapura - umat-umat kita hidup, berkomunikasi, bekerja, dan beribadat tanpa takut! Kita harus mensyukuri toleransi bangsa Indonesia itu!

Tentu selalu akan ada masalah. Tetapi seharusnya kita mensyukuri integrasi kita umat Katolik dalam masyarakat Indonesia. Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, bersahabat dengan Pater van Lith di Muntilan. Para peserta Kongres Pemuda II 1928 - yang melahirkan Sumpah Pemuda - malah mulai pertemuan mereka dalam bangsal milik Pemuda Katolik.

Partai Masyumi bersahabat dengan Partai Katolik, PMKRI dengan HMI. Kita ingat peran dua sosok luar biasa, Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid, dalam membangun jaringan komunikasi dengan kita. Hubungan kita dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah belum pernah sebaik sekarang. Dengan sikap tahu diri, menghindar dari segala jor-joran, terbuka, positif dan rendah hari kita mendapat sahabat-sahabat dalam umat Islam yang dapat kita andalkan.

Dan satu hal mesti jelas: pemerintah dapat mengandalkan loyalitas kita. Kita bisa, dan kadang-kadang harus, kritis. Tetapi pemerintah boleh memperhitungkan kita (dan bukankah pemerintah Jokowi membawa kita secara lumayan bahkan dalam pandemi Covid-19?).

Sebaliknya, seruan seperti yang kita dengar sejak Agustus lalu, dan sekarang lagi: "Ambil Alih Pemerintahan ke tangan rakyat!"; "bersama Gerakan KAMI mari kita cabut mandat Jokowi'; "mari hancurkan pemerintahan oligarki ini! Sudah saatnya rakyat mengambil alih!" adalah seruan haram dan jahat.

Siapa yang mengangkat Anda untuk menggantikan pemerintah yang dipilih oleh rakyat sendiri?

Masa depan bangsa Indonesia tidak akan gampang. Krisis Covid-19 akan menuntut perubahan-perubahan yang pasti tetap ada korbannya. Sumbangan kita adalah agar di Indonesia tetap benar bahwa Bhinneka Tunggal Ika, "meski banyak kita bersatu".

Untuk itu kita harus menjadi kawan terpercaya umat-umat lain di Indonesia.

Pastor Franz Magnis-Suseno, SJ

Penulis adalah Guru Besar Emeritus STF Driyarkara, Jakarta. Artikel ini sebelumnya dimuat di Majalah Hidup dan pemuatan di Kantor Berita Politik RMOL atas izin dari penulis.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya